fauzi gugatOleh Edi Basuki

“Gimana ini, humas IPABI kok diam saja, sudah tidak peka lagi terhadap perjuangan IPABI, sebagai lembaga mitra, IPABI (dan IPI) tidak diundang pertemuan, semuanya diam saja, termasuk humasnya. Jangan-jangan humasnya sudah terkooptasi oleh birokrasi,” Kata Fauzi dalam komennya di facebook. Sehingga, ketika subdit  kemitraan dikmas, atas petunjuk Plt. Dirjen PAUDNI mengundang mitra dikmas di gedung E lantai III tanpa melibatkan IPABI dan IPI, Fauzi berteriak menggugat.

Dalam komennya yang cukup panas, pria yang mirip Munir ini mengatakan bahwa perwakilan IPABI tidak diundang. Padahal domisili pengurus di Jakarta. Ada apa ini?, Kalau mau mengurus dan membenahi pendidikan nonformal, ya seharusnya libatkan semua mitra dan elemen yang terlibat. Sungguh, jika IPABI (Ikatan Pamong Belajar Indonesia) dan IPI (Ikatan Penilik Indonesia) datang, pasti tidak akan menghabiskan anggaran, karena ada wakil yang berdomisili di Jakarta.

“Terus terang saya yang berasal dari komunitas pamong belajar tersinggung kalau IPABI tidak diundang. Apakah IPABI dan IPI (pamong belajar dan penilik) sudah tidak dianggap sebagai mitra dikmas?, Nampaknya kami dianggap outsider dan oposan,” Ungkap Fauzi dengan geram.

Yah, ulah Subdit Kemitraan Dikmas, mengundang organisasi mitra swasta, tanpa mengajak ipabi dan ipi itu sebetulnya biasa saja, karena dialah yang punya dana dan kuasa untuk berbagi rejeki dengan siapa saja yang dikehendaki, yang penting daya serap anggaran lancar jaya.

Sesungguhnyalah pamong belajar dan penilik, tidak tahu apa-apa dan diam saja. Apalagi humasnya diam saja tidak mengkomunikasikan kelakuan subdit kemitraan dikmas melalui media jejaring sosial yang selama ini disepakati sebagai media tukar informasi dan berbagi pengalaman, yak arena memang humasnya tidak tahu sama sekali, tidak ada info yang masuk telinganya humas.

Sukurlah, masih ada Fauzi, pekerja PAUDNI dari BPKB DIY, yang masih bersemangat untuk berteriak lantang menegur dan mengingatkan semuanya, termasuk ‘menampar’ humas ipabi yang mulai luntur idealismenya dimakan sistem yang penuh kong ka li kong.

Dapat dipahami, jika Fauzi, yang wajahnya ‘sak brebetan’ mirip Jusup Kalla (JK) ini merasa tersinggung tidak diundang. Ya, ini memang aneh, ada apa dibalik itu? Karena, seperti biasanya, setiap ada kegiatan direktorat, Fauzi pasti tahu dan sering kali diundang (terlibat dan dilibatkan).

Hal ini mengingat temannya Fauzi banyak di direktorat, lebih dari itu, ide gagasan Fauzi pun sering mewarnai kebijakan dan program direktorat. Tapi pertemuan kali ini aneh, tidak mengundang Fauzi, IPABI dan IPI sebagai ujung tombak resmi program PAUDNI di daerah (karena sebagai PNS daera dan di bawah Kemendikbud).

Hanya, mungkin pertemuan kali ini memang sengaja di setting khusus mengundang lembaga mitra swasta yang mempunyai ide gagasan hebat untuk memperbaharui penyelenggaraan program PAUDNI.

Ya, mungkin orang direktorat bermaksud menjaring masukan segar dari mitra tanpa direcoki Fauzi dan kawan-kawannya. Karena, sesungguhnyalah kaumnya Fauzi itu tidak semua suka berteriak (hanya berani nggerundel di belakang), kepekaan sosialnya untuk memperjuangkan IPABI masih tumpul, cenderung hipokrit. Sibuk saling sikut mengejar rejeki kantor, kasak kusuk mempertahankan zona aman yang nyaman. Kepedulian terhadap IPABI pun hanya sekedar basa basi tai sapi, tanpa kegiatan yang memadai.

Sungguh, andai Fauzi tidak berteriak, maka acara yang digelar subdit kemitraan tidak akan diketahui oleh khalayak PAUDNI, termasuk humas IPABI yang kata Fauzi sudah terkooptasi. Apalagi, saat ini, seluruh anggota IPABI dan IPI sedang harap-harap cemas tentang akan datangnya si Tukin dan si Tunjab serta rapelan lainnya untuk memeriahkan bulan puasa dan lebaran. Sehinga tidak mungkinlah memikirkan seperti apa yang dipikirkan Fauzi. Jangankan berpikir, sekedar komen pun tidak punya nyali.

Jangan-jangan kelakuan subdit kemitraan yang tidak mengundang IPABI dan IPI itu karena telah menyiapkan agenda tersendiri untuk IPABI dan IPI, namun entah kapan dan dimana itu, mengingat rezimnya Muhammad Noeh segera berakhir, tinggal beberapa minggu lagi. Atau, jangan-jangan pertemuan ini hanya silaturahim biasa berdasarkan pertemanan dan kuatnya lobby kawan-kawan mitra, sehingga dilibatkan secara khusus untuk menghabiskan sisa anggaran.

Konon, ditahun politik ini, semuanya bisa dimaknai secara politis, apalagi dalam pertemuan itu juga mengundang istri Ahook, istrinya petinggi gubernuran Jakarta, sehingga pertemuan itu dijadikan  media kampanye, ajakan memilih capres tertentu, terbukti adanya peserta yang mempertontonkan simbol-simbol dari capres tertentu. Ya, semuanya memang bisa terjadi, namun berharap prasangka ini tidak benar semua.

Harapannya, setelah komen kerasnya Fauzi, dalam waktu dekat pengurus IPABI dan IPI berani berkirim surat (proposal) agar subdit kemitraan menggelar kegiatan serupa dengan pamong belajar dan penilik untuk memberi masukan evaluatif terkait dengan perjalanan program PAUDNI selama rezimnya mantan rektor ITS untuk direformasi sesuai tuntutan jaman, termasuk menanyakan bagaimana tindak lanjut kasus korupsi dana PLS di bebagai daerah, juga peristiwa JIS yang hanya melengserkan Bu Dirjen PAUDNI, tidak sampai ke dinas pendidikan dan penilik paud setempat itu, tidak terulang kembali. [eBas]

ebas-1*) Edi Basuki adalah pamong belajar BPPAUDNI Regional II Surabaya saat ini menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat IPABI