mahabarataOleh Anis Ilahi W.

Padang kurusetra – lokasi perang Baratayudha (perang besar, perang pungkasan, perang habis-habisan) antara pandawa dan kurawa mempampangkan peta jalan kematian para elit dan juga jalan kematian para rakyat. Sebagaimana jamaknya rakyat, maka ia satu-satu akan mati dengan caranya yang sederhana. Cara mati oleh sebab ketidaktahuan, kemelaratan, keterpaksaan, kenaifan dan juga serba keterbatasan. Namun cara mati ini justru lebih indah. Dhek sek – mati seketika – tanpa rasa sakit, apalagi rasa derita dan rasa takut. Mati dengan tersenyum.

Mati cara rakyat, berbeda dengan jalan kematian para elit yang mengundang iba, mengundang sesal bahkan mengundang kegundahgulanaan karena mati dalam derita, mati dalam berpanjang-panjang waktu seolah nyawa tidak mau lepas sebelum tubuh hancur lebur dan darah muncrat kemana-mana membasahi bumi, mati yang begitu menyiksa.

Lihatlah matinya Dursasana. Ia mati dibantai Werkudoro, tangan dan kakinya dilepas dari tubuhnya – dilempar ke langit, tubuhnya berdarah-darah, mulutnya mengerang kesakitan, erangan yang mencekam semua mahluk bumi hingga semutpun iba dibuatnya. Ditubuh yang tidak lagi lengkap dan berlumur darah itu, Werkudoro menyeretnya hingga sampai di hadapan Drupadi. Dada Dursasanapun dibelah, darahnya muncrat sebagian, sebagian digunakan untuk mencuci rambut Drupadi sebagai laku balas dendam – sesuai sumpahnya. Kematian Dursasana adik Duryudono, elit kerajaan Kurawa adalah kematian yang sama persis dengan kelakuannya semasa hidup ketika menyeret-nyeret, mempermalukan, menghina dan menyakiti Drupadi di sebuah sidang istana yang terhormat.

Padang Kurusetra tidak saja mempertontonkan jalan kematian para eltit kurawa seperti Bisma, Guru Drona, Karna, Sengkuni dan Duryudono tetapi juga mempertontonkan jalan kematian elit pandawa seperti Gatotkaca dan Abimanyu. Semua jalan kematian itu menggambarkan bahwa kematian para elit berkorelasi dengan seberapa besar, seberapa dalam, seberapa jujur, seberapa tanggungjawab didalam memanfaatkan kekuasaan ditangan untuk memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan umat manusia. Semakin ingkar, maka akan semakin panjang dan rumit jalan kematian itu.

Bahkan jalan kematian Sengkuni digambarkan sebagai sebuah jalan kematian yang amat berliku, ruh yang seolah tiada kunjung lepas dari tubuh yang koyak, ketakutan yang menyergap dari segala arah, hingga rintihan terakhirnya yang mengibakan dan juga mengundang senyum. Sengkuni mati dengan kata terakhir dan nada memelas “Keponakanku …?!”, kata yang selalu ia sebut ketika bersama Duryudono merencanakan dan melaksanakan pengkhianatan serta kebiadaban terhadap sebuah kebenaran.

Elit ada di semua titik kehidupan. Bisa jadi seseorang bukan siapa-siapa dimata yang lain tapi ia adalah elit di keluarga. Juga sangat mungkin elit di lingkungan pekerjaan, elit di sebuah kelompok profesi dan di berbagai jenis elit lainnya. Ketika menjadi elit – menurut kisah Mahabarata – maka jalan kematian itu akan sama sebangun dengan cara melihat, menggunakan dan memanfaatkan status keelitannya itu. Semakin tinggi status sebuah elit, semakin tinggi tanggungawabnya, jika kemudian semakin ingkar, maka jalan kematian akan semakin berliku, semakin mengibakan dan bahkan tidak tertutup kemungkinan menapaki jalan kematian yang meraung-raung menggetarkan dunia seperti jalan kematian Dursasana. Jalan kematian itu tidak seorangpun mampu menghindar, termasuk oleh para elit partai. Salam. [Anis Ilahi W]

Sumber foto: http://ummuhikari.blogspot.com/2014/05/perang-baratayuda.html

Anis Ilahi*) Anis Ilahi Wahdati adalah mantan Ketua Dewan Kerja Penegak dan Pandega Kwarda XII DIY masa bakti 1997-2001