Oleh Anshori (Pamong Belajar SKB Pati, Jawa Tengah)

AnshoriBanyak pertanyaan yang diajukan oleh para tutor/pamong belajar bagaimana mengatasi masalah kedisiplinan, kehadiran warga belajar motivasi yang rendah. Berikut ini Anshori, salah seorang pamong belajar SKB Pati yang tergolong senior memberikan tips.

Mengomentari pendidikan kesetaraan Paket C rasanya kok semangat banget, apalagi seperti saya yang setiap hari selalu dihadapkan pada permasalahan tetek bengek program ini, memang benar aku juga ya… sangat resprek dan mendukung adanya aturan yang terkait dengan kesetaraan khususnya Paket C termasuk beban belajar.Tapi sambil berjalan pelan-pelan pembenahan menujubeban belajar tersebut, yang lebih mendasari terlaksananya suatu aturan termasuk beban belajar salah satunya ya kedisiplinan.

Untuk menerapkan disiplin diperlukan aturan dan tata tertib dari yang berwewenang dan terkait yang kemudian dengan komitmen dan kesepakatan harus ditaati dan disepakati dibarengi dengan sanksi dan hadiah (Disiplin internal pengelola/ penyelenggara) kalau yang namanya disiplin internal ini sudah dinilai ada konsistensi, barulah dibuat untuk sasaran tenaga sumber dan tutor dan inipun diperlukan aturan bersama dengan konsekwensinya. Baru dapat dimulai kedisiplinan kepada warga belajar. Tentu saja hal ini akan terkait dengan permasalahan pembiayaan penyelenggaraan.

Sebagian besar program kesetaraan Paket C sumber utama pembiayaan penyelenggaraannya adalah dari keswadayaan warga belajar dan sumber lain yang tidak mengikat, walaupun tidak dipungkiri bantuan dari pemerintah juga banyak. Hal ini kadang akan menjadi dilema bagi para pengelola untuk menerapkan kedisiplinan bagi warga belajar yang implikasinya akan mengurangi sumber pembiayaan, yang selanjutnya bagi para pengelola sulit untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya termasuk menegur, mengingatkan, apalagi memberikan sanksi pada pihak yang pantas untuk dikenai sanksi.

Apa yang dipaparkan pada tulisan tersebut merupakan sesuatu yang pernah kami lakukan dan rasakan. Dan alhasil bila diniati dengan tulus dan disertai kesungguhan dan keberanian untuk menghadapi segala resikonya, ternyata hasilnya sesuatu yang luar biasa yaitu dengan menerapkan disiplin kepada warga belajar dan tutor jumlah warga belajar dari tahun ke tahun justru bertambah, bahkan dengan mohon maaf harus ditolak.

Konsekwensinya pengelola dan tutor:

  1. Setiap 2 bulan merekap seluruh presensi warga belajar perbidang studi dan perbulan
  2. Merekap warga belajar yang belum membayar bantuan pembelajaran, beserta alasannya
  3. Merekap presentasi tingkat kehadiran tutor, dan penggantinya
  4. Juga merekap warga belajar yang hadir tapi terlambat, dan berapa menit tingkat keterlambatannya.
  5. Merekap warga belajar yang sudah dan belum menumpuk tugas portofolio
  6. Menindak lanjuti presentase hasil rekapan dan menentukan sanki kepada warga belajar dan atau tutor dengan katagori yang sudah ditentutan bersama di tata tertib (peringatan, dikeluarkan, tidak naik, penilaian)
  7. Menindak lanjuti protes warga belajar dan tutor

 

 

 

Bagaimana hal ini akan bisa dihormati dan disepakati, bila tutor siap pembelajaran warga belajar belum ada 50 % tingkat kehadirannya, atau sebaliknya warga sudah banyak hadir malah tutornya yang sering terlambat, apabila ini sering terjadi dipastikan akan membahayakan untuk kelanjutannya. Demikian juga akan sangat berdampak negatif bila warga yang rajin dengan yang tidak rajin harus diperlakukan dan dinilai tidak ada bedanya.

Untuk itulah harus berani dan konsekwen mengambil resiko dalam menerapkan kedisiplinan lebih dulu, baru kalau sudah disiplin/mapan, beban belajar dan yang lain-lain mudah untuk diterapkan. Dan janganlah berharap kedisiplinan seperti membalik tangan, apalagi kalau hal ini sudah membudaya atau sudah berjalan bertahun-tahun, ini masalah prilaku. Bersabarlah untuk menunggu 2-3 tahun baru dapat dirasakan.Gunakan aturan disiplin dengan penuh kearifan, memahami latar belakang kelompok sasaran, dan jangan lupa akan budaya lokal.

Bagi para perancang dan pemikir silahkan untuk membenahi dari sisi hukum kesetaraannya, dan bagi kami yang ada diujung selalu berhadapan dengan lapangan, warga belajar dengan segala aspek latar belakang sosial ekonominya, juga dengan sarana dan prasarana yang serba minimnya. Pantas kalau acuan kesetaraan yang dipakai dipikiran kita adalah seperti SMA baik dari sisi beban belajar, maka ya tidak terlalu salah bila ada yang menanyakan dan menyangsikan tingkat kesetaraan…