pamong-belajar-ngeblogJika kita bertanya pada mbah Google dengan kata-kata kunci seputar pendidikan nonformal sangat sedikit tulisan atau postingan yang ditulis oleh pamong belajar. Sementara itu situs atau blog yang dimiliki oleh SKB/BPKB lebih banyak berisi berita atau info seputar kegiatan lembaga, masih sedikit artikel yang ditulis oleh pamong belajar. Dan masih sangat sedikit pamong belajar yang memiliki blog prbadi. Padahal pamong belajar memiliki banyak pengalaman dan persoalan yang dihadapi ketika melaksanakan tugas pokoknya baik sebagai pendidik, pengembang model ataupun pengkaji program pendidikan nonformal dan informal (PNFI) yang dapat diangkat ke dalam tulisan.

Kewajiban pamong belajar untuk mengumpulkan angka kredit dari sub unsur pengembangan profesi bisa menjadikan momentum pamong belajar untuk ngeblog. Lho koq bisa? Apakah tulisan yang diposting di blog bisa diakui sebagai karya tulis atau makalah hasil gagasan sendiri dan mendapatkan angka kredit? Karya tulis yang diposting di blog memang tidak diakui sebagai karya tulis yang mendapatkan angka kredit. Tapi jangan lantas hal ini membuat pamong belajar surut untuk ngeblog.

Ada beberapa manfaat ngeblog bagi pamong belajar. Pertama, ngeblog bisa dijadikan media untuk melatih kemampuan menulis. Kemampuan menulis akan sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. Kemampuan menulis tidak hanya kemampuan menuangkan pikiran kita ke dalam bentuk kalimat bahasa tulis, tetapi juga mengasah kemampuan mencari inspirasi tema atau topik tulisan. Pamong belajar yang ngeblog akan terbiasa untuk menemukan inspirasi untuk ditulis berdasarkan pengalaman yang ditemukan dalam melaksanakan tugas pokoknya. Dengan demikian kelancaran ngeblog akan membantu untuk kelancaran pamong belajar dalam melakukan pengembangan profesi. Bahkan tulisan yang pernah ditulis di blog bisa diangkat dan dikembangkan menjadi bentuk karya tulis ilmiah disesuaikan dengan format yang sudah dibakukan.

Kedua, pamong belajar yang ngeblog berarti dia sudah berbagi pengalaman melalui dunia maya. Tulisan pamong belajar dalam blog bisa diakses oleh semua orang tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Persoalannya, masih ada sebagian pamong belajar yang berkehendak menulis jika ada honornya. Hal ini juga akan membatasi kreativitas dan motivasi ngeblog. Prinsip blogging adalah berbagi. Dengan berbagi berarti kita menebar kebaikan, jika yang kita bagikan adalah kebaikan. Dan insya Allah kita akan mendapatkan honorarium yang nanti akan kita terima di akhirat nanti. Amin.

Ketiga, pamong belajar ngeblog berarti memasyarakatkan kegiatan yang sudah, sedang, dan akan dilakukan oleh pamong belajar. Semakin banyak blog yang dikelola oleh pamong belajar berarti akan semakin mendekatkan pamong belajar di tengah masyarakat. Pamong belajar dan aktivitasnya akan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Diharapkan kelak tidak ada lagi pertanyaan: apa bedanya pamong belajar dengan pamong desa dan bedanya dengan polisi pamong praja?

Keempat, blog pamong belajar juga bisa dijadikan salah satu bentuk akuntabilitas kinerja pamong belajar kepada masyarakat. Masyarakat bisa melihat dan menilai apa yang dilakukan oleh pamong belajar. Dengan demikian masyarakat bisa menilai bahwa pamong belajar memberi kontribusi terhadap pendidikan nonformal dan masyarakat luas pada umumnya.

Jika kualitas tulisan pada blog memadai dan temanya sesuai dengan kriteria penilaian angka kredit, tidak tertutup kemungkinan bisa dijadikan bentuk karya tulis. Peluang pertama seperti yang sudah saya ungkapkan alenia ketiga di atas. Peluang kedua adalah dengan mengumpulkan tulisan ke dalam bentuk buku dan dilakukan editing seperlunya. Jadilah kumpulan hasil postingan menjadi karya tulis ilmiah pamong belajar dalam bentuk. Butir angka kredit yang bisa dibidik adalah menyusun makalah berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan non formal dan informal yang tidak dipublikasikan, didokumentasikan di perpustaan lembaga yang bersangkutan dalam bentuk buku dengan angka kredit 7 (tujuh). Besar bukan angkanya. Sudah barang tentu perlu kerja keras dan ketekunan untuk menulis dan mengumpulkan tulisan sesuai dengan kriteria baku karya tulis.

Sebagian besar blogger mengatakan bahwa menulis blog sebenarnya tidak mensyaratkan bakat menulis, tetapi kemauan. Kemauan atau niat menjadi prasyarat utama untuk ngebog. Jika ada niat dan keberanian menulis maka jadilah blog pamong belajar. Di samping itu dengan ngeblog akan meningkatkan kecerdasan linguistik. Seorang bloger menjelaskan bahwa aktifitas ngeblog tidak bisa dilepaskan dari aktivitas menulis dan membaca. Artinya, ngeblog secara sadar atau tidak membantu dalam meningkatkan kecerdasan linguistik kita.

Ngeblog praktis tidak membutuhkan biaya banyak, apalagi sebagian besar SKB/BPKB/BPNFI/P2PNFI memiliki akses internet. Sementara itu banyak provider yang menawarkan blog gratisan bisa menggunakan platform blogdetik, blogspot atau pun wordpress. Sehingga tidak ada kendala yang berarti bagi pamong belajar untuk melakukan blogging.

Lalu kenapa kita harus menunggu. Kalau kita masih menunggu, kita akan ketinggalan kereta dan akan tergerus oleh jaman! Ayo kita bisa, bisa ngeblog!