Maya dkkOleh : Maya Veri Oktavia, dkk

Pengantar: Diklat Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (18/3/2013) sampai Kamis (21/3) antara lain mendiskusikan tentang “Media Pendidikan dan Pendidikan Media”. Sebagian pendapat dari 60-an peserta diklat tersebut disajikan dalam sebuah tulisan berikut ini.

MEDIA pendidikan merupakan media yang peduli terhadap dunia pendidikan. Dewasa ini, muatan media massa baik cetak maupun elektronik telah memberikan perhatian yang cukup signifikan terhadap perkembangan pendidikan kita. Peran serta surat kabar, suatu misal, terbukti mampu menyampaikan informasi secara cepat terhadap perkembangan kebijakan di dunia pendidikan kepada masyarakat sehingga dapat berdampak kontributif bagi gerak laju perkembangan proses pendidikan saat ini. Media elektronik baik visual maupun audio visual pun memberikan porsi tayang yang signifikan tentang pendidikan dengan berbagai variasi bentuk penayangan.

Akan tetapi, ketika melihat kemasan media terkait dengan pendidikan masih memerlukan banyak perbaikan kembali. Pendidikan ketika tertuang dalam media cetak (buku) cenderung terkesan tekstual dan kurang varian serta kurang komunikatif. Sehingga pembaca kurang tertarik membaca dan mengapresiasi media-media tulis yang berkaitan dengan media pendidikan. Sedangkan media TV, sebuah realitas ketika para tokoh dan pengamat pendidikan sangat keras mengkritik penayangan-penayangan yang jauh dari visi pendidikan, bahkan cenderung merusak nilai-nilai pendidikan secara laten.

Melihat realitas di atas, menurut Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mekar Insani Yogyakarta Maya Veri Oktavia SPd, harapan besar bagi media untuk bisa mengemas media dengan menarik (kreatif) dan inovatif tanpa meninggalkan visi pendidikan. Jangan sampai media ditunggangi kepentingan kapitalis yang kemudian berdampak destruktif terhadap nilai-nilai pendidikan yang diharapkan bangsa.

Didambakan tiap manusia

Guru Taman Kanak-kanak (TK) Indriyasana Babadan Turi, Sleman, Yogyakarta dan Tutor Paket C BPKB DIY Erna Yuli Agustin berpendapat, pendidikan adalah suatu hal yang didambakan oleh tiap manusia yang dipercaya dapat mengubah nasib hidup manusia. Sayangnya pendidikan saat ini adalah sesuatu hal yang masih merupakan barang mahal. Untuk itu diperlukan suatu media yang seharusnya dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Pada kenyataannya, masyarakat masih sangat sulit untuk mengakses media pendidikan yang ditawarkan pemerintah. Media yang saat ini dapat terjangkau oleh setiap lapisan masyarakat hanyalah televisi. Sayangnya televisi bukanlah media yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Bila kita cermati tayangan acara di televisi 85 persen lebih ke hiburan, dunia selebritis, properti yang jauh dari nilai pendidikan. Bukannya menjadi pandai, tapi masyarakat lebih menjadi konsumtif, sesuatu yang jauh dari harapan pendidikan kita.

Keberadaan media pendidikan yang diharapkan dapat mendongkrak kualitas sumber daya manusia akhirnya menjadi sesuatu yang mahal. Lalu siapa sajakah sebenarnya yang dapat membantu masyarakat menemukan media pendidikan dengan harga murah dan terjangkau?

Saat ini, pemerintah dengan anggaran pendidikan yang lebih 20 persen dari APBN dan program tunjangan profesionalnya sedang menggalakkan peningkatan mutu pendidikan. Diharapkan dengan besaran dana yang digu-lirkan terhadap para guru yang sudah sejahtera ini kinerja guru akan optimal. Apabila kinerja guru sudah optimal maka akan meningkatkan kualitas program kegiatan belajar mengajarnya yang berimbas pada semakin berkualitas anak didiknya.

Realitanya, tidak semua guru yang sudah mendapatkan tunjangan profesinya meningkatkan kompetensinya. Alih-alih untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya, para guru ternina-bobokan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya. Alhasil tujuan dari pemerintah belum terwujud.

