Merpati Ingkar Janji, Akhirnya Naik Budiman

Budiman 024ASlawi, Tegal (16/02) Suatu hari di tahun 2012 saya membeli tiket pesawat ke Bandung, tapi akhirnya naik bis Budiman. Siang itu saya sudah mantap masuk ruang tunggu Bandara Adisucipto, dalam hati pukul 16.00 sudah sampai di kota Bandung dan malamnya bisa mengikuti kegiatan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 belum juga dipanggil untuk boarding. Pukul 15.40 ada panggilan kepada seluruh penumpang maskapai itu tujuan Bandung untuk menuju ke loket.

Sambil berjalan menuju loket, dalam hati sudah berpikiran pasti tidak jadi terbang nih si burung besi. Karena sejak tadi tidak ada pemberitahuan delay. Betul saja, dipastikan dari petugas maskapai bahwa jadwal penerbangan dibatalkan karena pesawat tidak datang. Uang tiket pun dikembalikan. Tapi bukan berarti permasalahan selesai.

Saya sudah tidak ambil pusing dengan komplain penumpang lainnya, yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana agar saya bisa sampai Bandung secepatnya. Mencari tiket pesawat via Jakarta sudah tidak ada. Kalau ada pun dengan harga yang tinggi.

Kebetulan bertemu dengan beberapa orang yang juga mengikuti kegiatan lain di hotel yang sama, Grand Pasundan, Bandung.  Ada lima orang. Akhirnya kami sepakat untuk naik kereta api, dan menuju Stasiun Tugu menggunakan KA Prameks. Tiket KA Malabar hanya cukup untuk lima orang, berarti kurang satu. Saya mengalah, saya pilih alternatif moda angkutan lainnya. Bus malam.

Keluar Stasiun Tugu, saya cari tukang ojek untuk mengantarkan ke agen bus malam Bandung Express. Sampai di agen Bandung Express, tiket habis. Lalu tukang ojeg saya minta untuk mengantar ke jalan Wates, Saya pernah mendengar bahwa ujung utara jalan lingkar barat Yogyakarta ada agen bus ke arah barat. Betul saja saya ditunjukkan oleh tukang ojek agen bus Budiman.

Saya jadi ingat bus Budiman yang memiliki banyak trayek dari dan ke kota Tasikmalaya. Hampir setiap kota besar di Jawa Barat dan Banten dihubungkan oleh bus Budiman.

Menariknya bus Budiman merupakan pilihan bagi masyarakat yang menginginkan kenyamanan naik kendaraan umum. Bus Budiman berbeda dengan bus reguler atau bumel, yang menaikkan penumpang di jalan. Penumpang bus Budiman hanya naik dari loket atau agen resmi, penumpang tidak menyetop dan naik bus di sembarang tempat. Disediakan tiga pilihan layanan, yaitu ekonomi tanpa AC, bisnis AC, dan eksekutif. Untuk trayek Yogyakarta-Bandung hanya tersedia bus ekonomi dan bisnis AC.

Sore itu saya beruntung masih mendapatkan tiket bisnis AC seharga Rp. 85 ribu dari dua tiket yang tersisa. Tanpa menunggu lama, akhirnya bus datang. Saya naik, dan duduk di kursi yang disediakan. Lumayan nyaman juga. Saya kontak panitia, kalau tidak bisa mengikuti acara pembukaan malam itu karena kendala transportasi. Akhirnya bus bergerak, karena merpati ingkar janji jadilah saya naik Budiman. Lumayan juga, 85 ribu masih diberi jatah makan malam.

2 tanggapan pada “Merpati Ingkar Janji, Akhirnya Naik Budiman”

  1. Untuk seorang aktifis macam bung fauzi, masalah harus pontang-panting seperti diatas, sekedar masalah kecil. Tentang bis budiman, saya termasuk pelanggan setia. Semenjak belum ada trayek ke Yogya, dulu dari Bandung baru sampai Purworejo. Ketika pertama kali dibuka trayek Yogya, bahkan penumpangnya saat sampai Kebumen tinggal 2 orang. Namun diantar juga sampai tujuan. Semoga pelayananannya tetap prima.

    1. Salam tabik bung Haitami… dengan pengalaman itu, saya mengulangi lagi. Istilahnya kalau kuliah biar dapat A.. he he he… maksudnya mengulangi lagi biar bisa menikmati perjalanannya.

Komentar ditutup.