TimnasBatam (01/12) Anak kecil saja sangat paham akan pepatah nenek moyang kita: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Namun tidak bagi para petinggi sepakbola Indonesia, baik di kubu PSSI dan KPSI. Karena kepentingan kelompok, pribadi, dan bahkan bisnis dua kubu tidak bisa bersatu. Karena KPSI melarang pemain ISL bergabung di tim nasional, maka kekuatan timnas pincang. Akhirnya timnas gagal lolos ke seminal setelah kalah dari Malaysia 2-0.

Ketika Indonesia mampu mengalahkan Singapura dengan gol tunggal Andik Virmansyah di menit ke-87, harapan sudah membuncah di kalangan penggemar bola Indonesia. Walau pun masih ada nada pesimis. Perjuangan tanpa kenal lelah dan semangat pemain timnas patut diacungi jempol saat bertempur melawan Singapura.

Pun ketika melawan Malaysia, semangat tak kenal lelah tetap ditunjukkan oleh segenap pemain timnas sampai peluit akhir berbunyi. Apalagi di bawah tekanan suporter Malaysia yang terkenal garang dan provokatif. Sebagian besar pemain timnas adalah debutan baru di pertandingan internasional.

Penggemar bola yang menonton siaran langsung akan memiliki kesimpulan yang sama: pemain timnas sudah berjuang maksimal dengan kemampuan yang dimiliki. Apa yang sudah ditunjukkan oleh pemain timnas patut diacungi jempol. Walau kalah, pemain timnas tetap pahlawan. Nil Maizar juga tidak bisa dipersalahkan karena tidak memiliki pemain terbaik. Pemain terbaik ISL dilarang untuk bergabung oleh kubu KPSI.

Kita patut bertanya, apa yang ada di benak La Nyala dan kawan-kawan di kubu KPSI saat ini ketika timnas gagal lolos ke semifinal? Barangkali tertawa? Pada kondisi ini, layakkah mereka menyebut sebagai Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia? Komite yang mengaku sebagai penyelamat yang justru tidak mampu menyelamatkan harkat dan martabat bangsa!

Pun PSSI kubu Djohar Arifin harus melakukan introspeksi diri, sudah seharusnya berjiwa besar untuk menyelamatkan kondisi sepakbola Indonesia agar berprestasi. Masyarakat saat ini hanya mengetahui bahwa saling silang dua kubu pengurus sepakbola hanya didasari kepentingan pribadi dan bisnis. Tidak dalam koridor meningkatkan prestasi sepakbola. Apalagi mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Saya justru terharu dengan pernyataan Nil Maizar di akhir pertandingan (RCTI) bahwa ia mengambil alih kesalahan, bukan pemain. Karena pemain sudah bermain dengan semangat luar biasa.

Masyarakat bola hanya menginginkan sepakbola yang mampu berprestasi di pentas dunia, minimal ASEAN. Masih untung dalam pertandingan terakhir grup timnas Indonesia tidak menjadi bulan-bulanan Malaysia. Walau kalah 0-2, pemain masih menunjukkan perlawanan yang luar biasa. Engkaulah pahlawan, PSSI dan dan KPSI lah pecundangnya!