Ajeng kismaningsih 2Oleh Rahadjeng Kismaningsih

Beberapa waktu lalu, medio Mei 2015, salah satu anggota Pokja Akreditasi PAUD di Jawa Timur bekerja sama melakukan pembinaan pada satuan PAUD di Kabupaten Blitar yang berdalih sebagai kegiatan sosialisasi PAUD tanpa melibatkan Penilik selaku pembimbing standar nasional pendidikan yang melekat dalam tugas pokoknya di daerah. Seperti kita ketahui bersama regulasinya, posisi Penilik berkedudukan di tingkat Kabupaten tetapi faktanya penilik merupakan tenaga fungsional yang dititipkan di UPTD Pendidikan di tingkat Kecamatan dan mayoritas kondisi ini sama.

Alhasil dari pembinaan akreditasi tersebut berlanjut dengan proses kegiatan akreditasi dengan pembimbingan langsung ke satuan PAUD yang menjadi sasaran yaitu rata- rata dua satuan PAUD yang telah ditunjuk mengikuti akreditasi. Keluhan Satuan PAUD biaya akreditasi mulai pembinaan sebelum akreditasi hingga bimbingan akreditasi memerlukan biaya yang sangat fantastis utamanya pemberkasan untuk desk assesmentnya? Ditengarai untuk mampu demikian, tentu satuan PAUD yang menjadi langganan  memperoleh block grant, atau kalo tidak pasti gulung tikar jika jumlah murid PAUDnya standar-standar saja.

Belakangan baru diketahui ternyata ada lho………. yang namanya etika asesor dalam melakukan akreditasi bertujuan untuk menjaga  indepedensi dalam melakukan penilaian lalu apa yang sesungguhnya terjadi hal tersebut di atas. Teringat postingan tanggal 7 September 2015 di grup facebook “Arsip Penilik” oleh rekan Sekjen IPI Pusat yang membahas tentang  “Rencana Pengendalian Mutu Program PAUDNI”  terdapat masalah yaitu  “Belum ada kesepahaman antara pejabat pembina daerah dan penilik terkait tentang tugas dan fungsi penilik, sehingga masih sering dijumpai adanya tumpang tindih tugas yang tidak semestinya terjadi, yang akhirnya dapat menghambat tugas dan fungsi penilik yang sebenarnya.“ Menyikapi hal ini sungguh saya cukup memaklumkan banyak peristiwa yang tak sesuai dengan hati nurani untuk mampu saling bermain cantik jika orientasinya proyek dan uang yang tak lepas dari keserakahan sehingga tak tahu lagi hal toto, titi dan tentrem (tolong di ulas menurut falsawah Jawa).

Terlepas dari rasa impotensinya penilik sebagai tenaga fungsional titipan di UPTD Kecamatan berulang setiap insan asesor dan tim verikator block grant blusukan terkadang sebagai tenaga di ujung tombak harus bertebal muka sering tidak tahu menahu adanya insan-insan yang terhormat melakukan kegiatan di wilayah teritorial kewenangan Kepala UPTD Pendidikan di Kecamatan setempat, yakin banyak rekan penilik yang mengalami nasib yang sama di daerah lain.

Sambil berfikir keras dan mendalami regulasi akreditasi dan diimplementasikan Kepala UPTD Kecamatan setempat meminta agar dilakukan pembinaan Satuan PAUD rutin di kantor dan anjang sana numpang kegiatan HIMPAUDI untuk mengembalikan penilik yang bermartabat, maka solusinya seorang penilik harus mampu melakukan pembinaan untuk Kepala  Satuan PAUD. Pembinaan teknis penilik dilakukan hanya melalui dua kegiatan bimbingan tenaga pendidik dan kependidikan/PTK yaitu  untuk Kepala Satuan PAUD (nonformal) materi bimbingan tentang manajemen PAUD, sedangkan pembinaan untuk pendidiknya materi seputar pembelajaran, semuanya berjalan satu sistem dengan bukti administrasi, jika demikian maka akan terjadi percepatan pencapaian standar nasional PAUD dapat terwujud sesuai regulasinya. Dampaknya akan berasa setelah hasil akreditasi diumumkan karena menjadi sumber materi untuk mengolok-ngolok kemampuan penilik dalam melakukan bimbingan SNP tentunya oleh beberapa pihak yang memiliki kepentingan dan pemangku kewenangan.

Materi pembinaan dapat diperoleh juga lewat  http://paudjateng.xahzgs.com yang suka berbagi, tinggal bagaimana Penilik mau dan mampu memanfaatkan IT sebagai sumber belajar kemudian juga berbagi informasi pada PTK yang membutuhkan, mereka itu biasanya dalam pembinaan selalu diam dan duduk manis kondisi seruapa sama dengan Penilik,  jika diajak diskusi atau sedang memperoleh pengarahan dari nara sumber yang berkompeten, mungkin tak tahu memulai dari mana untuk merubah diri; inilah sebabnya penilik harus mati gaya dengan sangat konsisten.

*) Rahadjeng Kismaningsih adalah Penilik PAUD pada Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Jawa Timur.

Sumbangan tulisan pihak ketiga belum tentu menggambarkan pandangan atau sikap pemilik blog.