PB IISuatu hari di tahun 1745, diam-diam Sunan Paku Buwana II memanggil Pangeran Mangkubumi. Dihadapan Adinda kesayangannya itu dengan jujur dan rendah hati diakui suatu kekhilafan dan keterlanjuran.  Saat mengungsi ke Ponorogo, telah disetujui penyerahan kedaulatan kerajaan sebagai ganti keselamatan dan kembalinya tahta. Dicabut tidaklah pantas, dilaksanakan berarti lenyapnya kedaulatan. Titahnya singkat, “Kupercayakan keselamatan dan masa depan Surakarta kepadamu. Rebutlah tahta Mataram dari tangan Belanda.”

Betapa terperanjat, galau, kecewa dan marahnya Sang Pangeran. Belum lenyap dari ingatan, ia bertempur habis-habisan mempertahankan istana Kartasura. Bahkan harus diterimanya pula kekalahan di hadapan pemberontak, asal raja selamat. Ternyata negara yang dibelanya mati-matian telah tergadaikan. Kini justru tanggung jawab penebusan keselamatan dan masa depan Mataram harus ia pikul sendiri tanpa mengerti cara melakukannya.

Martabat jiwa ksatria yang dihayatinya benar-benar diuji. Sang Arjuna dengan sabar menghormati keputusan raja. Lebih dari itu, ia patuh, taat dan setia kepada Negara seperti apapun keadaannya. Tidak hanya keberanian mengalahkan diri sendiri yang dibutuhkan, tetapi juga keteguhan dan kecakapan seorang Mangkubumi sangat diandalkan. Dengan jiwa besar ia sanggupi amanat Kakanda Sunan. Bila gagal, ia akan tewas tanpa nama atau hidup tanpa kehormatan. Jika berhasil, ia tanpa bukti, tanpa saksi dan tanpa pujian. Andaikata ada yang mengerti dan peduli, hanyalah akan menerbitkan misteri.

1 hb1Tahta tampak seperti telah kembali, bahkan istana baru telah dibangun. Titik-titik api pemberontakan masih membara. Selain Pangeran Samber Nyawa, masih ada tokoh-tokoh lain yang juga saudara raja. Di antaranya  yaitu Pangeran Singasari dan Tumenggung Martapura yang bergelar Adipati Puger. Tidak ada seorang Bupati dan panglima keraton yang berani melawan Martapura. Selain bangsawan angkatan sepuh kerabat kerajaan yang dihormati, siasat dan kematangan tempurnya layak disegani.

Pangeran Mangkubumi mengajukan diri menandingi Tumenggung Martapura, tetapi Patih Pringgalaya tidak setuju. Alasannya, terlalu berbahaya, mengingat kedudukan Mangkubumi adalah wakil raja. Tentu keberatan Patih Pringgalaya itu bukan tanpa perhitungan. Jika Pangeran Mangkubumi yang maju perang, kemungkinan besar Martapura akan menyerah. Itulah yang sesungguhnya ingin ia hindarkan, agar Sunan semakin terjepit sementara Mangkubumi tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, meski sikap Patih tersebut nyata-nyata ganjil, Sunan tidak langsung mengambil sikap. Pisowanan bubar tanpa keputusan.

Tanpa sepengetahuan Patih, Sunan mengijinkan Mangkubumi memimpin penumpasan pemberontak paling berbahaya. Itulah yang diharap-harapkan Tumenggung Martapura. Ia benar-benar hendak mengukur dan membuktikan kemampuan Senapati Surakarta. Pangeran Mangkubumi menggunakan siasat menang tanpa merendahkan. Maka ia keluar keraton bersama Ibundanya yaitu BMA Tejawati. Lalu dibangunlah pesanggrahan tidak jauh dari pusat kekuatan Martapura di Sukawati. Mereka tinggal di situ bak pengungsian sementara. Pasukan Mangkubumipun tidak seberapa, hanya 100 orang. Jadi, lebih layak dianggap abdi dalem pengawal bangsawan istana. Mungkinkah ia mampu melawan pamannya sendiri yaitu Tumenggung Martapura yang disebut Adipati Puger itu? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan