pancasilaYogyakarta (1/10) Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kesaktian Pancasila dimaknai sebagai mempunyai kekuatan linuwih dalam menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan PKI. Namun demikian kesaktian Pancasila saat ini diuji ketika kondisi bangsa sedang terpuruk secara moral. Korupsi meraja lela di kalangan usia dewasa, tawuran sudah menjadi tradisi bagi kalangan remaja. Padahal Pancasila mengandung nilai-nilai yang berakar pada kearifan budaya dan karakter bangsa yang turun menurun.

Saya masih ingat ketika mengikuti penataran P4 di era orde baru. Penatar menguraikan butir-butir Pancasila yang harus diamalkan oleh setiap insan Indonesia agar menjadi masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera berdasarkan cita-cita Proklamasi 1945. Namun sayang, butir-butir Pancasila yang sarat dengan nilai moral hanya sebatas hapalan dan pengetahuan saja, belum sampai pada keteladanan dan pembiasaan kepada anak sejak usia dini.

Ketika keteladanan dan pembiasaan tidak dilakukan maka karakter anak tidak akan terbentuk dengan baik.

Contoh kecil saja ada dua butir dari sila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” terdapat tiga butir yang kontradiktif dengan situasi bangsa akhir-akhir ini, yaitu (1) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia; (2) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira; (3) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Ketiga butir tersebut merupakan bagian dari butir ke-3 sampai dengan ke-5 dari sila ketiga Pancasila.

Orang tua yang sekarang anak-anaknya terlibat tawuran antar pelajar, pasti pernah mengikuti Penataran P4 dan mendapatkan penjelasan tentang uraian ketiga butir tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Sayang Penataran P4 hanya sebatas doktrinasi, bukan internalisasi nilai dan moral. Sehingga tidak terjadi proses pemberian keteladanan dan pembiasaan pada generasi muda berikutnya. Padahal nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat luhur.

Konon ada cerita bahwa jalur bis kota tertentu di Jakarta hanya boleh dinaiki oleh pelajar sekolah tertentu, alias jalur bis kota tersebut dikuasai oleh pelajar sekolah tertentu. Ketika ada pelajar sekolah lain yang hendak naik bis tersebut pasti diusir, jika memaksa naik pasti terjadi keributan dan bisa jadi berujung pada perkelahian. Sikap pelajar ini sudah menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki sikap saling tenggang rasa dan tepa selira. Juga sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. Bis kota adalah angkutan umum dimana setiap orang berhak menaiki.

Anak-anak dan remaja menjadi beringas dan anarkis serta tidak bisa menerima perbedaan diakibatkan pendidikan yang diterima sejak usia dini tidak berlangsung dengan optimal di keluarga. Anak dibiarkan tumbuh dan berkembang secara bebas nilai, karena ketiadaan keteladanan dan pembiasaan di keluarga.

Ketika kesaktian Pancasila diperingati hari ini, semestinya kita juga bertanya apakah Pancasila masih sakti? Karena kehidupan bernegara diawali dari keluarga. Kehidupan di keluarga harus diinternalisasikan nilai-nilai keagamaan serta nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Mengajarkan anak melakukan kehidupan sosial sejak dini.

Kesaktian terletak pada senjata bernama Pancasila, dan ketika manusia yang memegang senjata tersebut tidak bisa menggunakan maka kesaktian itu tidak akan menjelma.