fauziOleh Edi Basuki (Humas PP IPABI)

Untuk membagi rasa galaunya, Fauzi mencoba mengajak pamong belajar (yang mau membaca) untuk mencermati aneka ketidak adilan yang selalu mendera keberadaan pegiat PNF, diantaranya, masih kata Fauzi dalam tulisannya, sejak nomenklatur birokrasi kementerian yang mengurusi pendidikan menggunakan pendekatatan satuan pendidikan dan jenjang pendidikan. Hal inilah yang menyebabkan tenggalamnya satuan dan program pendidikan nonformal diketiak PAUD. Ditjen yang mengurusi pendidikan nonformal diubah menjadi PAUDNI sejak Januari 2010. Pendidikan nonformal dan informal tenggelam di tengah hingar bingar dan eforia program pendidikan anak usia dini (yang digelontor dana besar,Red). Termasuk usulan IPABI sejak tahun 2010 untuk memasukkan ayat tentang pamong belajar dalam perubahan PP 32 Tahun 2013, ternyata tidak diperhatikan.

Dari paparan diatas, mantan Ketua Umum PP IPABI, bermaksud menyadarkan para pegiat PNF akan keberadaannya yang selalu di dzolimi oleh yang punya kuasa, untuk kemudian bergerak menuju direktorat, mempertanyakan nasib yang selama ini kurang diperhatian secara adil dan merata. Padahal, dana pemerintah yang dikucurkan untuk direktorat ini sungguh tidak sedikit.

Ajakan pun gayung bersambut, seperti yang diinfokan oleh Fauzi, bahwa,  “Besok pagi, Kamis 13 Juni 2013, Ketua III DPP HPTIK PNF Lilik Subaryanto akan konsultasi ke Badan PSDMP di Senayan Jakarta untuk menanyakan akses NUPTK jalur pendidikan nonformal.”

“Alhamdulillah, hanya dalam hitungan jam banyak asosiasi/forum tingkat pusat yang akan mengutus perwakilan: HPTIK PNF, IPABI, IPI, HIPKI, Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan, Forum Komunikasi Tutor Keaksaraan, HISPPI, FK PKBM, dan HIMPAUDI. Masih ditunggu konfirmasi dari Asah Pena, Taman Bacaan Masyarakat. Mohon semuanya kumpul dulu di lobbi Gedung D Komplek Kemdikbud, Kamis 13/06 pukul 09.00. Setelah lengkap ramai ke atas. Tunjukkan bahwa kita itu ada! Kita bukanlah sekedar pelengkap dan pengganti! BERSATU KITA BISA! Merdeka!!!,” Tulisnya penuh semangat karena bisa menggerakkan beberapa pengurus asosiasi untuk berpartisipasi mengawal Lilik Subaryanto yang punya nyali besar nglurug direktorat.

Namanya juga coba-coba, maka hasilnya pun belum maksimal, mereka tidak boleh masuk secara rombongan, hanya boleh masuk satu per satu, dan diping-pong di lantai 16, gedung D, kompleks Senayan Jakarta. Intinya, Badan PSDMP tidak mengurusi NUPTK nonformal. Diminta untuk “mengadu” ke Ditjen PAUDNI. Direktur PPTK hanya mengatakan bahwa dirinya akan menyurati pihak PSDMP sesuai masukan dari asosiasi/forum. Namun, dari salah satu pejabat di Dit PPTK PAUDNI mengatakan bahwa mulai Juli 2013 akan disosialisasikan NIPTK (Nomor Induk Pendidik dan Tenaga Kependidikan?). Nah Lho?, padahal Juli sebentar lagi berbarengan dengan bulan puasa ramadhan.

Mungkin, sebagai Ketua Umum DPP HPTIK-PNF, perlu melakukan konsolidasi lagi untuk menggelar aksi berikutnya, tentunya dengan personil yang lebih besar. Ini harus cepat dilakukan, mengingat usia rezim yang berkuasa tinggal hitungan bulan. Wacana pun harus lebih sering diposting, agar pembacanya sadar, bahwa kini sudah waktunya bergerak, membangun aliansi untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan yang merugikan pegiat PNF. Ataukah harus diam terus, dan terus diam terkooptasi?

Sayang, ajakan berjuang dari sesepuh pamong belajar ini bakalan bertepuk sebelah tangan. Karena, tidak semua pamong belajar merasa didzolimi. Banyak pamong belajar yang sudah merasa nyaman dan tidak perlu ikut terlibat aktif dalam organisasi IPABI, yang sampai saat ini belum menampakkan diri sebagai organisasi yang dibutuhkan oleh semua pamong belajar. Tidak sedikit pamong belajar yang sibuk sendiri mendulang rejeki, walau harus menyikut kanan kiri, yang penting bisa mengangkangi rejeki aneka instansi.

Artinya, sebagai Ketua Umum DPP HPTIK-PNF, Fauzi dihimbau agar tidak terlalu berharap pamong belajar punya nyali untuk beraksi, karena analisa untung rugi tidak sesuai di hati. Mungkin ini juga berlaku di kalangan asosiasi/forum lain. Hal ini bisa dilihat dari komen-komen nakal dan cerdas, yang muncul di media jejaring sosial. Sangat sedikit yang menulis tentang gagasan perubahan dan perbaikan profesi pegiat PNF. Tentang perlunya peningkatan eksistensi pegiat PNF dimata instansi lintas sektoral.

Yang sering muncul di media jejaring sosial, sebagian besar mengambil jalan aman, bersikap abstain, sibuk dengan dirinya sendiri, karena rasa peduli kepada sesama telah lama mati. Sibuk berbagi rejeki dengan kroninya, mengabaikan azas pemerataan yang berkeadilan.

Ya, Fauzi pun galau dengan hasil pertemuan itu. Hal itu tersirat dalam tulisannya yang mengatakan,  Luar biasa memang Republik Indonesia ini! Atau inilah implementasi nyata dari pasal 26 ayat 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan nonformal hanyalah sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal itu hanya pengganti dan pelengkap. Ibarat sepakbola, jika starting eleven bisa bermain sampai selesainya pertandingan, maka pemain pengganti tidak dibutuhkan, duduk manis di bangku cadangan. Ya, Fauzi pantas bergalau ria, namun juga harus tetap berterimakasih kepada Lilik dan mereka yang bernyali besar.

Mengingat usia rezim tinggal beberapa bulan, ibaratnya, Ibu pertiwi sedang hamil tua, maka harus bergerak cepat membuat aksi atau akan tetap begini?. Wassalam. [eBas]

Sumbangan tulisan pihak ketiga belum tentu menggambarkan pandangan atau sikap pemilik blog.