Agus SadidOleh Agus Sadid, M.Pd. (Ketua PD Ikatan Pamong Belajar Indonesia  Provinsi NTB)

Pendahuluan

Dunia Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) adalah dunia yang indah, beragam dan sarat dengan nilai-nilai humanisme. Jika dalam dunia pendidikan formal, siswa nakal, hamil, tawuran langsung dikeluarkan dari sekolah. Kemudian tindakan pelecehan seksual, kekerasan seksual sering terjadi di sekolah, maka di dalam Pendidikan Nonformal dan Informal hal tersebut belum pernah terjadi, tentunya hal tersebut juga mengindikasikan bahwa di jalur PNFI sangat sesuai bagi anak-anak kita. Sayangnya, jalur PNFI masih tetap mengalami diskriminasi dan “penzholiman” yang nyata. Coba simak pada dukungan anggaran, ketersediaan sarana prasarana, sentuhan layanan mutu, perhatian dalam aspek regulasi atau kebijakan baik dari tingkat pusat-propinsi dan kabupaten/kota, masih jauh api dari panggang. Fakta menunjukan bahwa untuk satu bidang PNFI yang kecil saja seperti PAUD, APK PAUD secara nasional baru mencapai 35%, dari target 75% ditahun 2015. Pada tingkat propinsi, misalnya NTB, APK PAUD baru mencapai 34%, capaian APK PAUD tertinggi hanya di kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Lombok Timur dan Kota Mataram yang rata-rata sudah mencapai 80%. Untuk di kabupaten Sumbawa, misalnya APK PAUD baru mencapai 35%. Dari satu aspek PNFI saja, yaitu pada bidang PAUD,Indonesia masih kalang kabut mengejar pemenuhan target tersebut, apalagi disisi lain, semakin jauh ketinggalan.

Salah satu jenis pendidik dan tenaga kependidikan di jalur PNFI adalah Pamong Belajar dan Penilik. Pamong Belajar mengerjakan pekerjaan pokok pada domain pembelajaran pada kelompok belajar PNFI seperti PAUD, Pendidikan Keaksaraan, Pendidikan Kesetaraan, Pendidikan Kursus. Dengan kata lain Pamong Belajar adalah guru dalam jalur tersebut, sedangkan Penilik adalah pengawas, melakukan kepengawasan, kepenilikan dalam rangka pengendalian mutu serta pemastian kualitas program-program PNFI yang dilaksanakan oleh satuan PNFI seperti PKBM, LKP, PAUD, Keaksaraan dan kesetaraan. Dua jenis profesi tersebut bukan pekerjaan main-main, karena yang memangku jabatan tersebut haruslah telah melalui uji kompetensi dan kelayakan sebagai Pamong Belajar dan Penilik. Luarbiasa beban tugas dan tanggung jawabnya, tetapi sangat tidak sebanding dengan penghargaan, kompensasi dan perlindungan yang diberikan pemerintah kepada dua profesi tersebut yaitu Pamong Belajar dan Penilik.

Jika dunia pendidikan formal, memberikan penghargaan, kompensasi dan perlindungan yang optimal kepada para guru, dosen dan pengawas sekolah sehigga mereka bekerja dengan baik, tekun dan fokus maka berbanding terbalik dengan dunia PNFI. Jika Frederick Herzberg dalam teori Hygene Motivator, menekankan bahwa penghargaan berupa kompensasi, uang atau kesejahteraan adalah faktor penyehat, sehingga memenuhi hal tersebut akan membuat orang menjadi sehat, bersemangat bekerja dan akan berpengaruh terhadap kinerja. Maka, sejatinya pemerintah juga harus memperhatikan dua jabatan dalam PNFI yaitu Pamong Belajar dan Penilik. Karena, tanggung jawab mereka setara dengan apa yang dilakukan oleh para guru dan pengawas di jalur formal. Pemerintah dalam berbagai forum dan Rakor ditingkat regional, pusat bahkan koridor selalu mengejar-ngejar target pelayanan prima yang harus dilakukan oleh para Pamong Belajar dan Penilik, tetapi pemerintah sendiri tidak mau mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan dan tuntutan mereka, maka ibarat pepatah “anjing mengong-gong, kafilah berlalu”. Sungguh tragis jika hal ini terus berlanjut.

Antara Membumihanguskan dan Membumikan  

Membumihanguskan bermakna mengahancurkan, memusnahkan, meniadakan dan menghilangkan. Pamong Belajar dan Penilik dalam sistem pendidikan kita merupakan kelompok jabatan fungsional, yang hanya disebutkan secara tersurat, implisit dan tersamar. Dalam PP nomor 19 tahun 2005, UU nomor 20 tahun 2003 tidak ada pasal khusus tentang Pamong Belajar dan Penilik, berbeda dengan guru dan dosen. Terlebih jika dikaitkan dengan UU Guru dan Dosen, semakin tenggelam yang namanya Pamong Belajar dan Penilik. Regulasi lain dalam bentuk Peraturan Menteri, Peraturan Presiden atau Inpres terkait dengan Pamong Belajar dan Penilik masih belum nampak. Padahal regulasi tersebut sangat dibutuhkan sebagai acuan daerah atau propinsi memberikan penguatan kepada mereka.  Kondisi tersebutlah yang memuncukan kesimpulan tentatif dari para Pamong Belajar dan Penilik bahwa pemerintah telah menyusun grand design secara sistematis untuk membumihanguskan dua jabatan dalam jalur PNFI. Padahal, tentunya direktorat PAUDNI tidak akan muncul jika tidak memiliki kelompok jabatan fungsional Pamong Belajar dan Penilik. Siapa pula yang akan melaksanakan dan mengembangkan program PAUDNI sebagai sebuah kebijakan pusat kalau bukan Pamong Belajar dan Penilik  yang tersebar pada SKB kabupaten/kota, BPKB propinsi dan BPPAUDNI.

