mudikYogyakarta (14/08) Polri memperkirakan pemudik tahun 2012 ini mencapai angka 16 juta orang yang melakukan perjalanan dari berbagai kota di Indonesia menuju kampung halaman dengan menggunakan berbagai moda angkutan. Dari sejumlah itu diperkirakan paling tidak 1,5 juta orang menggunakan sepeda motor. Ironisnya berdasarkan kasus kecelakaan di masa arus mudik tahun 2011 didominasi oleh sepeda motor, yaitu mencapai 76% dari seluruh kasus kecelakaan yang tercatat. Data arus mudik dan balik tahun 2011 menyebutkan bahwa kecelakaan memakan korban jiwa sebanyak 779 orang dari 4744 kasus kecelakaan. Dan saat ini, baru dua hari Operasi Ketupat berlangsung angka korban jiwa sudah mencapai 88 orang.

Penggunaan sepeda motor sebagai moda angkutan mudik sebenarnya tidak direkomendasikan. Sepeda motor sebenarnya hanya dipergunakan untuk perjalanan jarak dekat, bukan jarak jauh sebagaimana dilakukan pemudik. Sisi lain, penumpang sepeda motor berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas hanya satu orang, atau total berdua dengan pengemudi. Namun kita menjumpai pemudik sepeda motor berpenumpang lebih dari dua orang. Lebih dari pada itu sepeda motor diberi kayu untuk menempatkan barang bawaan.

Padahal mengemudi sepeda motor membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dan ketahanan fisik yang prima. Sehingga penumpang yang melebihi ketentuan dan barang bawaan dengan menggunakan kayu-kayu akan mengurangi konsentrasi pengemudi.

Pemerintah sudah menyampaikan himbauan agar pemudik tidak menggunakan sepeda motor, namun diperkirakan pemudik motor justru akan meningkat tahun ini. Pemudik sepertinya tidak punya pilihan lain, sehingga lebih memilih mudik menantang maut.

Ada beberapa alasan yang mendorong pemudik menggunakan motor. Pertama, pemudik menganggap menggunakan motor biaya yang dikeluarkan lebih rendah dibandingkan menggunakan angkutan umum. Walaupun jika mengalami kecelakaan ongkos yang dikeluarkan akan lebih besar. Nampaknya inilah tantangannya.

Kedua, pemudik membutuhkan mobilitas di daerah tujuan atau di kampung halaman. Bagi pemudik yang menggunakan roda empat, hal ini tidak menjadi masalah. Namun jika menggunakan angkutan umum, maka keinginan mobilitas di kampung halaman akan menjadi persoalan. Maka menggunakan motor sebagai angkutan mudik merupakan satu-satunya pilihan bagi pemilik roda dua.

Ketiga, pemerintah belum mampu menyediakan angkutan umum yang nyaman dan terjangkau. Baik dari kota besar ke tujuan mudik, maupun angkutan umum di kampung halaman. Biasanya pada masa lebaran angkutan umum lokal juga menjadi persoalan karena cenderung langka, kalau pun ada pasti berdesak-desakan.

Untuk menekan jumlah korban jiwa, pemudik motor harus ditekan setiap tahun. Karenanya pemerintah harus menyediakan angkutan umum yang nyaman dan menjamin ketersediaannya. Baik menggunakan moda kereta api maupun bus. Di samping itu, untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas pemudik di kampung halaman, jasa pengiriman motor perlu digalakkan baik menggunakan kereta api, truk maupun kapal laut. Artinya pemudik mengirim sepeda motor melalui jasa ekspedisi dan pemudik sendiri menggunakan angkutan umum untuk menuju kampung halaman.

Di samping itu peran perusahaan swasta dalam menyelenggarakan mudik bareng juga dipandang mampu menekan jumlah pemudik motor dari tahun ke tahun.