Asah Pena 002Yogyakarta (26/03) Silaturahmi komunitas sekolahrumah tunggal pada Jumat (22/03) dan pertemuan saya dengan Sekjen Pengurus Pusat Asosiasi Sekolahrumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena), Budi Trikorayanto, pada Minggu (24/03) benar-benar menjadi inspirasi bagi pamong belajar Indonesia. Bahwa pelaku sekolahrumah di Indonesia kecenderungan terus bertambah, namun tidak semua pelaku sekolahrumah termasuk pada kategori yang mapan secara ekonomi. Banyak yang memilih sekolahrumah karena idealisme, sosiologis, psikologis, bahkan karena pilihan ideologis.

Kehadiran pelaku sekolahrumah tunggal ke BPKB DIY pada hari Jumat (22/03/2013) membukakan mata bahwa banyak warga negara Indonesia yang membutuhkan pendampingan karena kurangnya informasi yang sampai pada mereka. Pelaku sekolahrumah tunggal yang mengalami kesulitan untuk mengikuti ujian nasional pasti banyak tersebar di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar, dimana fenomena sekolahrumah banyak berkembang.

Lebih dari itu pelaku sekolahrumah tunggal belum terjamah oleh pemerintah, baik dari sisi kebijakan maupun pembinaan. Memang ada di antara mereka yang ingin tidak terkooptasi oleh regulasi pemerintah. Namun jangan lupa bahwa pelaku sekolahrumah hidup di negara Republik Indonesia, sehingga pelaku sekolahrumah wajib mengikuti kurikulum pendidikan nasional.

“Praktek homeschooling di Indonesia ini terlalu liberal, bahkan hampir tidak terkontrol”, kata Budi Trikorayanto. Lebh lanjut Budi mengatakan bahwa di Amerika Serikat dan Perancis orang tua yang akan melakukan homeschooling dites dulu, harus memiliki sertifikat. Kemudian dalam pelaksanaannya dilakukan pemantauan dan pendampingan oleh public school yang ditunjuk. Ada guru yang mengunjungi keluarga yang menyelenggarakan homeschooling.

Di Indonesia sekolahrumah tunggal masih belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah. Hal mana proses pembelajaran, konten yang dibelajarkan menjadi tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Memang jalur pendidikan informal diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan nasional, namun bukan berarti bisa melaksanakan sesuai dengan keinginan sendiri terlepas dari tata nilai dan peraturan perundangan yang berlaku.

Jika sekolahrumah tunggal tidak dikontrol, atau dengan bahasa halus dibina, oleh pemerintah bisa jadi akan menjadi media untuk melakukan indoktrinasi oleh sebagian kelompok yang berseberangan dengan pemerintah. Bahkan berseberangan dengan tata nilai masyarakat pada umumnya. Karena kekhawatiran itulah, maka Jerman, Yunani dan Korea Selatan melarang praktek homeschooling. Prinsipnya di negara-negara tersebut semua anak harus sekolah. Sehingga kesadaran berbangsa dan bernegara tetap bisa ditumbuhkembangkan melalui institusi pendidikan.

Ketika pelaksanaan pelaksanaan sekolahrumah tunggal di Indonesia menjadi liberal seperti sekarang ini, siapa yang bisa menjamin terjadinya proses internalisasi semangat nasionalisme serta kesadaran berbangsa dan bernegara.

Karena itulah, pemerintah harus mulai melakukan pembinaan. Bukan memberangus sekolahrumah tunggal. Jangan sampai nanti ketika terjadi pembelokan sekolahrumah tunggal oleh sekelompok tertentu, baru pemerintah bertindak dengan memukul rata terhadap semua pelaku sekolahrumah tunggal. Masih banyak pelaku sekolahrumah yang memilih karena bukan alasan ideologis.

