jacob moeselPangeran Mangkubumi berhasil menghentikan pemberontakan Tumenggung Martapura dari Sukawati. Patih kerajaan yang kecewa menemukan akal. Ia mengancam Sunan: jika menyerahkan utuh tanah Sukawati sebagai hadiah bagi Pangeran Mangkubumi, maka raja akan kehilangan dukungan para bupati yang masih setia. Patih Pringgalaya adalah sekutu Belanda, sejak awal musuh dalam selimut Pangeran Mangkubumi. Ia bersekongkol dengan Belanda berupaya memisahkan Sunan Paku Buwana II yang lemah dari kekuatan Mangkubuminya. Mangkubumi itulah penghalang sesungguhnya bagi Belanda dan dirinya.

Gubernur Jenderal Baron van Imhoff melakukan kunjungan perdana ke keraton baru Surakarta. Patih Pringgalaya mengusulkan pengurangan luas wilayah yang akan dihadiahkan kepada Pangeran Mangkubumi, dari 12.000 cacah menjadi seperempat atau sepertiganya saja. Bak gayung bersambut, di hadapan hadirin pertemuan agung itu Gubernur Jenderal menimpali. Terang-terangan ia menyebut Pangeran Mangkubumi rakus jika meminta utuh.

Pangeran merasa sangat dipermalukan dan marah besar. Mangkubumi kecewa  karena Sunan ingkar janji demi mengikuti lika-liku patih kaki-tangan Belanda. Sunan juga telah membuat keputusan terlalu besar yang menghabisi masa depan kerajaan tanpa berembug dengan dirinya sebagai pejabat kerajaan. Padahal, kedudukan Mangkubumi itu tidak hanya resmi. Kurang lebih semacam bendaharawan dan wakil raja. Maka dalam kesempatan baik di bulan Mei 1746, Pangeran Mangkubumi keluar meninggalkan keraton yang baru tiga bulan ditempati.

VOCPerjanjian Sunan Paku Buwana II dengan VOC Belanda tanggal 11 November 1743 benar-benar melemahkan. Wilayah Rembang, Jepara, Surabaya, Madura dan ujung timur Jawa yang lepas sesungguhnya sumber kemakmuran dan kekuatan pertahanan kerajaan. Belum lagi, setoran sebagian pendapatan pajak dari pelabuhan-pelabuhan kaya dan ribuan metrik ton beras beserta hasil bumi lainnya sangat memberatkan. Keadaan ekonomi negara sedang terus-menerus digerus  pemberontakan. Kerajaan benar-benar dibuat menjadi lumpuh sehingga semakin tergantung Belanda. Rajapun telah ditinggalkan Mangkubuminya.

Rupanya diam-diam kelompok-kelompok pemberontak lain yang tidak aktif tetap mengikuti perkembangan istana. Lolosnya Pangeran Mangkubumi dari istana justru telah dinanti para penentang raja yang pernah dihalaunya itu. Berawal dari sekitar 150 orang pengikut, setahun kemudian telah meledak menjadi ribuan orang, tiga tahun kemudian ratusan ribu orang. Atas desakan RM Said, tanggal 11 Desember 1749, di Kabanaran Mangkubumi bersedia dinobatkan menjadi pewaris tahta kerajaan oleh rakyat, kerabat dan para adipati pendukungnya.  Ia bergelar Sunan Paku Alam Kabanaran

Kakanda Sunan ternyata merestui keluarnya Pangeran Mangkubumi dari keraton. Mungkin itulah celah untuk mengemban amanat yang telah dipercayakan. Kakanda raja dan adinda pangeran sama-sama tidak tahu, apakah amanatnya bisa terwujud. Tetapi keduanya berharap yang sama, yaitu batalnya Kesepakatan Ponorogo dan pulihnya Mataram warisan para leluhur mereka berdua. Maka meletuslah pertempuran-pertempuran yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Siapa sesungguhnya yang dilawan pasukan pemberontak? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan