Paket C Taiwan 1Taipe (06/12/2015) Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada di Taiwan hingga Juni 2015 tercatat sebesar 237.670 orang dengan rincian 65% sektor domestik dan 35% sektor formal. Jumlah ini merupakan tenaga kerja asing terbesar di Taiwan, disusul Vietnam, Filipina, Malaysia dan Mongolia. Menurut Devriel Sogja, Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipe, sekitar 35% TKI berpendidikan di bawah SMA sederajat, atau hanya berpendidikan SMP sederajat bahkan ada yang berpendidikan SD atau sederajat. Berarti ada sekitar 83 ribu orang TKI yang berpotensi mengikuti pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C.

Gaji tenaga kerja asing sektor domestik di Taiwan adalah paling tinggi di seluruh dunia yang mencapai Rp. 7,4 juta per bulan. Sektor domestik meliputi caregiver/caretaker dan penata laksana rumah tangga (PLRT). Sedangkan sektor formal atau lembaga berbadan hukum meliputi kontruksi, anak buah kapal (ABK), caregiver di panti jompo, dan manufaktur. Tingginya gaji tenaga kerja Indonesia di Taiwan mempengaruhi aspirasi pendidikan mereka. Sebagian besar dari mereka tidak ingin selamanya menjadi buruh migran, namun ingin meningkatkan diri melalui pendidikan. Sehubungan usia mereka sudah melebihi usia sekolah dan sedang bekerja maka pendidikan kesetaraan menjadi pilihan yang menarik bagi mereka yang ingin melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi atau ingin bekerja pada sektor formal dengan berbasis ijazah SMA sederajat.

“Saya pengin jadi guru di daerah tertinggal, karena itu setelah lulus Paket C mau masuk Universitas Terbuka,” ungkap Eka Nurvitasari asal Tulungagung yang bekerja sebagai caregiver.

Supriyono asal Blitar yang bekerja di sektor kontruksi menyatakan “Saya di Indonesia pengurus partai, saya punya kesempatan untuk mencalonkan diri menjadi anggota DPRD. Tapi karena ijazah saya hanya SMP maka tidak bisa daftar. Ketika saya bekerja di Taiwan ada Paket C saya ikut dengan harapan ketika pulang bisa jadi caleg.”

“Banyak orang memandang TKW sebelah mata, justru dari situ saya ngin menunjukkan bahwa TKW bisa berpendidikan dan berwawasan. Harapan saya setelah lulus Paket C jika ada rejeki ingin melanjutkan ke Universitas Terbuka. Setelah di Indonesia saya ingin berbagi ilmu dengan orang yang tidak mampu”, kata Siti Aminah asal Ciamis Jawa Barat.

Pada dasarnya mereka tidak ingin selamanya menjadi tenaga kerja pada sektor domestik, namun karena keterbatasan pendidikan menghalangi untuk meraih asa. Karena itulah kehadiran program Paket C setara SMA di Taipe disambut hangat oleh para tenaga kerja Indonesia.

Adalah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan yang pertama kali merintis penyelenggaraan program Paket C sejak tahun 2013. PPI merupakan organisasi yang menghimpun mahasiswa Indonesia yang sedang studi pada berbagai perguruan tinggi di Taiwan. Sebagian besar dari mereka sedang studi pada jenjang S2 dan S3. Pada awalnya para mahasiswa PPI belum memahami seluk beluk penyelenggaraan Paket C, sehingga mereka menawarkan pada tiga lembaga untuk melakukan kerjasama. Setelah ketiga lembaga memasukkan proposal penawaran, maka dipilih Yayasan Bakti Jaya Indonesia sebagai mitra kerja.

Yayasan Bakti Jaya Indonesia inilah yang kemudian melakukan konsultasi dan koordinasi ke Direktorat Pembinaan SMA Ditjen Pendidikan Menengah yang saat itu mengelola pendidikan kesetaraan Paket C. Di tengah perjalanan, pada bulan Juni 2015, kedua pihak berpisah dan masing-masing menyelenggarakan pendidikan kesetaraan secara terpisah.

