Menakar Nasib Tutor Murni Pendidikan Kesetaraan

Paket C di Bintan KepriYogyakarta (20/12) Nasib tutor pendidikan kesetaraan (Paket A, Paket B, dan Paket C) dari waktu ke waktu semakin tidak jelas. Ketidakjelasan nasib tutor pendidikan kesetaraan di samping dipengaruhi oleh faktor kebijakan, boleh jadi juga karena praktek pendidikan kesetaraan yang selama ini dianggap kurang tertib oleh pemerintah. Terkadang harapan tutor juga melambung tinggi, misalnya ingin diangkat sebagai pegawai negeri sipil.

Tutor pendidikan kesetaraan dapat dibedakan sebagai tutor murni dan tutor yang berasal dari guru atau pamong belajar. Tutor murni adalah pendidik pada pendidikan kesetaraan yang tidak memiliki latar belakang sebagai guru atau pamong belajar. Artinya tutor murni dalam kesehariannya tidak mengerjakan tugas kegiatan belajar mengajar sebagaimana guru atau pamong belajar.

Jumlah tutor murni pada satuan pendidikan kesetaraan jumlahnya tidak sedikit. Kelompok inilah yang selama ini nasibnya masih belum banyak diperhatikan oleh pemerintah. Padahal kontribusinya tidak sedikit dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan kesetaraan. Kesejahteraan atau honorarium yang diterima masih jauh dari memadai, apalagi satuan pendidikan kesetaraan tidak mendapatkan alokasi bantuan sosial dari pemerintah.

Selama politik anggaran pemerintah terkait dengan pendidikan nonformal, khususnya pendidikan kesetaraan masih seperti dewasa ini maka nasib tutor pendidikan kesetaraan tidak akan beranjak jauh. Ketugasan tutor pendidikan kesetaraan masih dipandang sebagai panggilan jiwa sosial atau sebagai tugas sosial.

Karena itulah merupakan keniscayaan kita mengharapkan kualitas pembelajaran jika kesejahteraan tutor murni tidak diperhatikan oleh pemangku kepentingan. Bagaimana kita menuntut tutor untuk menyiapkan perangkat pembelajaran sesuai dengan kaidah dan pemetaan satuan kredit kompetensi jika mereka tidak mendapatkan kesejahteraan yang memadai? Begitu pula proses pelaksanaan pembelajaran juga tidak dilaksanakan dengan optimal.

Terlebih tutor murni, walaupun berlatarbelakang kependidikan, namun karena keseharian tidak melaksanakan tugas kegiatan belajar mengajar akan sangat sulit untuk dioptimalkan menguasai penyiapan perangkat pembelajaran dan pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar.

Tidak sedikit tutor murni bersedia mengabdikan diri mengajar pada pendidikan kesetaraan dengan harapan suatu ketika dapat diusulkan menjadi pegawai negeri sipil. Harapan yang sulit diwujudkan pada masa sekarang ini, terlebih tutor murni tersebut melaksanakan tugas pada lembaga/satuan pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan oleh masyarakat (swasta). Tutor murni yang mengabdi pada instansi pemerintah, di Paket C Sanggar Kegiatan Belajar misalnya, tidak ada jaminan untuk diangkat sebagai pegawai negeri sipil.

1 tanggapan pada “Menakar Nasib Tutor Murni Pendidikan Kesetaraan”

  1. Perubahan kebijakan pemerintah dalam hal pegelolaan pendidikan kesetaraan, yang menyebabkan tutor selalu dikalahkan denganyang namanya “Kebijakan “.
    meski sudah ada Forum kesetaraan, namun gema dan perjuangannya masih belum seampuh Forum Pendidikan Usia Dini.
    Meski cuma insentif yang diterima 6 bulan sekali bahkan diterima satu tahun sekali, Pendidik Pendidikan Usia Dini selalu paling depan untuk mendapatkannya.
    Benarkah Wajib Belajar 9 bahkan 12 tahun hanya SLOGAN yang selalu dimunculkan untuk ketuntasan peserta didik dalam hal memenuhi hak-haknya dalam menrima pendidikan.
    Ataukah kita tetap menyerahkan kepada Guru dan pamong belajar sebagai ujung tombak paling depan dan sebagai kerja sampingan . perlunya reaksi dari Forum Kesetaraan.

Komentar ditutup.