pramuka-sma-1982Kebanyakan pada satuan pendidikan menengah (SMA/SMK) pendidikan kepramukaan tidak diwajibkan bagi siswa. Kewajiban mengikuti pendidikan kepramukaan umumnya diterapkan pada satuan pendidikan dasar (SD/SMP). Ketika pendidikan kepramukaan menjadi pilihan ekstrakurikuer di SMA/SMK biasanya akan sepi peminat, kalah bersaing dengan bentuk ekstrakuriler lainnya. Hal ini disebabkan karena kesulitan mengemas kegiatan kepramukaan golongan Penegak yang sesuai dengan minat dan perkembangan jiwa usia Pramuka Penegak.

Sebagian peserta didik merasakan bahwa materi dan bentuk kegiatan yang dialami pada golongan Penegak cenderung pengulangan dari materi dan bentuk kegiatan golongan Penggalang. Hampir tidak ada bedanya. Sebagian besar gugusdepan menerapkan bentuk dan materi latihan bagi Pramuka Penegak sama dengan Pramuka Penggalang, bahkan metode pendekatan yang digunakannya juga sama; dan kurang dipahaminya konsep kegiatan di alam terbuka. Pelaksanaan kegiatan di alam terbuka diterjemahkan dalam arti sempit, yaitu sekedar memindahkan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas ke luar kelas di lapangan atau halaman sekolah saja.

Pengembangan bentuk kegiatan Pramuka Penegak dapat dilacak dari uraian Baden Powell dalam bukunya yang berjudul Rovering to Success. Dalam buku itu digambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampan pribadinya menuju pantai bahagia melewati batu-batu karang. Ide Baden Powell tersebut mengandung maksud bahwa pada tahapan usia Pramuka Penegak bentuk kegiatan kepramukaan diarahkan pada pembentukan watak dan kepribadian yang mandiri. Kemandirian tidak hanya dalam konteks mampu menyelamatkan diri sendiri dalam menghadapi tantangan kehidupan, namun juga mampu memberikan sesuatu kepada orang lain dari kemandiriannya itu. Merupakan tugas utama pendidikan kepramukaan mengubah keakuan pada seorang remaja/pemuda menjadi sikap dan perilaku bakti dan mengabdi pada sesama manusia.

Pramuka Penegak di negara asalnya yaitu Inggris, disebut dengan Rover. Rover diartikan sebagai pengembara atau penjelajah. Karena itulah rujukan yang digunakan dalam mengembangkan kegiatan golongan Penegak adalah mengemas kegiatan yang bersifat pengembaraan atau penjelajahan (rovering). Sesuai dengan perkembangan jiwa usia Pramuka Penegak yang berada pada tahap peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa diperlukan pengalaman kehidupan yang menantang. Kegiatan rovering biasanya dilakukan di alam terbuka, sehingga kegiatan Pramuka Penegak semestinya banyak beorientasi pada kegiatan di alam bebas. Pada perkembangan dewasa ini kegiatan rovering di berbagai negara di samping kegiatan di alam bebas juga berbentuk kegiatan pengembangan kepemimpinan, kecakapan hidup (life skills), ketrampilan berkomukasi, spritual dan sosial, serta kegiatan sesuai dengan minat. Pada konteks Indonesia bentuk kegiatan-kegiatan tersebut dikemas dalam wadah pembinaan yang disebut satuan karya (Saka).

Pada konteks inilah maka kegiatan Pramuka Penegak tidak berbeda dengan kegiatan pecinta alam. Mengapa tidak? Ketika kelompok pecinta alam belum tumbuh dan berkembang, kegiatan kepanduan dulu sudah melakukannya. Namun dalam perkembangannya kegiatan di alam bebas pada pendidikan kepramukaan, khususnya Penegak, menjadi stagnan sedangkan kegiatan kelompok pecinta alam menjadi lebih beragam dan menarik minat kaum muda. Bahkan di beberapa daerah kelompok pecinta alam terkenal didirikan oleh mantan pandu dan aktivis pendidikan kepramukaan.

Saya mempunyai pengalaman pada masa Penegak menarik ketika diharuskan bertahan hidup di alam bebas, di kawasan hutan Kalikuning Kaliurang Yogyakarta. Tidak boleh membawa bekal makanan instan. Berbekal beras dan kompor darurat diharuskan mencari tumbuhan apa pun yang bisa dimakan. Sudah barang tentu sebelumnya dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan mengidentifikasi jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Pengalaman dan latihan ini bagi saya cukup membekas dan menjadi landasan yang kuat untuk mampu bertahan dalam kehidupan yang keras setelah dewasa.

Ambalan saya dulu juga pernah melakukan kegiatan penelusuran Selokan Mataram di Yogyakarta. Namanya memang selokan, tapi jangan dibayangkan seperti selokan di pinggir jalan. Selokan Mataram adalah saluran irigasi selebar 5 meter yang menghubungkan Sungai Progo di barat DIY dan Sungai Opak di DIY. Sri Sultan Hamengkubuwono IX berinisiatif membangun selokan Mataram di era penjajahan Jepang dengan alasan untuk menghindarkan rakyatnya dari perintah Jepang untuk berangkat romusha. Karena itulah ketika Jepang memerintahkan rakyat Yogyakarta untuk mengikuti romusha, beliau menolak dengan alasan rakyatnya masih menyelesaikan proyek itu. Kini selokan Mataram mengaliri ribuan hektar sawah di Yogyakarta.

