dian kurnia muldaniOleh: Dian Kurnia Muldani

Dalam dua dekade terakhir bimbingan belajar atau kita sebut bimbel bukan hanya dilihat dari sudut pandang pendidikan tetapi sekaligus merupakan sebuah peluang bisnis yang menggiurkan.

Apabila melintasi jalan di kota Yogyakarta, tidak ada satupun jalan yang luput dari keberadaan bimbel. Mereka berderet dan juga berhadap-hadapan dengan merek yang berbeda-beda. Hal demikian sangat beralasan sebagai akibat sistem franchise yang ditawarkan oleh lembaga bimbel dalam menjalin kerjasama dengan perorangan maupun kelompok.

Dengan menjamurnya bimbel apakah inti dari layanan pendidikan nonformal sebagai penambah, pengganti dan pelengkap pendidikan terpenuhi? sepintas secara fisik bimbel, apabila kita mencoba memperhatikannya maka identik dengan ruko dan palkiran sempit. Apabila masuk ke dalam gedung bimbel kesan yang di peroleh adalah gerah dan tempat pembelajaran sempit. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan kwalitas pendidiknya? bagaimana  proses pembelajaraanya? atau jangan-jangan hanya ingin meraup keuntungan tanpa adanya pertanggungjawaban moral sebagai lembaga pendidikan?

Sejatinya, bimbel sebagai lembaga pendidikan mengedepankan tujuan pencapaian pendidikan yaitu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan dukungan kenyamanan dan pelayanan prima. Dengan menggunakan perinsip demikian, maka lembaga bimbel akan semakin diterima di tengah masyarakat dalam ketatnya persaingan. Tetapi bukan hal yang mustahil apa bila bimbel yang hanya melihat keuntungan semata maka lambat laun akan ditinggalkan oleh masyarakat, walaupun pada saat ini merupakan bimbel yang populer dan teratas dalam kuantitas.

Tulisan ini merupakan tugas pra Diklat Jurnalistik BPKB DIY 2013.