Sumber foto: http://ppdarussalammtp.blogspot.com/

Sumber foto: http://ppdarussalammtp.blogspot.com/

Yogyakarta (3/12) Masih ingat dengan gagasan Kyai  Mansur pimpinan Pondok Pesantren Ushuluddin, Dusun Bawang, Desa  Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang datang ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Salaman Kabupaten Magelang? Kyai Mansur mengatakan bahwa beliau punya sebanyak 29 santri yang ingin belajar pendidikan umum melalui program Paket C.

Akhirnya Drs. Sri Purnanto, Kepala SKB Salaman waktu itu, memutuskan untuk menyelenggarakan program Paket C di Pondok Pesantren Ushuludin sebagai binaan SKB Salaman. Kemudian ditugaskan enam orang pamong belajar untuk melaksanakan tugas sebagai tutor. Keenam tutor ini menjalankan tugas tanpa diberikan honorarium. Jadilah mereka ini menjadi sukarelawan tutor pada program Paket C di pondok pesantren. Benar-benar sebagai sukarelawan karena tanpa honorarium atau uang transport, dan harus menjangkau lokasi di kaki pegunungan Menoreh di pinggiran laguna kali Tangsi yang sejuk dan rimbun.

Program Paket C berlangsung selama tiga tahun sejak tahun 2008 hingga 2011, sampai akhirnya ke-29 orang santri mengikuti Ujian Nasional Program Paket C (dulu namanya UNPP). Menariknya program Paket C dilaksanakan secara lesehan, tidak menggunakan kursi dan meja sebagaimana layaknya pembelajaran Paket C lainnya.  Terlepas dari kesederhanaan penyelenggaraan Paket C di Pondok Pesantren Ushuluddin ini, telah memberikan bekal ilmu pengetahuan umum santrinya. Dengan bekal ijazah kesetaraan Paket C memungkinkan santri untuk melanjutkan perguruan tinggi, misalnya ke Universitas Islam Negeri atau perguruan tinggi lainnya. Bahkan ada santri di wilayah Bantul yang mengikuti Paket C dan dapat dijadikan bekal untuk menembus kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Boleh jadi, kisah di atas telah menginspirasi penyelenggaraan program Paket C di pondok pesantren. Karena Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia, masih banyak yang tidak menyelenggarakan layanan pendidikan madrasah bagi santrinya. Sehingga menjadikan kendala bagi para santri yang berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Di samping itu jadi kendala bagi para lulusan pondok pesantren untuk masuk ke sektor pekerjaan formal yang mensyaratkan harus memiliki ijazah pendidikan umum.

Saat ini sedang digagas dan digodog penyelenggaraan program Paket C berbasis pondok pesantren, namun dengan penyelenggara program adalah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di sekitar pondok pesantren. SKB atau PKBM yang mengajukan proposal rintisan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Paket C bagi 25-30 orang peserta didik bekerjasama dengan pondok pesantren.

Pola BOP Paket C direncanakan berlangsung selama tiga tahun sampai peserta didik menempuh ujian nasional pendidikan kesetaraan. Jika program ini jadi diluncurkan pada tahun 2014 ini, maka kisah enam orang pamong belajar yang menjadi sukarelawan tutor di pondok pesantren tidak akan terjadi lagi, karena tutor yang mengajar pada program ini akan diberi honor secukupnya dan penyelenggaraan dialokasikan melalui BOP Paket C.