Magang NVRC 114Oleh Bakti Riyanta

Semakin susah menemukan orang “baik” di negeri ini. Orang “baik” identik dengan orang yang memiliki sifat-sifat yang baik, ber-budi dan ber-pakarti luhur. Banyak orang pintar tetapi orang yang baik semakin menjadi makhluk langka yang terancam “kepunahan”.

Media massa banyak menampilkan perilaku orang yang memuakkan publik, betapa sudah tidak ada lagi rasa malu orang berbuat tidak terpuji, berbohong, tidak jujur, curang, merugikan orang lain. Perilaku yang semestinya menjadi aib dan dirahasiakan, justeru diungkap ke publik bahkan melakukan jumpa pers untuk melakukan pembelaan habis-habisan dan dijadikan komoditas untuk mendongkrak popularitas. Ironis, rasa malu dan bersalah tidak ada lagi.

Bagi publik, itu suatu yang memuakkan dan menjengkelkan tetapi tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berharap hal-hal semacam itu berkurang dan tidak ada lagi, tetapi kapan?.

Terkikisnya Keluarga Sebagai Media Pembentukan Karakter

Semua orangtua berpengharapan anak-anaknya menjadi orang yang berhasil dalam karier dan menjadi orang baik. Setiap upaya dilakukannya agar anak-anaknya sukses dikemudian hari, baik biaya maupun perlakuan. Untuk anak apapun dilakukan, biaya besar meski susah payah ngutang kri kanan gali lubang tutup lubang. Upaya itu mesti dibarengi dengan perlakuan terhadap anak dengan tepat.

Kecenderungan orangtua saat ini lebih protektif terhadap anak. Anak saat ini lebih ditekankan untuk belajar dan dibebaskan dari kegiatan membantu pekerjaan di rumah dan mengurus kebutuhan sendiri. Orangtua cenderung memanjakan anak dengan tidak memberi beban tanggungjawab sekalipun itu untuk kebutuhan pribadi anak.

Anak-anak sekarang tidak lagi mengurus keperluannya sendiri, baju tinggal pakai, makan tinggal pilih makanan sudah disiapkan, alat-alat bermain sudah disediakan/dibelikan. Anak sudah  tidak lagi dibebani untuk mencuci dan menyeterika baju, mencuci piring, atau membantu pekerjaan rumah tangga yang lain. Anak membantu bekerja di sawah, mencari rumput untuk pakan ternak sudah jarang ditemukan. Orangtua beranggapan pekerjaan-pekerjaan untuk anak akan memberatkan anak dan membuat kesempatan belajar berkurang sehingga mengganggu sekolahnya. Anggapan yang tidak selalu benar, dan kadangkala justeru kalau perlakuan terhadap anak tidak proporsional dan tanpa kontrol akan berakibat sebaliknya.

Jujur, Tangung Jawab, Mandiri, Peduli: Pilar untuk Menjadi Orang “Baik”

Jika pemuka-pemuka negeri berisi orang-orang jujur, tanggung jawab, mandiri, dan peduli pasti bangsa ini sudah lebih sejahtera. Penyelewengan dalam berbagai hal untuk kepentingan pribadi dan golongan dengan mengatasnamakan rakyat yang seakan sudah menjadi pemaklumnan tidak akan muncul lagi. Itulah orang baik yang dirindukan banyak orang dan bangsa ini.

Orang jujur disenangi banyak orang. Meski memiliki banyak kekurangan di sisi yang lain, orang  jujur akan dihormati dan disegani. Orang jujur akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan tidak jujur, dan akan terganggu serta merasa tidak nyaman jika melakukan perbuatan kebohongan sekecil apapun. Kejujuran tidak hanya kepada orang lain tetapi juga kepada dirinya sendiri dan dalam situasi diketahui orang maupun tidak..

Orang yang bertanggung jawab akan melakukan tugas dengan baik sesuai dengan kemampuannya. Orang yang bertanggung jawab juga tidak akan menimpakan suatu kesalahan atau kepada orang lain, tidak mempermalukan orang lain, Segala sesuatu yang melibatkan /menyangkut dirinya akan diterima dengan lapang dada sebagai bagian dari tanggung jawabnya dan berusaha untuk menyelesaikan suatu persoalan dengan sebaik-baiknya dan dapat diterima banyak orang.

Orang yang mandiri tidak akan merepotkan banyak orang, termasuk oran g-orang terdekatnya. Merasa risih jika hal-hal yang sepele saja harus membuat orang repot. Sesuatu yang dapat dikerjakan/diselsaikan sendiri kenapa harus membuat repot orang lain. Orang yang mendiri akan berusaha sekuat tenaga untuk beridiri di atas kaki sendiri. Kemandirian mencakup dalam berbagai hal dari  mengurus diri, pekerjaan sampai pada upaya untuk survive dalam kehidupan.

Sekuat apapun, manusia dalam kehidupan pasti membutuhkan orang lain. Tidak ada orang yang dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan orang lain. Kenyataan tersebut mengharuskan orang untuk tidak saja hanya mau menerima bantuan orang lain tetapi juga menyadarkan orang untuk saling memberidan menerima. Orang yang peduli selalu siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta/benda yang dimiliknya untuk sekedar dapat meringankan beban orang lain.

