Akhir Juli 2012 ini BPKB DIY telah menyelesaikan pengkajian terhadap standar  kompetensi pedagogik instruktur kursus yang sudah dilakukan selama tiga bulan sejak Mei 2012. Pengkajian ini bertujuan untuk memetakan kompetensi pedagogik instruktur kursus. Instruktur kursus di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat 237 orang (BPKB DIY, 2009) dan baru 128 orang (54,01%) yang memenuhi kualifikasi minimal sarjana/DIV.  Sementara itu dari hasil berbagai diskusi kelompok terarah (focus group discussion) dan workshop tentang kompetensi instruktur yang diselenggarakan oleh BPKB DIY pada kurusn waktu 2009-2011 disimpulkan bahwa kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional masih perlu ditingkatkan.

Namun demikian sampai sekarang belum ada data empiris yang mendukung asumsi atau kesimpulan di atas. Oleh karena itulah agar memiliki pegangan yang kuat dalam melakukan tindakan atau upaya peningkatan mutu instruktur kursus diperlukan pemetaan kompetensi khususnya mengenai kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Mengingat kompetensi profesional ragamnya relatif banyak menyesuaikan dengan jenis program kursus, maka pada kesempatan kali ini dilakukan kajian terhadap kompetensi pedagogi instruktur kursus.

Pendekatan pengkajian yang digunakan adalah deskripktif kualitatif dengan metode survei. Adapun aspek yang ingin diungkap dalam pengkajian ini adalah kompetensi pedagogik instruktur kursus. Ekplorasi terhadap aspek-aspek yang dikaji diolah dan dianalisis untuk menemukan rekomendasi terhadap peningkatan kompetensi pedagogik instruktur kursus. Pengambilan sampel dalam pengkajian ini menggunakan teknik Propotional Random Sampling. Teknik proportional random sampling dimaksudkan agar pengambilan sampel yang dilakukan secara proporsional pada masing-masing jenis program kursus. Besar sampel ditetapkan sebesar 64 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan skala Likert dan pertanyaan tertutup yang dikembangkan dari draf standar kualifikasi dan kompetensi instruktur kursus.

Dalam rangka menganalisis data penelitian ini digunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Gejala dan data yang diperoleh dieksplorasi dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Pada tahap pertama subyek penelitian dikategorikan pada menurut aspek kompetensi pedagogik. Selanjutnya subyek penelitian diukur penguasaan kompetensi pedagogik dan dievaluasi berdasarkan kategori sekor ideal.

Responden sebanyak 64 orang instruktur terdiri dari 24 orang pria (37,5%) dan 40 orang wanita (62,5%). Responden diambil dari 5 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, walaupun didominasi oleh Kota Yogyakarta 21 orang (37,5%), Kabupaten Sleman 21 orang (32,8%), dan Bantul 11 orang (17,2%) namun tetap proporsional karena populasi lembaga kursus terbanyak pada ketiga kabupaten/kota tersebut. Sementara itu, responden dari Kulon Progo ada 7 orang (10,9%) dan Gunungkidul 1 orang (1,6%).

deskripsi-responden-1Kualifikasi pendidikan instruktur kursus yang menjadi respoden kajian masih rendah, hal ini ditunjukkan bahwa masih 53,1% yang berpendidikan di bawah sarjana. Masih banyak instruktur yang memiliki kualifikasi hanya SMA/SMK, bahkan pada jenis program teknologi misalnya otomotif. Padahal untuk rumpun teknologi membutuhkan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi agar dapat melakukan tranfer pengetahuan dan teknologi mengikuti perkembangan teknologi. Kemampuan tersebut sudah barang tentu akan sulit untuk dilakukan oleh instruktur yang berpendidikan rendah (SMA/SMK) karena kualifikasi SMA/SMK hanya bertindak sebagai operator bukan pengembang.

deskripsi-responden-2Kesesuaian ijazah pendidikan terakhir dengan jenis program kursus yang diampu hanya sebanyak 35,94%. Banyak instruktur yang diangkat berdasarkan pada hobi atau minat, tidak didasarkan pada program studi yang ditempuh sesuai dengan ijazah pendidikan terakhirnya. Kondisi ini akan melemahkan kualitas pembelajaran yang pada gilirannya akan melemahkan kualitas keluaran kursus.