Pekerjaan sistematis adalah pekerjaan yang melibatkan banyak orang, terprogram dengan sempurna. Itikad dan kehendak untuk meniadakan jabatan tersebut semakin kuat, karena sudah tidak ada kemauan lagi dari pemerintah pusat untuk menerbitkan regulasi atau kebjiakan yang pro kepada mereka. Adalah sebauah keharusan untuk mengangkat dan memberikan penghargaan dan perlindungan yang maksimal kepada para agen pendidikan di jalur PNFI. Kepedulian yang nyata dari pemerintah pusat terhadap kesejahteraan. Ingatlah, bahwa jika kita semua menyadari, sadar sepenuh hati jika PNFI adalah bagian dari sistem pendidikan nasional, bidang yang mampu menjadi pilihan bagi masyarakat yang mengharapkan sebuah pendidikan yang humanis dan bermartabat, maka keberpihak pemerintah harus terwujudkan dalam pemberian kesejahteraan dan penghargaan kepada para Pamong Belajar dan Penilik, itu hanya salah satunya.

Membumikan bermakna upaya menjadikan sesuatu dibutuhkan oleh masyarakat, mengakar dari bawah dan menyentuh apa yang dirasakan sebagai sebuah keharusan dari masyarakat. Jika sudah membumi , tentunya akan tumbuh kuat dan mampu memberikan layanan yang sesuai dengan keinginan rakyat. Membumikan bermakna juga  menjadikan sebuah profesi mampu dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Apakah profesi Pamong Belajar dan Penilik telah membumi atau dengan kata lain dibutuhkan oleh masyarakat? Jika di dunia formal, profesi guru begitu sentral dan berpengaruh, coba bayangkan jika guru dan dosen mogok, maka dunia sekolah akan runtuh, hal ini menujukan bahwa guru telah menjadi profesi yang membumi. Bagaimakah dengan Pamong Belajar dan Penilik? Apa yang terjadi jika Pamong Belajar dan Penilik mogok kerja? Apakah dunia PNF akan lumpuh? Pada sisi ini jawabannya adalah belum mampu membumi. Namun demikian, membumikan adalah langkah-langkah yang akan dilakukan dalam upaya membuat masyarakat membutuhkan Pamong Belajar dan Penilik.

Wujud Keberpihakan

Membumikan Pamong Belajar dan Penilik tentunya merupakan langkah yang harus didukung oleh pemerintah baik pusat, propinsi maupun kabupaten/kota. Sekali lagi regulasi yang pro kepada mereka adalah hal yang konkret yang dapat membuktikan bahwa semua pihak dari pusat sampai kedaerah peduli kepada PNFI. Layanan peningkatan mutu, sentuhan penguatan kelembagaan dan stimulus terhadap kebangkitan Pamong Belajar dan Penilik. Dunia PNFI sungguh mampu memberikan solusi ditengah karut marut rendahnya SDM yang ada, PNFI juga mampu memberikan perlindungan dan hak-hak kepada anak usia dini, anak terlantar, para pengangguran, para perempuan marginal dan tentunya upaya pengentasan kemiskinan. Keberpihakan pemerintah kepada PNFI diwujudkan dalam bentuk (1) penganggaran yang memadai, (2) peningkatan kesejahteraan dan pernghargaan kepada para Pamong Belajar dan Peniiik  dan (3) penguatan layanan penigkatan mutu bagi Pamong Belajar dan Penilik.

Menghentikan retorika dan kebijakan pencitraan yang hanya indah pada tataran konsep dan wacana-wacana dalam ajang forum, justru semakin menyakitkan dan memperpanjang penderitaan dunia PNFI, para pendidik dan tenaga kependidikan PNF dan para stakeholders di bidang PNFI. Pemerintah sekarang sedang menghadapi “tuduhan” sistematis dari para Pamong Belajar dan Penilik, sejatinya pemerintah sekarang memikirkan mereka bukan? Apakah pemerintah sekarang benar sedang melakukan kebijakan membumihanguskan Pamong Belajar dan Penilik? Atau apakah pemerintah sekarang masih peduli kepada Pamong Belajar dan Penilik? Dan Apakah membantu mereka membumikan jabatan Pamong Belajar dan Penilik? Stigma negatif pemerintah terhadap itikad untuk menguatkan Pamong Belajar dan Penilik melalui kebijakan-kebijakan regulasi yang pro mereka masih minim, sehingga hal tersebut diindikasikan sebagai upaya sistematis menenggelamkan, menghancurkan, meniadakan dan terakhir adalah membumihanguskan Pamong Belajar dan Penilik.

Penutup

Pamong Belajar dan Penilik PNFI dudah diambang kepunahan (meminjam istilah eks Ketum IPABI Pusat), jangan biarkan mereka hilang dan tenggelam. Pemerintah harus bertindak cepat melalui langkah nyata berbentuk(1) menerbitkan regulasi yang mendorong peningkatan kesejahteraan, penghargaan dna pelindungan, (2) menyetarakan jabatan mereka setara dengan guru dan dosen, sehingga dapat segera mendapat perlakuan yang seimbang sebagaimana dengan guru dan dosen. PNFI adalah indah dan bermartabat, PNFI mampu dijadikan tumpuan untuk mencapai visi pendidikan Indonesia, percayalah kepada penulis. Untuk itu, berikan kepedulian, keberpihakan dan hak-hak para pendidik dan tenaga kependidikan PNFI, setarakan mereka sebagaimana dengan pendidikan formal.

Sumbangan tulisan pihak ketiga belum tentu menggambarkan pandangan atau sikap pemilik blog.