Menariknya, penyelenggaraan Paket C di Taipe diselenggarakan secara online. Pertemuan reguler, tatap muka konvensional, hanya dilakukan satu bulan sekali. Hal ini disebabkan peserta didik tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan terjadwal di kelas konvensional karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Tidak heran jika semua peserta didik memiliki laptop dan terkoneksi internet di tempat kerja mereka. Pembelajaran online tetap menggunakan pemetaan satuan kredit kompetensi yang membagi pembelajaran tatap muka (minimal 20%) dan pembelajaran tutorial (minimal 30%). Karena penyelenggara dan tutor adalah mereka yang sedang studi lanjut di Taiwan, maka para tutor paling tidak berkualifikasi sarjana atau pascasarjana.

Pembelajaran melalui internet dilakukan secara online atau daring, tutor dan peserta didik berada dalam satu waktu hanya berbeda tempat. Artinya penyelenggara tidak sekedar memasang atau memposting materi ke dalam web kemudian peserta didik mempelajari, namun tutor dan peserta didik dapat berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Peserta didik menyimak materi yang disampaikan dan dapat mengajukan pertanyaan jika ada yang belum jelas, kemudian tutor langsung memberikan jawaban. Begitu pula pada pembelajaran tutorial, peserta didik dan tutor dapat melakukan interaksi langsung dalam melakukan pembahasan materi pelajaran.  Aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran online adalah Wiziq.

Kini, angkatan pertama Paket C akan mengikuti ujian nasional pada bulan April 2016 yang akan datang. Persoalannya, peserta didik tidak mengikuti ujian seperti jadwal pelaksanaan sebagaimana diatur oleh Badan Standar Nasional Pendidikan karena terhalang ijin dari tempat bekerja. Mereka hanya bisa melakukan ujian nasional pada hari Minggu, itu pun hanya bisa ijin satu kali dalam satu bulan.

Untuk itulah Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan melakukan supervisi ke Taipe guna mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi bagi penyelenggaraan ujian nasional Paket C di Taiwan. Supervisi ini sekaligus melakukan bimbingan teknis atas penyelenggaraan program Paket C dan pelaksanaan pembelajaran agar tetap sesuai standar nasional pendidikan yang mengatur pendidikan kesetaraan.

Memperhatikan potensi peserta didik pendidikan kesetaraan yang cukup tinggi di Taiwan, bahkan bisa melebihi potensi di sebuah kabupaten di Indonesia, maka boleh jadi penyelenggaraan Paket C tidak hanya dioperatori oleh satu atau dua lembaga saja. Namun demikian Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipe, sebagai perwakilan resmi pemerintah Indonesia di Taiwan, mengharapkan agar semua yang ingin menyelenggarakan pendidikan kesetaraan mengikuti aturan yang ada. Karena itulah Kepala KDEI di Taipe, Arif Fadilah, menyambut baik kedatangan tim dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan agar penyelenggaraan Paket C di Taiwan semakin baik. “Kami membuka jika ada lembaga lain yang akan menyelenggarakan Paket C, justru dengan demikian akan terjadi kompetisi. Namun harus tetap mengikuti aturan” demikian ungkap Arif Fadilah.

Tim supervisi terdiri dari Subi Sudarto, Kasi Pendidikan Berkelanjutan pada Subdit Pendidikan Kesetaraan dan Berkelanjutan, membidangi supervisi penyelenggaraan program Paket C, Suprananto, Kepala Analisis dan Sistem Penilaian Puspendik, membidangi supervisi persiapan ujian nasional Paket C, dan Fauzi Eko Pranyono, pamong belajar, membidangi supervisi pembelajaran dan penilaian. Supervisi dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 7 Desember 2015. [fauziep]