logo dikbudJakarta (03/04) Setelah karut marut ujian nasional, Mendikbud nampaknya tidak mau teranduk batu untuk kedua kalinya di tahun ini. Implementasi kurikulum yang semula akan dilakukan secara serentak pada semua sekolah di seluruh Indonesia, akhirnya akan dilaksanakan dengan cara piloting pada sekolah terpilih yang tersebar di 295 kabupaten/kota.

Pada setiap kabupaten/kota yang djadikan lokasi piloting tidak semua sekolah melaksanakan kurikulum 2013. Hanya 7-8 persen secara nasional sekolah yang akan melaksanakan kurikulum baru sejak Juli mendatang. Sekolah yang tidak dijadikan titik piloting masih tetap menggunakan kurikulum lama. Penerapan kurikulum 2013 baru akan dilaksanakan secara serempak setelah dilakukan kajian dari hasil piloting.

Beberapa pihak sebenarnya sudah mengusulkan agar pelaksanaan kurikulum 2013 didahului dengan ujicoba atau piloting. Hajriyanto Y Thohari, Wakil Ketua MPR, mengusulkan bahwa perlu adanya proyek percontohan atau “pilot project” Kurikulum 2013 sebelum diterapkan. Menurut Nuh, kata ”uji coba” secara akademik, berarti masih ada sesuatu yang belum proven.  Mantan Rektor ITS tersebut bersikukuh bahwa implementasi kurikulum 2013 harus serentak mulai dari SD, SMP, dan SMA. Dimulai dari kelas I dan IV SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA pada setiap sekolah di tanah air. Artinya tidak ada piloting.

Kurikulum yang berlaku saat ini berlaku didahului dengan piloting pada sebagian sekolah pada tahun 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Berdasarkan hasil piloting kemudian disempurnakan menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diimplementasikan secara serentak mulai tahun 2006.

Jika kita hendak menghasilkan kurikulum yang terbaik bagi anak bangsa, mengapa harus dipaksakan dilaksanakan serentak tanpa ujicoba terlebih dahulu? Produk apa pun pada era modern ini jika ingin berkualitas pasti melalui tahapan ujicoba, tidak langsung diproduksi massal. Hal ini untuk memastikan bahwa produk atau jasa tersebut layak digunakan dan memuaskan pengguna.

Kebijakan M. Nuh terkait kurikulum 2013 banyak menimbulkan kontroversi dan penuh tanda tanya. Mendikbud yang dikenal dekat dengan kalangan pondok pesantren ini sangat percaya diri dengan kebijakan kurikulum 2013 yang harus dilaksanakan tahun ini, dan pengadaan buku sudah siap pada pertengahan tahun ini. Termasuk penyiapan guru melalui kegiatan pendidikan dan latihan serta bimbingan teknis.

Belum selesainya berbagai dokumen pendukung kurikulum 2013 nampaknya membuat M. Nuh berubah pikiran. Ketidaksiapan infrastruktur  kurikulum berpotensi terhadap gagalnya implementasi kurikulum 2013 sebelum dilahirkan. Belum tuntasnya pembukaan blokir anggaran Kemdikbud, payung hukum kurikulum 2013, dokumen SKL/KI/KD dan buku teks, membuat Mendikbud berpikir ulang, jika tidak akan terantuk batu untuk kedua kalinya setelah karut marut ujian nasional. Keledai saja tidak mau terantuk batu untuk kedua kalinya, apalagi menteri.