Tingkat pemahaman responden terhadap standar kompetensi pedagogik instruktur kursus sudah baik. Kompetensi inti pedagogik instruktur dalam melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pelatihan termasuk kurang menonjol karena terdapat 50% yang termasuk kategori cukup dan 4,7% termasuk kategori kurang.

Kompetensi inti (1) menguasai karakteristik peserta pelatihan; (2) menguasai teori belajar dan prinsip pelatihan; (3) memfasilitasi pengembangan potensi peserta pelatihan; (4)berkomunikasi dengan peserta pelatihan secara efektif, empatik, dan santun; (5) menilai proses dan hasil serta dampak pelatihan; (6) memanfaatkan hasil evaluasi untuk kepentingan pelatihan; dan (7) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pelatihan masih terdapat responden yang termasuk kategori kurang.  Namun demikian secara agregat pemahaman standar kompetensi pedagogik menurut pengakuan responden termasuk dalam kategori baik (90,6%).

Butir kompetensi mengidentifikasi kemampuan awal peserta pelatihan tentang budaya kewirausahaan memiliki respon opsi tidak memahami dan kurang memahami relatif tinggi dibandingkan kompetensi lainnya, yaitu masing-masing 4,7% dan 14,1% atau kumulatif keduanya 18,8%. Hal ini menggambarkan bahwa hampir seperlima responden kompetensi dalam mengidentifikasi kemampuan awal masih kurang.

Demikian pula untuk kompetensi mengidentifikasi kesulitan peserta pelatihan dalam kaitannya dengan kemampuan berwirausaha yang relevan dengan bidang yang dilatihkan juga terdapat 15,6% responden yang menyatakan tidak paham (3,1%) dan kurang paham (12,5%).

Kompetensi memfasilitasi peserta pelatihan dengan berbagai kegiatan yang terkait dengan kewirausahaan juga memiliki respon yang tidak memahami dan kurang memahami cukup banyak (20,3%), yaitu masing-masing 3,1% dan 17,2%.

Ditinjau dari kompetensi inti menilai proses dan hasil serta dampak pelatihan, terdapat 12,5% responden yang kurang memahami kompetensi prinsip penilaian hasil belajar serta dampak pelatihan sesuai dengan karakteristik peserta pelatihan. Demikian pula masih terdapat responden yang kesulitan dalam mengembangkan instrumen penilaian proses belajar pelatihan, yaitu 1,6% tidak paham dan 10,9% yang kurang paham. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan responden dalam hal penilaian hasil belajar masih perlu ditingkatkan.

Bahwa penilaian hasil belajar belum memberikan dampak yang lebih luas terhadap kebijakan lembaga, tampak dari respon yang menyatakan bahwa terdapat 15,6% yang tidak dan kurang paham dalam mengkomunikasikan hasil evaluasi kepada pemangku kepentingan (stakeholders).

Kurangnya pemahaman pada butir-butir kompetensi inti di atas boleh jadi disebabkan karena instruktur belum mendapatkan bekal yang cukup baik dari pendidikan formal maupun dari pendidikan dan latihan (diklat). Hal tersebut dapat dipahami bahwa tidak lebih dari separoh yang memiliki kualifikasi sarjana dan itu pun tidak semuanya memiliki latar belakang kependidikan. Di samping itu fakta bahwa baru 25% yang pernah mengikuti pendidikan dan latihan peningkatan kompetensi instruktur kursus (bidang kompetensi pedagogik) memberikan gambaran bahwa pembekalan bagi instruktur dalam kompetensi pedagogik masih sangat minim.

Paparan Hasil Kajian Standar Kompetensi Pedagogik Instruktur