Sumber foto: http://yogyes.com

Sumber foto: yogyes.com

Penelurusan selokan Mataram dilakukan dengan menggunakan rakit yang dirangkai sendiri oleh Penegak. Karena itulah penelurusan selokan ini juga dinamakan pengembaraan rakit. Kegiatan penelusuran selokan Mataram ini sudah barang tentu dilakukan dengan survei terlebih dahulu, dan disinilah Penegak sudah mulai berlatih untuk merencanakan perjalanan, mengidentifikasi hambatan, merencanakan droping logistik dan perijinan. Inilah pengembaraan atau rovering dalam arti sesungguhnya. Pengembaraan di alam bebas sekaligus pengembaraan dalam kehidupan. Dalam hal ini Penegak akan berlatih mengelola sebuah kegiatan di bawah bimbingan Pembina.

Pada prinsipnya terdapat perbedaan bentuk kegiatan antara golongan Pramuka Penggalang dengan Pramuka Penegak. Bentuk kegiatan Pramuka Penggalang lebih diwarnai dengan permainan-permainan gembira, dan aktivitas traditional scouting, misalnya: tali-temali, morse, semaphore dan sebagainya yang mengarahkan agar ia menjadi seorang pandu (scout). Pengembangan kegiatan pendidikan kepramukaan Pramuka Penegak diarahkan pada pembentukan sikap kemandirian serta sikap dan perilaku bakti. Karena itulah pada tingkatan golongan ini sebaiknya dikembangkan kegiatan yang lebih bersifat penjelajahan di alam bebas.

Pengembangan kegiatan Pramuka Penegak ke arah penjelajahan akan menepis anggapan yang berkembang adalah bahwa dunia kepramukaan adalah hanya dunia anak-anak. Kegiatan lain yang bisa diaplikasikan untuk Pramuka Penegak adalah lintas medan, mountainering, caving dan lain sebagainya. Melalui bentuk-bentuk kegiatan tersebut sikap kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan (alam dan sosial) para Pramuka dibentuk dan dikembangkan.

Pembina Pramuka Penegak diduga sebagai penyebab kegiatan golongan Penegak tidak bervariasi dan sesuai dengan perkembangan jiwa kaum muda. Dalam mengantisipasi kebutuhan Pembina telah dilakukan dengan menyelenggarakan Kursus Mahir tingkat Dasar dan Lanjutan. Namun Pembina yang bermutu tidak bisa hanya dihasilkan dengan Kursus yang diadakan selama tiga minggu. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pembentukan Pembina yang bermutu dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap perkembangan dan tantangan pendidikan kepramukaan. Faktor yang menurut saya penting adalah pengalaman Pembina sebagai peserta didik pendidikan kepramukaa, sudah barang tentu pengalaman yang dimilikinya juga bermutu. Mutu yang dimaksud adalah bahwa proses pendidikan kepramukaan yang dialaminya men-indahkan konsep dan ide dasar kepramukaan, khususnya prinsip-prinsip dasar dan metodik pendidikan kepramukaan, serta mampu menerjemahkan dan mengemas kegiatan kepramukaan sesuai dengan perkembangan usia peserta didik dan perkembangan masyarakat.

Saat ini masih banyak Pembina Pramuka yang memperlakukan pendidikan kepramukaan sebagai bagian dan bentuk pendidikan formal. Padahal pendidikan kepramukaan merupakan bentuk pendidikan nonformal, pendekatan dan strategi pembelajarannya sangat berbeda dengan pendekatan dan strategi proses belajar mengajar di kelas. Keadaan ini akan semakin memperburuk keadaan, karena pada tahap perkembangan masyarakat dewasa ini sangat dibutuhkan Pembina Pramuka yang mampu melakukan inovasi dan mampu memperbaiki keadaan. Sehingga kejayaan jaman kepanduan dapat ditegakkan kembali terutama dalam rangka lebih memberikan makna peran pendidikan kepramukaan dalam ikut serta membangun karakter bangsa yang sedang carut marut ini.

Langkah strategis dalam usaha meningkatkan mutu (mengembalikan mutu) pendidikan kepramukaan untuk golongan Pramuka Penegak adalah dengan mengadakan Gladian Pimpinan Satuan Penegak (Dianpinsat). Melalui Dianpinsat dapat ditransformasikan ide dasar dan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan bagi golongan Penegak, serta gagasan-gagasan dalam menyegarkan kembali proses pendidikan dan kegiatan Pramuka Penegak yang selama ini dinilai telah mengalami erosi pada sebagian prinsip dasar dan metodik pendidikan kepramukaan.

Dianpinsat dipandang strategis karena yang dibina adalah para pimpinan satuan, sehingga dengan demikian setelah kembali ke satuannya (Gugusdepan) mereka diharapkan dapat mengembangkan bentuk-bentuk pendidikan dan kegiatan yang menarik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Diharapkan pramuka penegak yang memiliki pengalaman mengikuti pendidikan kepramukaan yang bermutu di kelak kemudian hari berpotensi menjadi Pembina yang cakap dan mampu mengimbangi perkembangan jamannya dalam membina kaum muda Indonesia.

pramuka-dkd