560455_4428037907290_1159312708_nOleh Edi Basuki

Dalam upaya turut serta menangani masalah banyaknya anak putus sekolah karena berbagai hal (paling dominan adalah masalah ekonomi dan kemiskinan), serta berupaya membantu pemerintah dalam hal pemerataan pendidikan bagi warga bangsa, maka, masyarakat diperkenankan turut serta menanganinya melalui jalur pendidikan nonformal (PNF), tentunya dengan berbagai aturan yang dipersyaratkan.

Seperti diketahui bahwa sasaran PNF adalah masyarakat yang tidak sempat menamatkan atau mengenyam pendidikan lewat bangku sekolah, karena ketidak berdayaan sosial, ekonomi, budaya dan geografis, yang diorientasikan pada penguasaan kompetensi dan kecakapan hidup sebagai bekal bekerja dan bermasyarakat nanti. Pemerintah pun (melalui bidang PNF) memfasilitasi pendirian pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), maupun kelompok belajar, baik program keaksaraan maupun program pendidikan kesetaraan.

Salah satunya adalah Lukas Kambali, bersama teman-temannya yang memiliki idealisme untuk berbagi ilmu dan membantu mereka yang ingin bersekolah agar bisa meningkatkan mutu hidupnya dalam arti luas, maka mereka bersepakat mendirikan PKBM, yang diberi nama “Bina Abdi Wiyata” Surabaya.

Dengan bekal pengabdian, rasa sosial untuk peduli dan berbagi, Lukas Kambali bekerjasama dengan Kepala Sekolah SDN Pacar Kembang 3 Surabaya, menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan paket A setara SD, paket B setara SMP, dan paket C setara SMA.

Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan malam hari itu, ternyata menarik banyak pemuda putus sekolah untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka berangkat dari berbagai latar belakang, ada yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, kuli bangunan, pedagang asongan, kerja serabutan, penjaga toko, buruh pabrik, dan pengangguran karena malas dan tidak punya biaya, sehingga sangat berpengaruh terhadap temperamen dan motivasi mengikuti program.

“Sungguh tidak mudah membina anak-anak dari golongan bawah yang beragam karakter. Harus sabar dan memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, karena imbalan finansialnya sangat tidak layak, hanya cukup untuk beli bensin. Tapi kami punya keyakinan bahwa manusia itu pada dasarnya harus saling tolong menolong, berbagi dan mengabdi, kami percaya pasti ada hikmahnya, Tuhan maha adil.” Kata Lukas Kambali mengungkapkan motivasinya menyelenggarakan program kesetaraan. Sungguh apa yang dikatakan pria asli Pare, Kabupaten Kediri ini dalam sekali maknanya.

Walau pun ada program sekolah gratis bagi anak usia sekolah, namun nyatanya mereka lebih memilih program pendidikan kesetaraan dengan berbagai alasan. Diantaranya, pembelajaran diadakan malam hari, fleksibel dan agak santai, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya bekerja mencari nafkah.

“Dengan segala keterbatasan yang ada pada kami, warga belajar kami yang lulus, telah banyak yang mendapatkan pekerjaan lebih layak dari sebelumnya. Ada pula yang memanfaatkan ijasah kesetaraan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, kuliah di perguruan tinggi swasta, pun ada yang memanfaatkan ijasah kesetaraan untuk mendaftar sebagai satpam di perusahaan maupun menjadi tentara, sekarang sedang menjalani pendidikannya. Ini membuktikan bahwa lembaga kami yang masih ala kadarnya juga telah turut berperan membantu anak bangsa untuk meningkatkan mutu hidupnya,” Kata Lukas merendah saat ditanya tentang perkembangan PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya.

Untuk menyiapkan warga belajar mengikuti ujian nasional yang sebentar lagi dilaksanakan, Lukas yang juga sebagai ketua forum komunikasi PKBM Kota Surabaya, bersama tutor yang lain berusaha memberikan pelajaran tambahan berupa latihan soal dari semua materi pelajaran yang akan diujikan.

Hal ini penting, karena seringkali warga belajar  “grogi dan galau” ketika menghadapi lembar soal, sehingga lupa menulis nama atau salah dalam menghitamkan nomor ujian di kolom yang tersedia. Begitu juga saat menghitamkan jawaban di kolom jawaban, kurang ditekan dan tidak penuh, sehingga tidak terbaca oleh komputer. Hal-hal kecil  ini tentu sangat merugikan, sehingga perlu dilatihkan agar pada saatnya nanti warga belajar bisa melakukan dengan baik dan benar.

Terbukti, dengan pendekatan yang dilakukan oleh Lukas Kambali dan teman-teman tutor PKBM “Bina ABdi Wiyata” Surabaya, warga belajar semakin percaya diri dan banyak yang berhasil lulus. Bagi yang telah lulus, mereka pun, tetap sering datang ke PKBM, sekedar ngobrol dan bercerita tentang aktivitasnya setelah berhasil memanfaatkan ijasah paket C untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Mereka seringkali oleh tutor  disuruh berbagi cerita di hadapan warga belajar lain untuk memotivasi agar warga belajar yakin bahwa program pendidikan kesetaraan itu juga bisa digunakan untuk melamar pekerjaan seperti halnya ijasah sekolah formal. Hal ini juga untuk mematahkan mitos bahwa pendidikan itu hanyalah yang dilakukan melalui persekolahan saja.

Demikianlah sebagian dari suka duka pengalaman Lukas Kambali bersama tutor PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya dalam berpartisipasi membantu pemerintah mengurai masalah putus sekolah, melalui penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan kelompok belajar paket A,B, dan C dengan segala keterbatasan sekaligus keberhasilannya, mengantarkan mereka yang putus sekolah untuk meraih kehidupan yang semakin layak. *[edibasuki/humasipabi.pusat_online]

ebas 1*) Edi Basuki adalah pamong belajar BPPAUDNI Regional II Surabaya saat ini menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat IPABI