pramuka5Gerakan Pramuka dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 238 tahun 1961, yang merupakan peleburan dari puluhan organisasi kepanduan. Gerakan Pramuka mengemban misi utama sebagai wadah pembinaan watak dan kepribadian generasi muda, yang dalam pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip kepanduan yang dikemukakan oleh pendirinya Lord Baden Powell. Di Indonesia prinsip-prinsip kepanduan itu dikenal sebagai prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Karena ciri-ciri prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang melekat maka Gerakan Pramuka berfungsi sebagai lembaga pendidikan, utamanya lembaga pendidikan bagi anak, remaja dan pemuda Indonesia yang berusia 7 tahun sampai dengan 25 tahun digolongkan ke dalam golongan Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega.

Ide Dasar Pendidikan Kepramukaan
Proses pendidikan di dalam Gerakan Pramuka berlangsung pada satuan yang disebut wadah pembinaan, adapun wadah pembinaan yang pertama dan utama adalah Gugusdepan. Dapat dikatakan bahwa Gugusdepan merupakan satuan terdepan dalam usaha pendidikan dalam Gerakan Pramuka. Bahkan lebih ekstrim lagi disebutkan bahwa tanpa berlangsungnya proses pendidikan di dalam Gugusdepan maka usaha-usaha pendidikan Gerakan Pramuka tidak ada artinya. Karena memang di dalam wadah atau lembaga Gugusdepan itu sebagian besar proses pendidikan di dalam Gerakan Pramuka berlangsung. Di dalam wadah itulah berlangsung proses pendidikan, atau lebih luas lagi proses sosialisasi dimana peserta didik mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku, dan standard tingkah laku dalam masyarakat dimana ia hidup.

Proses pendidikan kepramukaan di Gugusdepan adalah proses pendidikan dan pembinaan yang dilakukan oleh seorang pendidik, yang meliputi pembinaan di bidang pengetahuan, sikap, dan ketrampilan dengan titik berat pembinaan pada aspek pengetahuan dan sikap. Sedang proses pendidikannya dilakukan melalui proses pencapaian syarat-syarat kecakapan umum dan syarat-syarat kecakapan khusus serta penghayatan kode kehormatan. Penitikberatan pada aspek pengetahuan dan sikap ini sesuai dengan misi utama Gerakan Pramuka dalam upaya pembinaan watak dan kepribadian, dan konsisten dengan ide dasar Baden Powell bahwa esensi pendidikan kepanduan adalah pembinaan kecerdasan, watak, dan karakter. Bila dalam kegiatan kepramukaan dilakukan kegiatan ketrampilan dan ketangkasan bukanlah semata-mata menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi terhadap suatu ketrampilan, namun kegiatan ketrampilan tersebut adalah sebagai alat pendidikan dalam usaha membantu perkembangan jiwa dan sikap peserta didik. Namun demikian Gerakan Pramuka tetap memberikan perhatian bagi pembinaan ketrampilan, dan usaha intensif ke arah usaha tersebut dilakukan melalui wadah pembinaan yang disebut dengan Satuan Karya.

Ide dasar pendidikan kepramukaan adalah permainan gembira di alam terbuka, dimana anak-anak dan pemuda menerima pengalaman-pengalaman menarik, membina kesehatan, kebahagiaan, ketangkasan tangan dan sifat suka menolong, dibawah bimbingan orang dewasa dengan hubungan sebagai kakak dan adik. Lebih lanjut Baden Powell mengatakan bahwa tujuan latihan kepanduan (kepramukaan) ialah memperbaiki mutu warga negara pada generasi yang akan datang, terutama karakter dan kesehatannya, mengganti aku dengan bakti membuat anak seorang yang efisien mengabdi pada sesama manusia. Dalam negara yang merdeka orang mudah mengatakan dirinya seorang warga negara yang baik bila ia selalu taat pada undang-undang, mengerjakan pekerjaannya, dan menyatakan pilihan politiknya, olah raga dan kegiatan-kegiatan lain dan menyerahkan kepada negara untuk memikirkan masalah kesejahteraan negara. Menurut Baden Powell keadaan demikian itu adalah warga negara yang pasif, tetapi warga negara yang pasif ini tidak cukup untuk mempertahankan isi kemerdekaan, keadilan dan kehormatan di dunia. Karena itu dibutuhkan juga warga negara yang aktif.

Kedudukan pendidikan kepramukaan sebagai daya dukung sistem pendidikan, terutama untuk melengkapi upaya jalur pendidikan sekolah, dapat ditilik dari ide dasar Baden Powell tentang pendidikan kepanduan. Menurut Baden Powell pendidikan kepanduan (kepramukaan) menitikberatkan pada pengembangan watak dan jiwa anak dan pemuda. Walapun konsep pendidikan formal dijiwai oleh tiga ranah pendidikan, yaitu kognisi, afeksi, dan ketrampilan, namun tidak bisa kita sangkal kelemahan perangkat pendidikan formal untuk mengembangkan ranah afeksi secara optimal. Pada sisi inilah kehadiran pendidikan kepramukaan diperlukan dalam sistem pendidikan nasional.

