kraton yogyaKeraton Yogyakarta dibangun bersama para bangsawan, para pengikut dari Surakarta, rakyat setempat dan  berbagai suku bangsa lainnya. Itulah di antaranya yang menyebabkan masyarakat Yogyakarta warna-warni dan terbuka. Sejak semula orang-orang telah biasa berdampingan hidup rukun bekerjasama. Keanekaragaman yang serasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga tampak nyata dalam keprajuritan.

Prajurit-prajurit keraton tidak hanya terdiri dari orang-orang Jawa, tetapi juga orang-orang Bugis dari Sulawesi dan orang-orang Bali. Para prajurit dari luar Jawa ini dahulu ikut bahu-membahu memerangi VOC Belanda. Orang-orang Bali juga sangat ahli dalam seni bangunan. Mereka dikenal dengan sebutan orang kalang. Orang-orang Tionghoa, tidak hanya menghidupkan perekonomian. Dari antara mereka juga terdapat prajurit-prajurit pilihan yang berhasil memimpin pasukan.

Keraton dirancang tidak hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan istana tempat tinggal raja sekeluarga. Tetapi juga pusat pemerintahan, pertahanan dan kegiatan ekonomi. Keraton juga menjadi perwujudan nyata pemikiran-pemikiran mendalam lingkungan alam, sosial dan budaya. Keraton Yogyakarta berada di antara jejak-jejak Mataram awal warisan para leluhurnya yaitu Banguntapan, Kotagede, Kerta dan Pleret yang telah lama ditinggalkan. Bahkan, semuanya itu tidak jauh dari jejak-jejak kerajaan besar Mataram kuna yang tinggal puingan candi-candinya.

Yka 11bKeraton terapit dua pasang kembaran sungai besar dan kecil. Di sebelah timur dekat benteng mengalir sungai kecil Code dan jauh di luar benteng adalah sungai besar Opak. Di sebelah barat dekat benteng membujur sungai kecil Winongo dan jauh di luar benteng adalah sungai besar Progo. Sungai-sungai yang mengapit tidak hanya bernilai guna praktis, tetapi juga lambang-lambang kehidupan sebuah negeri. Keselarasan batin raja dan rakyatnya menyatu dalam keseimbangan alam dalam bingkai kerohanian.

Jauh di ujung utara keraton menjulang gunung Merapi yang sangat aktif. Di ujung jauh sebelah selatan terhampar samudera raya yang kini disebut samudera Indonesia. Gunung menjadi lambang ayah yang bijaksana dan melindungi. Laut menjadi lambang ibu yang menghidupi, menampung dan melenyapkan segala keburukan. Julang gunung membubungkan impian melambung ke angkasa tanpa batas alam raya. Palung laut menancapkan dan mengendapkan harapan  ke dasar kedalaman terbayangkan tetapi tidak mudah dicapai manusia.  Keraton berada di dalam pita garis lurus antara puncak gunung dan samudera raya.

Di tengah-tengahnya itulah, kancah kaprajan atau pemerintahan dikelola, suatu peradaban dibangun. Peradaban baru itu merupakan perwujudan semangat dasar berdasarkan pandangan hidup hamemayu hayuning bawana. Adalah sebentuk sambungan kesadaran agung jagad raya dan pribadi manusia. Bagaimana awal pembangunannya? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan