Rochmat Wahab

Yogyakarta (27/05) Kemarin, Senin 26 Mei 2014, seharusnya pejabat Dirjen PAUDNI yang baru dilantik oleh Mendikbud. Namun pelantikan Dirjen PAUDNI ditunda karena pejabat yang baru tidak hadir. Beredar rumor bahwa kandidat kuat pejabat yang baru menolak jabatan tersebut.

Kandidat kuat yang beredar adalah Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA., sekarang menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. Belum jelas benar alasan apa sebenarnya tidak datang. Dan apakah benar menolak jabatan tersebut. Rumor yang beredar, calon pejabat menolak karena terkesan hanya cuci-cuci piring masalah PAUDNI di akhir masa pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Sebenarnya jabatan Dirjen bukan jabatan politik, walau tidak dipungkiri bahwa penunjukkan jabatan tersebut dipengaruhi oleh elemen politik yang sedang berkuasa. Melihat peta pendukung bakal calon Presiden, bisa dipastikan Rochmat Wahab aman dalam posisi Dirjen jika Presiden berganti ke Jokowi maupun ke Prabowo.  Rektor UNY yang berasal dari Jombang ini dekat dengan Kyai NU tidak gampang dicopot dari jabatan Dirjen jika Presidennya Jokowi, karena PKB sebagai salah satu partai pendukung akan memberikan sinyal jalan terus kepada Rochmat Wahab.

Pun jika Prabowo terpilih menjadi Presiden, Rochmat Wahab yang dikenal dekat dengan Mahfud MD pasti akan bertahan di posisi Dirjen PAUDNI. Ketika Mahfud MD masih menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi berhasil dihadirkan oleh Rochmat Wahab ke suatu acara di Universitas Negeri Yogyakarta.

Lebih dari itu, alasan tersebut (masa jabatan tinggal menghitung hari) bukan menjadi sebab utama untuk menolak jabatan karena akan terlihat sangat pragmatis. Apalagi jabatan Dirjen bukan jabatan politik, tapi jabatan karier PNS.

Rumor yang menyeruak adalah kandidat Dirjen menolak karena tidak mau cuci-cuci piring masalah PAUDNI. Kita mengharapkan rumor itu tidak benar. Terlepas persoalan TK JIS, PAUDNI sudah memiliki permasalahan yang menggunung yang harus segera kita selesaikan. Justru menjadi tantangan bagi pejabat baru untuk menyelesaikan segala persoalan PAUDNI untuk menaikkan marwah pendidikan nonformal dan informal di Indonesia.

Mudah-mudahan ketidakhadiran Rochmat Wahab pada acara pelantikan pada tanggal 26 Mei 2013 adalah masalah teknis belaka. Jika kemudian yang dilantik menjadi Dirjen PAUDNI bukan beliau, malah seakan membenarkan rumor yang sudah beredar.

PAUDNI perlu segera mendapatkan pejabat yang cerdas dan berkarakter seperti Rochmat Wahab. Walau tidak berasal dari program studi pendidikan luar sekolah, namun latar belakang ia sebagai pakar ilmu pendidikan anak berbakat yang langka di Indonesia diharapkan dapat ikut membenahi karut marut pendidikan nonformal dan informal.