Melunturnya Jati Diri
Permasalahan utama yang dihadapi oleh pendidikan kepramukaan saat ini adalah kekhawatiran semakin melunturnya jati diri Gerakan Pramuka. Semakin melunturnya jati diri Gerakan Pramuka disebabkan oleh tererosinya pelaksanaan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Hal ini berakibat bahwa proses pendidikan kepramukaan semakin kehilangan warna aslinya, sehingga kualitas proses dan hasil pendidikannya kurang memuaskan. Salah satu penyebab melunturnya jati diri Gerakan Pramuka/pendidikan kepramukaan adalah terlalu melekatnya pendidikan kepramukaan (yang notabene adalah bentuk pendidikan non formal) pada lembaga pendidikan formal. Akibatnya terjadi intervensi pengelola lembaga pendidikan formal (sekolah) yang kurang memahami karakter proses pendidikan kepramukaan ke dalam Gerakan Pramuka. Bagi pengelola jajaran Gerakan Pramuka (Kwartir) campur tangan pengelola lembaga pendidikan formal tersebut memang tidak selamanya negatif, namun yang paling merasakan adalah para peserta didiknya. Seringkali peran Pembina Pramuka dirangkap oleh guru pada sekolah yang bersangkutan, hal ini sebenarnya agak merepotkan peserta didik dalam berinteraksi dengan Pembinanya (yang juga gurunya) yang di dalam proses pendidikan kepramukaan berhubungan sebagai kakak dan adik. Disamping itu bagi Pembina akan muncul berbagai kendala dalam menerapkan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan karena perannya sebagai guru pada pangkalan Gugusdepan yang bersangkutan.

Keadaan yang paling mengkhawatirkan adalah kesalahan penerapan metodik pendidikan kepramukaan oleh para Pembina. Tidak jarang kita jumpai para Pembina menerapkan metode latihan dan pembelajaran yang berlaku di dalam pendidikan formal pada proses pendidikan kepramukaan. Misalnya dengan penggunaan metode klasikal/ massal dan terlampau dominasinya penggunaan metode ceramah dalam latihan kepramukaan. Keadaan tersebut menyebabkan bosannya peserta didik terhadap latihan kepramukaan. Padahal Boden Powell mengemukakan bahwa pendidikan kepramukaan adalah permainan gembira di alam terbuka. Namun hal tersebut jangan diartikan sempit dengan cukup menerapkan sebuah latihan di lapangan terbuka serta mengajak adik-adik tepuk-tepuk dan bernyanyi. Melainkan menerapkan metode latihan sesuai prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan dalam rangka memberikan materi-materi guna mencapai tujuan Gerakan Pramuka.

Hal yang dipandang esensi dalam pelaksanaan metodik pendidikan kepramukaan adalah penerapan sistem tanda kecakapan dan sistem beregu. Melalui sistem tanda kecakapan potensi yang berbeda pada setiap peserta didik dikembangkan secara optimal. Sistem tanda kecakapan mendidik Pramuka untuk memiliki motivasi mencapai yang terbaik, serta keinginan untuk maju dan mengembangkan diri. Apabila seorang Pramuka telah mencapai suatu syarat kecakapan tertentu akan diberi penghargaan, yaitu berupa tanda kecakapan yang dikenakan pada baju seragam Pramuka. Sedangkan melalui sistem beregu Pramuka dididik untuk bergaul dan bermasyarakat pada kelompok kecilnya dan satuan-satuannya. Penerapan sistem beregu diharapkan mampu menggeser metode klasikal yang dipandang kurang menguntungkan bagi proses pendidikan kepramukaan.

Namun kenyataannya sekarang kita sangat jarang menjumpai para Pramuka yang mengenakan berbagai tanda kecakapan di baju seragamnya. Sementara itu dalam penerapan sistem beregu Pembina sekedar membagi Pramuka dalam regu-regu atau kelompok-kelompok kecil lainnya secara fisik, tetapi tidak diikuti implementasinya. Jadi hakekat sistem beregu tidak terletak semata pada pembagian Pramuka ke dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi pada penerapannya menjadikan regu/kelompok sebagai kesatuan kerja dan bermain baik dalam disiplin maupun dalam menjalankan kewajiban. Dengan demikian menuntut pula kemauan dan kepercayaan Pembina untuk memberikan kekuasaan dan tanggung jawab ke pada pemimpin regu.

Maka apabila kita hendak meningkatkan jati diri Gerakan Pramuka maka hendaklah berpandangan usaha pendidikan kepramukaan tidak hanya bersandar pada isi/materi yang diberikan namun yang paling penting adalah metodenya (prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan). Karena perbedaan pendidikan kepramukaan dengan bentuk pendidikan lainnya terletak pada metode dan pendekatan yang digunakan dalam mengisi jiwa anak. Sebagai sebuah metode dan pendekatan pendidikan, prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan memberikan arahan, rambu-rambu bagi para Pembina dalam mendidik peserta didiknya dan memberikan inspirasi bagi bentuk seluruh program kegiatan kepramukaan. Adapun prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan secara lengkap adalah prinsip kesukarelaan, prinsip kode kehormatan dalam bentuk janji dan ketentuan moral, sistem beregu, sistem satuan terpisah untuk anggota putera dan anggota puteri, sistem tanda kecakapan, kegiatan menarik yang mengandung pendidikan, penyesuaian dengan perkembangan rohani dan jasmani, keprasahajaan hidup dan swadaya.

