PB Kabupaten MalangYogyakarta (21/09/2015) Rencana perubahan Sangar Kegiatan Belajar menjadi satuan pendidikan akan membawa implikasi kepada pamong belajar. Sanggar Kegiatan Belajar akan menyelenggarakan berbagai program layanan pendidikan nonformal dan pamong belajar bertindak sebagai pendidik. Ada usulan pamong belajar di Sanggar Kegiatan Belajar menjadi guru pendidikan nonformal.

Secara filosofis munculnya pamong belajar merupakan mediator atau mempertemukan antara calon peserta didik (sasaran program pendidikan nonformal) dengan narasumber atau pendidik. Pada awalnya pamong belajar dalam ketugasannya tidak harus menjadi pendidik pada kelompok belajar atau satuan pendidikan yang dibentuk.

Karena itulah tugas pertama pamong belajar adalah melakukan identifikasi penyelenggaraan program pendidikan nonformal. Aspek yang diidentifikasi antara kebutuhan belajar, calon sasaran program, sumber daya termasuk calon narasumber/pendidk. Inilah yang membedakan tugas pamong belajar dengan guru. Ketika di suatu desa terdapat kebutuhan belajar keaksaraan atau kesetaraan, boleh jadi pamong belajar juga menemukan adanya sumber daya manusia yang bisa dijadikan tutor. Maka pamong belajar akan mendorong atau memotivasi mereka untuk menjadi tutor, tidak harus pamong belajar yang bertindak sebagai pendidik.

Begitu seterusnya pamong belajar melakukan blusukan ke desa-desa di wilayah kerjanya melakukan identifikasi kebutuhan belajar, memediasi antara calon peserta didik dan narasumber, dan membentuk kelompok belajar.

Paradigma tugas pamong belajar tersebut masih bisa dilaksanakan hingga menjelang tahun 2000. Kini ketika secara faktual Sanggar Kegiatan Belajar berfungsi sebagai satuan pendidikan, pamong belajar lebih banyak bertindak sebagai pengelola program dan pendidik pada layanan program pendidikan nonformal di dalam kampus. Sangat jarang pamong belajar yang melakukan identifikasi secara “blusukan” ke desa-desa di wilayah kerjanya. Hal tersebut juga dipengaruhi bahwa pada era 2000 sudah muncul Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sehingga kebutuhan belajar masyarakat di suatu desa diakomodasi PKBM.

Akhirnya aktivitas layanan program di Sanggar Kegiatan Belajar lebih banyak berada di kampus. Pamong belajar tidak lagi menjalankan fungsinya seperti ketika pertama kali jabatan ini dibentuk. Telah terjadi pergeseran filosofis pelaksanaan tugas pamong belajar.

Kini ketika mengemuka perubahan Sanggar Kegiatan Belajar menjadi satuan pendidikan nonformal, muncul usulan pamong belajar dirubah nomenklaturnya menjadi guru pendidikan nonformal. Perubahan nomenklatur ini boleh jadi upaya untuk mencocokkan dengan fakta di lapangan apa yang dilakukan sesungguhnya oleh pamong belajar saat ini. Telah terjadi penyempitan tugas pamong belajar hanya menjadi pendidik atau guru saja, tidak lagi seperti ketika awal terbentuknya dulu.

Munculnya banyak satuan pendidikan nonformal seperti pusat kegiatan belajar masyarakat, kelompok bermain, tempat penitipan anak, lembaga kursus dan pelatihan menjadikan tugas fungsi pamong belajar secara ideal tidak lagi diimplementasikan sepeti dulu. Dulu, pamong belajar bahkan menerapkan pendekatan partisipatory rural appraisal (PRA) dalam melakukan identifikasi kebutuhan belajar. Kini tidak perlu lagi karena sudah banyak satuan pendidikan nonformal di tengah masyarakat. Situasi memang sudah berubah. Walaupun pada kondisi tertentu pendekatan tersebut masih perlu dilakukan ketika belum banyak kehadiran satuan pendidikan nonformal di tengah masyarakat. Atau memberikan bimbingan kepada satuan pendidikan tersebut, utamanya PKBM, untuk melakukan PRA.

Praksis perubahan pamong belajar menjadi guru nonformal dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan kesejahteraan antara guru dan pamong belajar. Memasukkan pamong belajar ke dalam Undang-Undang Guru dan Dosen lebih berliku dan panjang dibandingkan merubah nomenklatur menjadi guru pendidikan nonformal. Walaupun nomenklatur guru pendidikan nonformal juga harus dimaksukkan ke dalam UU Guru dan Dosen. Jika ini yang menjadikan alasan, maka sebenarnya sangat sempit bahkan boleh jadi akan menjadi jebakan batman bagi pamong belajar Sanggar Kegiatan Belajar. Masuknya guru pendidikan nonformal boleh jadi akan menyulitkan dalam skema sertifikasi terkait misalnya kualifikasi pendidikan formal pamong belajar yang banyak tidak sesuai dengan bidang yang diampu, belum lagi masalah beban kerja yang belum tentu bisa terpenuhi. Padahal tunjangan profesi guru mensyaratkan beban kerja yang tidak bisa ditawar dan terkesan membelenggu bagi guru (formal).

Jangan sampai pamong belajar hanya tergiur dengan adanya tunjangan profesi guru kemudian bersemangat untuk merubah dirinya menjadi guru pendidikan nonformal. Boleh jadi hanya akan menciptakan jebakan batman.