KursusYogyakarta (18/05) Di bulan Februari lalu saya ditugasi Dinas Dikpora Provinsi DIY melakukan visitasi dalam rangka penilaian Lomba Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Pada setiap LKP yang dikunjungi saya selalu bertanya dan menggali informasi tentang jumlah warga belajar yang saat itu sedang tercatat mengikuti kursus. Data yang saya peroleh ternyata mengejutkan, ada LKP yang pada saat itu hanya tercatat 3-4 orang saja yang sedang mengikuti kursus.

Pada kesempatan diklat pengelola LKP se-DIY yang diikuti oleh kategori LKP kinerja B dan C pada awal bulan Mei ini di BPKB DIY, pertanyaan serupa juga saya lontarkan. Pembelajaran pada diklat saya setting menjadi ajang diskusi dengan topik kondisi yang dihadapi oleh LKP. Dengan menggunakan metode curah pendapat, peserta benar-benar mencurahkan isi hatinya.

Hampir 90% peserta diklat yang notabene adalah pengelola LKP menyatakan bahwa LKP-nya kembang-kempis karena minimnya jumlah warga belajar yang mendaftar. Padahal warga belajar yang mendaftar merupakan sumber utama pendapatan LKP. Rata-rata warga belajar yang sekarang aktif mengikuti kursus sekitar 4 orang saja. Hanya satu LKP yang menginformasikan saat ini ada 20 orang yang aktif mengikuti kursus. Bahkan ada juga yang menginformasikan saat ini tidak ada satu orang pun yang sedang tercatat mengikuti kursus, alias blong tidak ada pembelajaran.

Gejala minimnya peserta kursus ini umumnya dialami oleh LKP dengan program kursus seperti program komputer aplikasi, dan menjahit.

Mereka mengatakan bahwa dengan kondisi seperti itu, untuk membiayai operasional saja sudah tidak mencukupi. Maka, tidak sedikit di antara mereka yang mengakui tertolong dengan adanya bantuan sosial dari Direktorat Binkursus Kemdikbud.

Mengapa hal itu terjadi? Saya melihat LKP dengan program yang sudah jenuh akan sulit bersaing mendapatkan peserta didik. Apalagi dikelola dengan manajemen rumahan, ya akhirnya hanya mendapatkan peserta didik yang minim. Di sisi lain, saat ini banyak program keterampilan yang dikembangkan oleh sekolah baik secara intrakurikuler maupun ekstrakurikuler menyebabkan peminat kursus menurun. Karena peserta didik sudah mendapatkan di bangku sekolah.

Karena itulah mengapa program komputer aplikasi sepi peminat. Siswa sudah mendapatkan pelajaran di sekolah. Bahkan untuk program aplikasi seperti desain grafis, animasi dan sejenisnya banyak anak-anak sekarang yang belajar sendiri atau belajar dari temannya. Hal mana di dunia maya banyak tersedia modul dan forum tanya jawab tentang program aplikasi tersebut.

Contohnya anak pertama saya, saat ini sudah menguasai coreldraw dan photoshop bahkan sudah berhasil berjualan desain kaos secara online, tapi sama sekali tidak pernah kursus komputer di LKP.  Cukup baca buku modul, mencoba dan mencoba serta belajar dengan sesama teman sambil mencari informasi di dunia maya.

Saya pun dulu ketika menguasai video editing dengan program Adobe Premier tidak kursus. Melihat, baca buku dan latihan dan mencoba produksi. Mendiskusikan dengan ahlinya. Akhinya bisa juga.

Inilah tantangan dunia kursus saat ini. Nampaknya hanya kursus yang sifatnya vokasi yang masih dibanjiri peminat. Misalnya kursus satpam (security), pramugari dan crew darat, pekerja kapal pesiar dan kursus yang menjanjikan mendapatkan penempatan kerja. Kursus menjahit jika mampu bekerja sama dengan perusahaan garmen juga akan kebanjiran peminat.

Orang Jawa bilang sawang sinawang, apa yang kita lihat belum tentu seperti yang kita lihat kasat mata. Banyak LKP yang mampu berkembang, namun jumlahnya memang tidak banyak. Biasanya LKP bukan vokasi tetapi berkembang dan mampu menghidupi karyawannya memiliki usaha di luar core bussiness kursus. Dan itu tidak masuk kategori LKP kembang kempis. Hal mana bisa dilihat dari penampakan gedung LKP yang megah dan para pengelolanya yang menggunakan mobil keluaran terbaru.

Ironisnya, LKP kembang-kembis ini masih luput dari pengamatan kita. Dan sayang tidak dijadikan contoh sebagai pembanding dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) oleh Dr. Wartanto, Direktur Binkursus, tahun lalu.