genusYogyakarta (21/09) Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pamong bermakna (1) pengasuh; (2) pendidik (guru); (3) pengurus. Makna pengurus dalam artian pamong desa yaitu pengurus pemerintahan desa. Sedangkan kata pamong jika diikuti dengan pamong belajar dapat diberi makna orang yang mengasuh atau mendidik warga masyarakat yang belajar. Jadi sebenarnya secara etimologis pengertian pamong belajar mengandung makna pendidik. Dibedakan dengan guru, pendidik pada sekolah atau jalur pendidikan formal, sedangkan pamong belajar adalah pendidik pada jalur pendidikan nonformal.

Persoalannya pada jalur pendidikan nonformal sebutan pendidik melekat pada satuan pendidikannya. Misalnya, instruktur adalah sebutan pendidik pada satuan pendidikan kursus dan pelatihan. Tutor sebutan bagi pendidik pada satuan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan (Kejar Paket A, B, dan C). Guru sebutan untuk satuan pendidikan anak usia dini, disamping ada sebutan guru pendamping, dan pengasuh.

Satuan pendidikan nonformal yang melekat pada pamong belajar apa? Tidak ada. Pamong belajar berkedudukan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) kabupaten/kota, Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) atau UPTD sejenis di provinsi, serta Balai Pengembangan PAUDNI (BPPAUDNI) dan Pusat Pengembangan PAUDNI (P2PAUDNI) sebagai UPT pusat (instansi vertikal). Lembaga atau satuan kerja yang disebutkan tadi bukan satuan pendidikan. SKB, BPKB, BPPAUDNI dan P2PAUDNI bukan satuan pendidikan.

Sanggar Kegiatan Belajar menyelenggarakan berbagai program pendidikan nonformal, sehingga SKB memiliki satuan pendidikan kelompok bermain, kursus, kelompok keaksaraan dan Kejar Paket A, B, C. Ketika pamong belajar ditugasi oleh pimpinan untuk mengampu di Kejar Paket C, maka ia menjadi tutor. Ketika pimpinan menugaskan menjadi pendidik PAUD maka ia menjadi guru PAUD. Pada kursus keterampilan yang diselenggarakan oleh SKB, pamong belajar bertindak sebagai instruktur. Walaupun mereka ini melaksanakan salah satu tugas pokoknya sebagai pamong belajar, yaitu melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bidang pendidikan nonformal.

Karena itulah saya lebih suka menyebut bahwa pamong belajar itu, meminjam ilmu biologi, sebagai genus. Bukan spesies. Genus pendidik di jalur pendidikan nonformal.

Pamong belajar sebagai genus masih diperuwet lagi dengan dua tugas pokok lagi yaitu sebagai pengembang model dan pengkaji program. Seharusnya kedua tugas terakhir ini memberikan nilai tawar kepada pamong belajar dalam upaya memperjuangkan nasibnya. Pamong belajar bisa berdalih bahwa tugas pokok pengembangan model dan pengkajian, yang rincian kegiatannya mirip dengan penelitian, minta disejajarkan dengan dosen yang memiliki tugas penelitian. Tapi boro-boro disejajarkan dengan dosen, dengan guru pun belum sejajar nasib dan kesejahteraannya.

Status pamong belajar sebagai genus itulah yang menyebabkan tingginya kesulitan memfinalisasi draf standar kualifikasi dan kompetensi pamong belajar. Informasi terakhir yang diperoleh rumusan kompetensi inti dan kompetensi pada draf standar kompetensi perlu ditata ulang. Ketika usulan merubah sebutan pamong belajar menjadi guru nonformal menyeruak sempat menjadi perdebatan hangat.

Namun sebutan tidaklah menjadi penting, hal yang penting adalah nasib dan kesejahteraan pamong belajar yang lebih baik. Perbaikan nasib itu harus dimulai dari diri pamong belajar, untuk tidak sekedar menjadi genus namun menjadi spesies. Spesies pendidik yang benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, tidak sekedar menjadi pengelola program satuan pendidikan nonformal.