Berdasarkan Pasal 4 ayat 2 Permenpan RB nomor 15 Tahun 2010, pamong belajar harus memenuhi ketentuan beban kerja minimal 24 jam per minggu. Beban kerja pamong belajar berbeda dengan beban kerja guru yang dihitung dari beban kerja tatap muka jam mata pelajaran. Beban kerja pamong belajar dihitung dari pelaksanaan tiga tugas pokok yaitumelaksanakan kegiatan belajar mengajar, mengkaji program, dan mengembangkan model di bidang pendidikan nonformal dan informal (PNFI).

Menghitung beban kerja pamong belajar tidak hanya berdasarkan berapa jam pamong belajar melaksanakan tatap muka pada satuan pendidikan nonformal. Namun berdasarkan pelaksanaan tiga tugas pokok pamong belajar. Bahkan pada melaksanakan kegiatan belajar mengajar sub unsur perencanaan pembelajaran/pelatihan/pembimbingan dan penilaian hasil pembelajaran/pelatihan/ pembimbingan juga dihitung sebagai beban kerja. Berbeda dengan guru, perencanaan yang terdiri dari menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran tidak dihitung sebagai beban kerja, begitu juga butir kegiatan penilaian hasil belajar tidak dihitung sebagai beban kerja, karena perhitungan hanya berdasarkan jam pelajaran tatap muka di depan kelas.

Persoalannya bagaimana cara menghitung beban kerja pamong belajar dalam seminggu?

Berdasarkan perhitungan, pamong belajar (dan jabatan fungsional pada umumnya) selama 4 tahun periode kenaikan pangkat normal bekerja secara efektif selama 5000 jam. Sedangkan kebutuhan angka kredit untuk kenaikan jenjang pamong belajar pertama adalah 50. Maka ditemukan koefisien sebesar 50/5000= 0,01. Artinya jika pamong belajar pertama bekerja selama 1 jam maka ia akan mendapatkan angka kredit setara 0,01. Sebaliknya, jika seorang pamong belajar pertama mendapatkan angka kredit 0,01 ia dianggap bekerja selama 1 jam.

Pamong belajar muda memerlukan 100 angka kredit untuk naik pangkat dan atau jabatan, maka koefisiennya adalah 100/5000= 0,02. Artinya jika pamong belajar muda bekerja selama 1 jam maka ia akan mendapatkan angka kredit setara 0,02. Sebaliknya, jika seorang pamong belajar muda mendapatkan angka kredit 0,02 ia dianggap bekerja selama 1 jam.

Pamong belajar madya memerlukan 150 angka kredit untuk naik pangkat dan atau jabatan, maka koefisiennya adalah 150/5000= 0,03. Artinya jika pamong belajar muda bekerja selama 1 jam maka ia akan mendapatkan angka kredit setara 0,03. Sebaliknya, jika seorang pamong belajar muda mendapatkan angka kredit 0,03 ia dianggap bekerja selama 1 jam.

Berdasarkan ketentuan pasal 4 ayat 2 Permenpan RB nomor 15 Tahun 2010 dan perhitungan di atas maka dapat disimulasikan bahwa seorang pamong belajar muda yang mengampu atau melaksanakan pembelajaran 4 (empat) kali dalam satu minggu, dengan asumsi membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melakukan penilaian formatif pada akhir minggu maka ia sudah memenuhi ketentuan minimal beban kerja minimal 24 jam per minggu. Tabel berikut ini akan memberikan gambaran perhitungan secara lebih jelas, sebagai contoh penghitungan untuk pamong belajar muda. Hasil untuk pamong belajar pertama dan madya dengan melakukan butir kegiatan yang sama, untuk kasus ini, hasilnya akan sama yaitu memenuhi beban kerja minimal.

pb-muda-melaksanakan-kbm-4-kali-seminggu1

Pada tahap pamong belajar muda melaksanakan identifikasi penyelenggaraan program PNFI sebagai ketua memperoleh angka kredit sebesar 0,48 maka jika kegiatan tersebut dilakukan dalam satu minggu ia sudah memenuhi ketentuan minimal beban kerja. Karena 0,48/0,02= 24. Namun demikian pamong belajar pertama yang melaksanakan kegiatan serupa sebagai anggota memperoleh angka kredit 0,22. Pamong belajar pertama tersebut harus menambah angka kredit minimal 0,02 dalam minggu berjalan untuk memenuhi ketentuan minimal beban kerja.

Perhitungan di atas belum termasuk butir kegiatan lainnya, untuk perencanaan pembelajaran masih ada butir kegiatan (1) Melaksanakan pemantapan persiapan kegiatan pembelajaran/pelatihan/ pembimbingan; (2) Menyusun desain penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar; (3) Menyusun silabus. Pelaksanaan butir-butir kegiatan tersebut bisa diatur pada minggu-minggu berikutnya untuk memenuhi beban kerja dalam seminggu.

Demikian pula setelah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar selain menyusun instrumen dan menilai, masih ada butir-butir kegiatan lainnya yang bisa dilakukan pada waktu yang lain untuk menyesuaikan beban kerja dalam satu minggu.

Muncul pertanyaan yang sudah menjadi diskusi hangat, yaitu bagaimana dengan pamong belajar yang tidak mengampu pada satuan pendidikan nonformal? Dikaitkan dengan status pamong belajar sebagai pendidik bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu (1) pamong belajar yang mengampu pada satuan pendidikan secara reguler; (2) pamong belajar yang tidak mengampu secara reguler tetapi sering atau terkadang mengisi atau sebagai narasumber pada diklat; (3) pamong belajar yang hanya sebagai penyelenggara atau pengelola satuan pendidikan nonformal atau program pada UPT/UPTD-nya.

Pamong belajar kategori pertama tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi ketentuan beban kerja minimal berdasarkan simulasi perhitungan di atas. Pamong belajar pada kategori pertama ini adalah pamong belajar yang bertugas misalnya sebagai pendidik PAUD, tutor pendidikan kesetaraan, tutor pendidikan keaksaraan, atau instruktur pada satuan pendidikan nonformal binaan SKB/BPKB/BPPNFI/P2PNFI.

Pamong belajar kategori kedua bisa memenuhi ketentuan beban kerja minimal selama bisa melakukan kegiatan belajar mengajar empat kali seminggu. Jika memiliki kurang dari empat kali tatap muka melaksanakan pembelajaran, maka ia harus melakukan kegiatan pengkajian dan pengembangan model dan butir-butir kegiatan lainnya. Sedangkan pamong belajar yang masuk kategori ketiga perlu didorong untuk melakukan kegiatan belajar mengajar atau tugas pokok pamong belajar lainnya.

Pada kesempatan berikutnya akan saya uraikan bagaimana menghitung beban kerja minimal bagi pamong belajar yang tidak memiliki atau mengampu satuan pendidikan nonformal secara reguler.