Inilah yang saya katakan menjadi peluang bagi pamong belajar dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Keberadaan pelaku sekolahrumah itu ibarat fenomena gunung es, banyak yang belum kelihatan. Di Yogyakarta saja diduga ada lebih 200-an anak yang belajar secara homeschooling. Fenomena tersebut di kota-kota besar yang lain juga pasti ada, dan bisa jadi di kota-kota kecil lainnya. Mereka ini adalah warga negara Indonesia yang harus mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan regulasi pemerintah. Pamong belajar dapat melakukan pendampingan kepada mereka agar bisa mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK).

Cara yang bisa dilakukan adalah mencatat dan mendaftarkan peserta didik sekolahrumah tunggal menjadi peserta didik satuan pendidikan kesetaraan, baik Paket A, Paket B maupun Paket C. Mereka bisa tetap melakukan pembelajaran dengan model sekolahrumah, namun secara berkala dilakukan pendampingan atau kunjungan sehingga tetap memenuhi standar isi dan standar proses pendidikan kesetaraan.

Ditinjau dari standar proses ada tiga pendekatan pembelajaran yang bisa dilakukan yaitu tatap muka, tutorial dan belajar mandiri. Salah jika dikatakan bahwa sekolahrumah itu melakukan pembelajaran murni dengan pendekatan mandiri. Karena ketika orang tua melakukan pembelajaran bagi anaknya merupakan bentuk tatap muka atau tutorial. Begitu pula ketika orang tua mengundang guru les ke rumah, juga merupakan bentuk pembelajaran tatap muka atau tutorial. Kegiatan belajar mandiri baru terjadi ketika guru les atau orang tua menugaskan anak untuk belajar sendiri pada standar kompetensi atau kompetensi dasar tertentu. Jadi belum tentu semua aktivitas belajar pesekolahrumah di rumah sendiri adalah belajar mandiri dalam konteks standar proses. Artinya pesekolahrumah tunggal pun bisa tetap memenuhi standar proses pendidikan kesetaraan.

Di sinilah pamong belajar dan SKB bisa mengambil peran untuk melakukan pendampingan agar pelaksanaan pembelajaran sekolahrumah tunggal bisa memenuhi standar nasional pendidikan. Oleh karena itu, sejak awal pertemuan dengan komunitas sekolahrumah tunggal saya menggandeng Sudijarto, salah satu pamong belajar SKB Yogyakarta yang sekaligus penyelenggara dan tutor pendidikan kesetaraan di SKB.

Atas responnya yang positif dan dibukanya pintu terbuka bagi pesekolahrumah tunggal Yogyakarta untuk bergabung di satuan pendidikan kesetaraan di SKB Yogyakarta, maka selanjutnya saya pertemukan Sudijarto dengan Sekjen Asah Pena Indonesia, Budi Trikorayanto. Jadilah pertemuan Minggu sore itu (24/03) di Hotel Talenta III Yogyakarta sebagai sumber inspirasi bagi pamong belajar dan SKB untuk berbuat bagi negara dan bangsa. Tanpa harus menunggu petunjuk atasan, tanpa harus menunggu pedoman atau petunjuk teknis.

Petunjuk dan pedoman kita adalah masalah, masalah yang harus segera diselesaikan agar layanan pendidikan anak bangsa tidak terabaikan.

Di sinilah pamong belajar harus bisa memaknai tiga tugas pokoknya, yaitu melakukan kegiatan belajar mengajar, pengkajian program dan pengembangan model. Jika kita masih konsisten dengan tugas pokok melakukan pengkajian program. Di sinilah kita diuji untuk menganalisis bagaimana semua ini bisa terjadi dan bagaimana alternatif solusinya. Ketika kita masih konsisten dengan tugas pokok melakukan pengembangan model, di sinilah kita diuji untuk melakukan pengembangan model dalam arti yang sesungguhnya. Program pendampingan yang dimodelkan bagi pesekolahrumah akan langsung diterapkan.

Bagaimana pamong belajar dan SKB se-Indonesia?