UNPK Kota (2)Tanggal 22-24 April 2008 lalu sebanyak 39.759 siswa SMA-MA-SMK di DIY mengikuti ujian nasional sebagai salah satu parameter yang akan menentukan kelulusan mereka dengan standar kelulusan yang telah ditetapkan. Setelah mengikuti ujian nasional, akhirnya masa yang ditunggu-tunggu akan tiba: dinyatakan lulus atau tidak lulus.

Memperhatikan kondisi tahun 2007 ujian nasional akan memakan banyak korban yaitu anak yang dalam keseharian dipandang memiliki nilai baik atau tergolong pandai, namun ia dinyatakan tidak lulus ujian nasional. Kemudian siswa yang dinyatakan tidak lulus diberi alternatif untuk mengulang ujian nasional tahun depan atau mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK).Kebijakan memberi peluang siswa pendidikan formal untuk mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan menjadikan berkah sekaligus bencana bagi pendidikan kesetaraan pada jalur pendidikan nonformal.Berkah karena program Kejar Paket C dan pendidikan kesetaraan pada umumnya menjadi lebih populer karena masyarakat semakin tahu akan keberadaan pendidikan kesetaraan. Menjadi bencana karena standar isi, standar kompetensi lulusan, dan standar proses pendidikan kesetaraan telah ditetapkan melalui Permendiknas dipersamakan dengan pendidikan formal.

Implikasi dari berbagai regulasi dan kebijakan menyebabkan tutor mengambil jalan pintas dalam praktek pembelajaran. Tutor tidak lagi menggunakan pendekatan tutorial, namun menggunakan pendekatan pembelajaran di sekolah atau pembelajaran berupa pemecahan soal agar ketika mengikuti evaluasi semester dan ujian nasional pendidikan kesetaraan. Pada tataran inilah bencana yang sebenarnya itu terjadi. Program Kejar Paket secara praktek telah jauh dari konsep dasar dan filosofisnya.

Secara sederhana, filosofi pendidikan adalah kumpulan keyakinan pemangku kepentingan pendidikan kesetaraan (tutor, pengelola program dan pengembang) tentang bagaimana warga belajar belajar. Keyakinan ini dapat berasal dari pengalaman pribadi, pengamatan, atau merupakan hasil bacaan dan riset. Filosofi itu biasanya berisi: apa yang dianggap penting untuk dimiliki warga belajar, baik yang bersifat pengetahuan, sikap hidup, maupun keterampilan. Definisi keberhasilan warga belajar pun sangat ditentukan oleh cara kita memandang keberhasilan itu sendiri.

Filosofi ini perlu dibawa ke alam sadar pemangku kepentingan pendidikan kesetaraan (tutor, pengelola program dan pengembang) karena semua itu akan mempengaruhi pilihan dalam memilih model pembelajaran pendidikan kesetaraan. Jauh hari sebelumnya Khalil Gibran pernah mempertanyakan Apakah akan datang suatu ketika guru manusia adalah alam, kemanusiaan adalah bukunya, dan kehidupan adalah sekolahnya? Implikasi dari pertanyaan itu pada program Kejar Paket adalah bahwa bagaimana mengemas praktek pembelajaran yang contextual learning dengan menggunakan alam dan lingkungan serta kehidupan sebagai sumber belajar.

Namun demikian hal tersebut akan sulit diwujudkan manakala kita tidak mampu merubah mindset proses pembelajaran program Paket yang menyamakan dengan sekolah menjadi proses pembelajaran tutorial dan contextual learning. Sementara itu Ki Hajar Dewantara, yang hari kelahirannya 2 Mei kita peringkati sebagai Hari Pendidikan Nasional, mengedepankan sistem among dalam proses pembelajaran yang implikasinya sangat dekat dengan konsep dasar dan filosofi pendidikan kesetaraan. Oleh karena itu Hardiknas tahun 2008 ini perlu kita jadikan momentum untuk merubah praktek pembelajaran pendidikan kesetaraan sehingga tidak hanya sekedar menjadi tempat sampah dari pendidikan formal. Yaitu dengan menggabungkan praktek pembelajaran contextual learning dan sistem among pada pendidikan kesetaraan.

Pinggir Krasak, April 2008