Guru profesional harus sadar diri bahwa dirinya adalah pengubah atau agen pendidikan yang dapat mengubah pola pikir anak. Idealnya, guru professional merupakan (dan dapat menjadi) media pendidikan. Guru tentunya harus meningkatkan kualitas dirinya, mengasah kompetensinya supaya masyarakat dapat merasakan bahwa guru memang dapat mencerdaskan masyarakat, dan dapat menjadi media pendidikan yang tepat.

Pentingnya pendidikan media

Pamong Belajar Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kulonprogo, Yogyakarta Dian Astutik Wulandari berpen-dapat, mengajak masyarakat sadar media tentunya bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali.

Menumbuhkan minat baca masyarakat sehingga tercipta budaya baca merupakan langkah awal untuk orang mulai mengenal lingkungan di sekitarnya. Banyak sekali yang bisa dibaca lewat penglihatan kita. Tidak harus tulisan, tapi sisi kehidupan nyata yang kita lihat bisa dibaca. Namun, keadaan yang terlihat dan terbaca secara nyata tidak cukup ditelan begitu saja. Kita bisa mengemasnya menjadi sajian yang hangat di pagi hari bersama keluarga melalui media tulisan, bahkan bisa dinikmati oleh masyarakat umum.

Nah, inilah yang menjadi persoalan. Bagaimana yang bisa kita lihat ini menjadi bentuk sajian tulisan yang menarik dan diminati banyak orang? Tentunya tulisan yang berbobot. Juga penting bagi kita warga masyarakat tahu bagaimana menulis di media. Maka perlu pendidikan media bagi masyarakat untuk meningkatkan sumber daya manusia agar sadar media.

Hal ini sangat bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta untuk membuat program yang bisa diikuti oleh masyarakat yang mau dan berminat belajar tentang media. Bisa semacam diklat, dialog media, dan sebagainya. Sudah saatnya masyarakat bersahabat dengan media dan sadar media.

Dewi Usmawah dari SKB Bantul, Yogyakarta sependapat dengan Dian, pada saat ini pendidikan media untuk masyarakat perlu digalakkan mengingat fungsi salah satu dari pendidikan media adalah mencerdaskan masyarakat. Masyarakat yang awam terhadap jurnalistik dapat dilatih dan dibiasakan menulis apa yang dirasakan, dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Lewat lembaga, forum, paguyuban dapat merekrut orang-orangnya untuk dilatih secara professional.

Masyarakat yang telah terbiasa atau sadar akan fungsi media dapat menuangkan gagasan, argumentasi, fakta, atau apa saja melalui media, misalnya koran, radio, TV, atau media yang lain. Apa yang telah dituangkan oleh setiap anggota masyarakat dapat menjadi fungsi kontrol bagi pemerintah ataupun masyarakat, apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tatanan, norma maupun budaya.

Masyarakat akan lebih berpikir cerdas dan krisis menanggapi peristiwa yang terjadi melalui jalur yang tepat, bisa media cetak, elektronik maupun non elektronik.

Sedangkan Siti Badriyah dari SKB Gunungkidul, Yogyakarta menyampaikan aspek kekuatan, kelemahan, ancaman dan harapan dari pendidikan media.

Kekuatannya, masyarakat sudah mengenal baca, tulis, dan hitung sejak sekolah dasar; Pandai bercerita. Kelemahannya, belum ada kesadaran untuk menulis di media; Belum ada pengalaman untuk menulis di media. Ancamannya, orang Jawa biasanya nrimo sehingga mudah puas; Takut salah nulis.

Harapannya, ada sosialisasi tentang sadar media; Ada diklat yang serupa tentang penulisan di media; Terbit tabloid/majalah yang terkait dengan dunia pendidikan sehingga isu-isu tentang pendidikan dapat tersampaikan; Ada MoU dengan surat kabar, majalah, sehingga lembaga-lembaga berlomba untuk dapat menulis di media; Pamong belajar, penilik dan tenaga fungsional pendidikan memperoleh nilai kredit melalui penulisan di media cetak. ***

Maya Veri Oktavia SPd, Erna Yuli Agustin, Dian Astutik Wulandari, Dewi Usmawah dan Siti Badriyah, Peserta Diklat Jurnalistik 2013 BPKB Disdikpora DIY.