indomartYogyakarta (23/8/12) Keberadaan ritel modern masih menyisakan persoalan karena dipandang mematikan pasar tradisional atau warung tradisional. Pemerintah daerah seakan berlomba untuk menghambat perkembangan ritel modern, ada yang sudah menghentikan ijin usaha baru, ada yang membatasi jarak dengan pasar tradisional. Pembatasan tersebut dikarenakan ritel modern dianggap telah menurunkan omset pasar tradisional termasuk warung kelontong. Namun demikian di masa mudik tidak dipungkiri ritel modern ternyata sangat membantu pemudik untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama perjalanan.

Banyak alasan mengapa pemudik lebih mengandalkan ritel modern, bukan warung kelontong biasa. Alasan pertama adalah ketersediaan jenis barang yang disediakan dan pembeli tinggal memilih barang yang dikehendaki. Warung kelontong belum tentu menyediakan berbagai ragam kebutuhan pemudik, apalagi pemudik belum tahu persis komoditas apa saja yang dipajang di warung kelontong.

Kedua, kepastian harga. Ritel modern tidak menggunakan aji mumpung selama arus mudik, harga yang diterakan pada berbagai barang menggunakan harga standar. Tidak dinaikkan selama arus mudik. Jangankan pada arus mudik/balik, warung kelontong di sepanjang pantura atau jalan lintas lainnya biasanya memasang harga yang jauh lebih mahal hanya untuk sebuah air mineral saja. Harganya jauh di atas harga yang ditawarkan ritel modern.

Ketiga, pelayanan yang ramah. Ritel modern memiliki standar pelayanan kepada pelanggan, pramuniaga diwajibkan menyapa kepada setiap pelanggan yang masuk plus dengan senyumnya. Disamping itu siap melayani atau menunjukkan barang jika pelanggan menanyakan. Jika kita masuk warung kelontong tidak jarang harus teriak untuk memanggil penjual, jika kebetulan ada di dalam.

Pada sisi inilah kepentingan pelanggan atau masyarakat yang membutuhkan pelayanan prima perlu diakomodasi. Dengan demikian ritel modern tidak harus dimusuhi apalagi diberangus. Keberadaan ritel modern cukup dibatasi saja. Hal tersebut dikarenakan ritel modern telah memiliki segmen pelanggan sendiri. Masyarakat yang menginginkan pelayanan prima juga punya hak untuk dipenuhi. Begitu pula warung kelontong juga memiliki segmen tersendiri. Bahkan di saat mudik pun warung kelontong atau warung kaget di sepanjang jalan tetap saja dikunjungi pemudik.