ToT Paket C 2Oleh Kurtubi Zaenal

Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, PhD menyatakan bahwa pembinaan Paket C selama ini bukan untuk diformalkan tetapi untuk meningkatkan mutunya.

“Persepsi masyarakat yg membedakan antara Paket C dan SMA. Padahal dalam hal ini mereka setara. Tidak perlu diterjemahkan lagi setara adalah sama.” jelasnya, pada pembukaan T.O.T Supervisi Penyelenggaraan Paket C tahun 2014, 9-11, di Hotel Preanger Bandung. 

Hadir pada pelaksanaan TOT Supervisi ini para pengawas SMA dari berbagai kota dari unsur Direktorat, Widyaiswara, dan dari unsur pelaksana pendidikan nonformal sendiri. Sebanyak 24 calon supervisor ini diberikan pembinaan teknis dan pembahasan instrumen yang ada untuk selanjutnya akan melakukan kegiatan supervisi di 50 SKB dan PKBM Negeri di 50 kota selama bulan September ini, 

Lebih lanjut Harris Iskandar menyebutkan jumlah pelaksana pendidikan nonformal ada 4341 jumlahnya sedangkan yangg diakreditasi hanya 3,1% saja. 3,1% ini Syarat akreditasinya belum memiliki 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP). 

“yang paling rentan pada praktek penyelenggaraan Paket C itu pada standar prosesnya. Banyak iklan di internet yg secara vulgar menyampaikan dengan tarif harga, langsung ujian dan dijamin lulus, dan harganya ada yang sampai 5 juta.” tuturnya. 

Harris berharap penyelenggara Paket C yang mendapat bantuan ini perlu dicek baik eksistensinya antara rencana dan realisasinya, dan juga sarana dan prsarana juga masih kurang, karenanya sangat dimungkinkan sinergi antara Program Kesetaraan ini dengan sekolah formal. 

“Kami ingin dengan integrasi ini ada sinergi di lapangan antara fasilitas sekolah dengan PKBM.” Ungkapnya. 

Dalam penjelasanya, PKBM yang berada di daerah dapat menggunakan sarana yg ada di sekolah formal. Jangan sampai ada kejadian yang sangat ironis di mana ada ada bangunan SMP dengan areal yang sangat luas sekitar 3 hektar sementara di sekolah itu ada program Paket B justru berada di rumah penjaga sekolah dengan membuka kelas di pager rumahnya. Katanya menggunakan fasilitas yang ada di sekolah itu dilarang oleh kepala sekolah. Padahal mereka drop out dari sekolah itu. 

Tujuan Paket C 
Paket C merupakan program yang sifatnya less academic more practical meskipun ini lebih mirip kepada SMK, menurut Direktur Pembinaan SMA ini, tidak masalah jika setara dengan SMA bukan kepada SMK (karena ini arah yg mirip). 

Untuk tahun 2015 ini pertaruhan tersendiri Paket C ini program masa depan, kalau ini negara maju dan programnya modern, dan ini merupakan program life long education. “Kalau kita sudah tidak punya waktu untuk sekolah maka Paket C ini sangat bagus bahkan Unesco sangat mengapresi terhadap Paket A B dan C di Indonesia. Mereka memuji dan mengembangakan dan ditiru di negara-negara lian.” katanya.

“Saya kira Paket C ini akan hidup terus dan kita bisa tunjukan kepada dunia, bahwa paket C ini ternyata bagus. Mengarahkan ke arah yg benar dan benar sehingga menjadi bagus”, pungkasnya.

Kurtubi ZaenalKurtubi Zaenal, Tutor PKBM Negeri 26 Bintaro Jakarta Selatan dan Litbang HPTIK PNF Pusat.