Aktivitas “Kecil” Berdampak “Besar”

Tugas anak memang hanya bermain dan belajar, tetapi bermain dan belajar itu dapat dilakukan melalui berbagai cara dan media. Aktivitas keseharian dapat menjadi media untuk bermain dan belajar yang dampaknya tidak saja dapat dilihat saat ini tetapi kelak di kemudian hari. Contoh: Ketika suatu saat anak harus di rumah dalam jangka waktu cukup lama tanpa pembantu tanpa makanan, jika anak tidak dilatih untuk mandiri pasti akan jadi masalah baik bagi anak maupun orangtua. Ketika anak sudah terlatih mandiri, maka itu bukan masalah bagi anak dan orangtua juga cukup tenang. Anak dapat menyiapkan makan sendiri, dapat mengatur dirinya, dapat membereskan rumah, dapat menjaga diri dan keamanan rumah, dan sebagainya.

Aktivitas-aktivitas “kecil” di keluarga dalam keseharian dapat dioptimalkan dan dilakukan lebih intensif. Kejujuran, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian dapat dibangun sejak dini.

Melatih Kejujuran

Kejujuran dapat dilatih melalui kegiatan-kegiatan sederhana di keluarga. Biasakan anak untuk berkata dan berlaku jujur. Orangtua harus peka jika anak berbuat tidak jujur dan menari cara agar anak dapat berlaku jujur. Misalnya dengan menanyakan aktivitas anak meski orangtua sudah tahu yang dikerjakannya dan anak diminta menceritakannya. Mengajak/meminta anak melakukan tugas tertentu dan orangtua selalu melakukan cheking dengan menanyakan atau melihat hasil kerja serta mengingatkan jika tidak sesuai. Ketika diminta mandi pastikan sudah mandi dengan benar atau belum, ketika mengembalikan barang/benda ke suatu tempat apakah sudah benar dilakukan atau belum, ketika ke sekolah apakah benar sampai sekolah atau tidak, ketika ke warrnet untuk mengerjakan tugas sekolah apakah benar untuk mengerjakan tugas sekolah, dan sebagainya.

Sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuannya anak juga diberi kepercayaan untuk melakukan tugas atau mengelola suatu. Berbelanja, menabung, membagi makanan untuk seluruh anggota keluarga, dan sebagainya dapat menanamkan kejujuran..

Melatih Tanggung Jawab

Tanggung jawab dapat dilatih melalui hal-hal sederhana di rumah. Biasakan anak untuk membantu pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuannya. Merapikan tempat tidur, membuka jendela dipagi hari, menutup jendela di sore hari, membuka dan menutup tirai, menghidupkan listrik sesuai keperluan, menutup dan mengunci pintu, meletakkan sandal dan sepatu dengan benar, m embantu mencuci piring, menyapu, member makan ternak/hewan piaraan secara rutin. Hal-hal sederhana tersebut sangat membantu membentuk karakter anak untuk memiliki sikap tanggung jawab, yang pada suatu saat tanpa diminta atau diketahui orangpun anakakan mengetahui apa yang mesti dilakukan untuk menyelsaikan suatu persoalan.

Melatih Kemandirian

Kemampuan mengurus diri seperti itu wajib dimiliki oleh setiap orang, dan setiap orangtua mesti menyadari hal tersebut dan kemanfaatannya untuk anak itu sendiri di kemudian hari jika harus menghadapi situasi tertentu yang mengharuskan anak untuk mengurus dirinya sendiri tidak lagi menimbulkan kekhawatiran.

Biasakan anak untuk makan sendiri, mengambil makanan minuman sendiri. Jika anak sudah mampu, libatkan anak dalam kegiatan menyiapkan makanan memasak yang sederhana seperti memasak mi instan, menanak nasi, menggoreng telor, dan sebagainya. Mencuci piring, gelas, pakaian dapat mulai dikenalkan anak. Meski di rumah ada pembantu atau orangtua mampu melakukannya sendiri, hal-hal seperti itu harus dikenalkan pada anak. Jangan biarkan anak bermental “juragan” meski keluarga memiliki kemampuan financial cukup.

Melatih Peduli

Saling tolong menolong, selalui ingat pada saudara dalam suka maupun duka adalah cerminan dari kepedulian. Kepedulian dapat dilatih melalui berbagai kegiatan sederhana. Misalnya: biasakan anak untuk berbagi mkanan, ketika pergi membeli sesuatu ajak anak untuk juga membelikan adik/kakak saudaranya, menjenguk kerabat yang sakit, mengantarkan makanan untuk tetangga, memberi sedekah kepada peminta-minta, memberikan infaq ketika shalat jumat di masjid, menolong teman yang jatuh, dan sebagainya. Libatkan dan ajak anak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut dan sejenisnya dengan intensif, agar dalamdiri anak terbangun rasa kepedulian yang tulus.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hamemayu Edisi 3 Volume I Bulan Juli 2013.
Penulis adalah pamong belajar di BPKB DIY. Di balik karakter orangnya yang pendiam namun menyimpan sejuta ide untuk dituliskan, terutama terkait dengan pendidikan anak usia dini.