Modus Baru Penyelewengan UNPK

LJUN 2013Yogyakarta (24/04) Pembicaraan sore hari di teras rumah kampung antara istri tutor dan peserta UNPK Paket C yang polos berhasil membuka kedok modus baru penyelewengan UNPK Paket C. Juminten, sebut saja nama istri seorang Tutor Paket C yang sangat peduli dengan pekerjaan tambahan suaminya sebagai seorang Tutor Paket C yang honornya tidak seberapa itu. Juminten sangat peduli dengan tugas suaminya sebagai tutor, karena sang suami sering bercerita bahwa praktek pembelajaran Paket C banyak karut marutnya dan ingin membantu membenahi.

Sore itu bumi masih basah sehabis diguyur hujan, Juminten sedang menyapu halaman ketika Surti datang mengantar undangan pertemuan PKK dusun. “Bagaimana ujianmu nduk?” tanya Juminten setelah menerima undangan dari Surti. “Alhamdulillah mudah-mudahan lulus bude!”, ujar Surti.

“Lha katanya sekarang ketat dan soalnya 20 paket ya?!” tanya Juminten. “Ah enggak juga koq bude… “, timpal Surti. Lalu pembicaraan pun mengalir bak air hujan yang turun dari genting.  Surti meceritakan kondisi UNPK Paket C yang baru saja dijalani.

Surti menceritakan bahwa pengawas ruang membantu peserta mengerjakan ujian. Lho koq masih bisa dengan pengawasan yang ketat seperti sekarang ini? Surti menceritakan bahwa pengawas ruang mengambil soal yang dari peserta UNPK dan dikerjakan di luar ruangan. Sudah barang tentu naskah soal diberi kode agar tidak tertukar dengan naskah soal peserta lainnya. Surti tidak tahu berapa orang yang membantu mengerjakan, namun semua peserta dalam ruangan itu dilayani.

Sehingga pengawas ruang keluar masuk ruang ujian. Anehnya, lalu lalang pengawas ruang ini tidak diketahui atau dicurigai oleh pengawas satuan pendidikan yang oleh sebagian pihak disebut juga dengan pengawas independen.

Sebenarnya modus seperti ini sudah sering terjadi, bahkan pada beberapa pelaksanaan UNPK sebelumnya dengan vulgar pengawas ruang yang juga tutor pada Paket C secara langsung di ruangan memberi tahu jawaban pada peserta ujian. Karena sekarang ini ada pengawas satuan pendidikan dari perguruan tinggi, maka pengawas ruang tidak mau mengambil resiko untuk mengerjakan langsung di ruangan.

Tapi dengan modus membawa naskah soal ke luar dan dikerjakan di ruangan lain. Setelah selesai dikembalikan kepada peserta ujian. Sudah barang tentu dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh pengawas satuan pendidikan.

Ketika Surti pamit pulang, melangkah menjauhi Juminten. Juminten malah tercenung dengan tenggorokan tercekat, “Karakter macam inikah yang kita wariskan pada peserta didik kita???”

10 tanggapan pada “Modus Baru Penyelewengan UNPK”

  1. sebenarnya dalam status saya beserta gambarnya menggambarkan betapa vulgar dan mencolok praktek yang dilakukan tutor ato ingin dianggap sukses pelaksanaan UNPK paket.

  2. kondisi UN & UNPK Sangat memperihatinkan,,justru,,pengawas bertindak sebagai peserta,,ini tindakan kriminal yang tentu dihalalkan oleh pengawas independen dan kepolisian,,jadi kalau tdk ditindak,,jgn bilang negara indonesia adalah negara hukum,,,

    mengapa BSNP Menyusun naskah soal UN & UNPK Sekeji itu,,membuat peserta kewalahan mengerjakan soal(membunuh Nasib Anak Bangsa) ,,makanya siswa berpikir,,drpada dia mati surii,, lebih baik mnta tlg sama pengawas alias melanggar hukum…

  3. mental pendidik dan anak didik di era skrg memang sudah rusak, serba instant, tak mau bersusah2 belajar dan berjuang. Tak ada lagi pendidikan yang benar2 “mendidik?”

  4. Proses distribusi Naskah Soal UN tahun 2013 diambil di Polsek oleh pihak sekolah disaksikan Dinas Pendidikan dan Pengawas Independent. Soal UN sebanyak 20 paket, berbeda dari tahun sebelumnya. “Tim UBB dalam pelaksanaan UN ada 3 tim yakni tim distribusi, tim pengamanan bahan UN dan tim pengawas satuan pendidikan,” tuturnya. Lanjutnya, siswa mengerjakan soal yang berbeda setiap ruang, kalau sebelumnya menggunakan kode soal, namun soal UN sekarang menggunakan barcode. Katanya, setiap soal dan LJUN di beri barcode yang berbeda-beda bertujuan supaya tingkat kejujuran dan objektivitas UN tinggi.

  5. sebenarnya praktek ini sudah terjadi dimana saja termasuk pada pendidikan formal karena semuanya harus sukses un. tetapi yang lebih banyak disorot hanya untuk pendidikan non formal saja karena ketidak percayaan mereka terhadap pendidikan nonformal dan pendidikan non formal “kalah cantik” dalam permainan ini.mengapa demikian senyatanya pada pend formal praktek pembocoran soal dan perjokian tidak pernah terungkap,padahal selalu ada kunci2 jawaban berupa apapun yang kebenarannya mencapai 80%,”jangankan untuk 20 paket untuk 40 paketpun kami siap” sesumbar orang2 yang tdk diketahui keberadaaannya.Inilah dunia kita??

  6. Solusi terakhir, jika langkah pertama, kedua dan ketiga tidak bisa dilakukan, pengawas ruang bisa memerintahkan siswa untuk mengerjakan pada naskah UN atau pada kertas tersendiri. Nantinya, jawaban siswa dipindahkan ke LJK oleh tim dari PT. Meski demikian, dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia berharap tidak ada kerusakan berarti dari naskah UN yang telah dibagikan kepada siswa.

  7. Kenyataan di lapangan pengawas dari perguruan tinggi banyak yang tidak mengerti tugas dan fungsinya mereka hanya duduk-duduk mendapatkan kopi dll terus diam saja seperti tikus kena tulup.

    1. Ada juga sih yang seperti itu, di Sleman ada yg spt itu. Tapi tidak semuanya seperti itu. Kebetulan sy supervisi di dua lokasi UNPK tahap I pengawas perti-nya sigap.

  8. Pak Fauzi, ceritanya menarik disamar-samarin… tapi swerr deh, itu baru ngeh dg kondisi seperti itu. Emang otak “pintar” jika digunakan u yg negatif2 itu ketemu aja jalannya. Udah dibagi 20 soal berbeda ada aja kebocorannya. Btw, revoluasi Kemdiknas saya acungi jempol, kasus2 spt itu hanya minimal saja… artinya dalam waktu satu tahun ini, modus kebocoran soal bisa diminimalisir. Dan tentu saja kasus spt itu masih bisa ditangani dengan baik.

Komentar ditutup.