Ari SulistioOleh Ari Sulistiyo

Tahukah anda kalau pendidik anak usia dini itu hakekatnya sebuah profesi seperti halnya perawat, bidan dan dokter. Dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, itu semua diperoleh melalui pendidikan. Seorang pendidik PAUD disyaratkan memenuhi kualifikasi dan kompetensi sebagaimana diatur dalam Permendiknas Nomor 58 tahun 2009. Kualifikasi minimal S1 PAUD/ S1 kependidikan lainnya/ S1 psikologi untuk guru, minimal D II PGTK atau SMA sederajat dengan sertifikat diklat/ kursus PAUD dari lembaga terakreditasi untuk guru pendamping, dan minimal SMA sederajat untuk pengasuh. Ada 74 indikator kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, 48 indikator untuk guru pendamping, dan 14 indikator untuk pengasuh.

Menoleh lima tahun kebelakang, sulit mencari orang yang mampu dan mau mengabdi sebagai pendidik anak usia dini. Dari sekian banyak orang yang dipandang mampu, mereka lebih memilih profesi lain yang secara finansial lebih menjanjikan. Memang saat itu menjadi pendidik anak usia dini bukanlah profesi menjanjikan dan bukan pilihan yang populer. Saking tidak populernya, syarat utama untuk menjadi pendidik cukup mau, latar belakang pendidikan nomer sekian. Jamak bila kemudian lebih banyak pendidik yang belum memenuhi kulifikasi dan kompetensi dibandingkan yang sudah.

Pendidik PAUDTahun 2012, dari 84.888 pendidik PAUD yang sudah memiliki NUPTK, baru 12,74 % yang memenuhi kualifikasi S1 dan 18,9 % yang telah mengikuti diklat. Data tersebut belum termasuk sekitar 300 ribuan pendidik yang tidak memiliki NUPTK di seluruh Indonesia. Dengan kondisi tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Subdit Pembinaan PTK PAUD mendorong peningkatan kualifikasi dan kompetensi pendidik PAUD melalui program rintisan pendidikan gelar, bantuan pendidikan, program konversi dan diklat berjenjang.

Dari beberapa program yang ditawarkan, diklat berjenjang paling populer saat ini. Diklat ini bertujuan meningkatkan kompetensi pendidik PAUD agar siap menjadi pengasuh, guru pendamping, atau guru yang profesional. Dilaksanakan secara berkesinambunagan mulai dari tingkat dasar, lanjutan sampai dengan mahir. Sebagai gambaran, saat ini di Kulon Progo lebih dari 200 orang talah mendaftarkan diri untuk mengikuti diklat tingkat dasar dengan biaya sendiri.

Ada beberapa alasan mengapa diklat ini begitu diminati pendidik. Pertama, diklat berjenjang bisa dilaksanakan di kabupaten/kota bekerjasama dengan provider diklat yang ditunjuk Dirjen PAUDNI sehingga tidak perlu jauh-jauh ke pusat atau propinsi. Kedua, biaya diklat sekitar 400 ribu per orang relatif terjangkau bagi pendidik. Ketiga, struktur pelatihan dengan 48-80 jam tatap muka dan 200 jam tugas mandiri dirasa lebih sesuai bagi pendidik tanpa harus meninggalkan kewajiban mengajar di lembaga. Keempat, diklat dasar merupakan syarat prioritas calon penerima insentif APBN tahun 2013.

Memang sudah selayaknya strategi peningkatan kualifikasi dan kompetensi diikuti dengan peningkatan kesejahteraan, agar semakin banyak pendidik PAUD yang termotivasi untuk menjadi pendidik profesional. Bukankah profesional itu dibayar mahal karena keahliannya seperti bidan, perawat dan dokter.

Penulis adalah Penilik PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo. Tulisan ini ditulis dalam rangka tugas Diklat Jurnalistik BPKB DIY Tahun 2013.