Mutu Pembina Pramuka Rendah
Masalah lain yang dihadapi Gerakan Pramuka saat ini adalah rendahnya kualitas dan kuantitas Pembina Pramuka. Sudah amat jarang terjadi munculnya Pembina baru dari para peserta didik yang memiliki pengalaman ketika menjadi Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega. Banyak Pembina yang muncul karena jabatannya sebagai guru, misalnya guru olah raga, guru bimbingan, yang notabene kurang memiliki pengalaman yang cukup sebagai anggota Gerakan Pramuka sebelumnya. Kurangnya pengalaman mereka sebagai peserta didik sudah barang tentu berakibat pada lemahnya pemahaman mereka terhadap ide dasar pendidikan kepramukaan.

Di Kwartir Daerah XII Daerah Istimewa Yogyakarta kekurangan jumlah Pembina dapat diketahui dari ratio Pembina berbanding peserta didik sebagai 1 : 40 orang. Angka tersebut masih jauh dari ketentuan ratio ideal sebesar 1 Pembina untuk 10 orang peserta didik. Keadaan tersebut masih ditambah dengan adanya kenyataan seorang Pembina merangkap membina pada beberapa sekolah atau Gugusdepan. Hal tersebut sudah barang tentu akan menghambat usaha peningkatan kualitas proses pendidikan kepramukaan di Gugusdepan, karena kurang intensifnya Pembina melakukan pembinaan pada peserta didiknya.

Memang, dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas Pembina Pramuka diadakan Kursus Mahir Pembina, baik tingkat Dasar maupun Lanjutan. Tetapi manakala peserta Kursus Mahir Pembina adalah Pembina karbitan, menjadi Pembina karena jabatan, bagi pelaksanaan proses pendidikan kepramukaan kurang memadai. Diharapkan Pembina Pramuka muncul dari para calon-calon Pembina yang benar-benar memiliki pengalaman sebagai peserta didik atau memahami ide dasar pendidikan kepramukaan. Tidak sekedar memandang pendidikan kepramukaan sebagai pelengkap kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, melainkan mendudukkan pendidikan kepramukaan dalam sistem pendidikan nasional, yaitu sebagai penunjang sub sistem pendidikan persekolahan (formal).

Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas proses pendidikan kepramukaan sesuai dengan yang dirujuk pada prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, maka kemampuan dan ketrampilan para Pembina harus mendapat perhatian. Tampaknya diperlukan Pembina Pramuka yang benar-benar memahami dan menguasai pendidikan kepramukaan. Untuk itu harus dihindari munculnya Pembina Pramuka karbitan apabila Gerakan Pramuka masih ingin memberikan makna dalam sistem pendidikan nasional di masa mendatang.

Kembalikan ke Tengah Masyarakat
Sebenarnya pada awalnya pendidikan kepramukaan berada di tengah-tengah masyarakat, tidak melekat pada lembaga pendidikan formal. Artinya, Gugusdepan Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan luar sekolah seharusnya berpangkalan di masyarakat. Guna mengendalikan dan menangkal menyusupnya paham komunis ke dalam jajaran Gerakan Pramuka pada awal pertumbuhan Gerakan Pramuka, maka pada perkembangan berikutnya dan sampai sekarang Gugusdepan Gerakan Pramuka dititipkan pada sekolah. Serta alasan lainnya, yaitu guna memudahkan menghimpun peserta didik dan pengadaan tenaga Pembina dari para guru.

Melihat perkembangan saat ini, sudah waktunya kita mengembalikan kedudukan Gugusdepan Gerakan Pramuka di tengah-tengah masyarakat. Anak, remaja, dan pemuda yang berhak mengikuti pendidikan kepramukaan tidak hanya mereka yang duduk di bangku sekolah saja, tetapi juga mereka yang tidak atau belum sempat mengikuti pendidikan sekolah serta pemuda putus sekolah. Namun demikian alasan utamanya adalah mengembalikan esensi pendidikan kepramukaan sebagai bentuk pendidikan luar sekolah serta mengurangi terjadinya erosi berlebihan terhadap metodik pendidikan kepramukaan. Sedikit banyak lepasnya Gugusdepan Gerakan Pramuka dari sekolah/ pendidikan formal akan membantu terciptanya kondisi yang memungkinkan untuk mengembangkan dan menerapkan prinsip dasar pendidikan kepramukaan, karena Gugusdepan tidak lagi terikat dengan birokrasi persekolahan. Dengan demikian jati diri pendidikan kepramukaan yang terpancar melalui penerapan metodiknya akan meningkat dan mengembang. Namun kiranya hal tersebut memerlukan kemauan pada setiap jajaran Gerakan Pramuka serta kemandirian organisasi Gerakan Pramuka.

Pinggir Krasak, Sleman Yogyakarta