miss paudOleh Ari Sulistyo

Hamemayu- Anda pasti tahu dengan miss world, konon merupakan ajang pemilihan ratu kecantikan sejagad. Wanita-wanita cantik dari berbagai penjuru dunia berkumpul, bersaing menunjukkan kebolehannya agar terpilih menjadi icon kecantikan dunia. Tapi pernahkah anda mendengar istilah miss PAUD. Ini hanya ada di Kulonprogo tepatnya di Kecamatan Samigaluh, mungkin satu-satunya di Indonesia bahkan di Dunia.

Tidak perlu wajah cantik dan tubuh aduhai untuk menjadi miss PAUD, karena bukan kecantikan fisik yang dinilai melainkan inner beauty. Mereka yang sudah mengabdi cukup lama dan terbukti memiliki dedikasi tinggi untuk kemajuan PAUD di Samigaluh berhak masuk sebagai nominasi. Setiap nominator akan dinilai kelayakannya apakah yang bersangkutan berhak menyandang gelar miss PAUD. Penilaian dilakukan secara terbuka meliputi kualifikasi akademik, kompetensi dan wawasan.

Penobatan miss PAUD menjadi hal menarik, dilaksanakan bersamaan dengan gebyar PAUD tingkat Kecamatan. Pendidik yang dinyatakan terpilih diminta naik ke atas panggung untuk menerima jubah kebesaran dari miss PAUD tahun sebelumnya. Layaknya putri kerajaan mengenakan mahkota sebagai penanda seorang pendidik resmi menyandang gelar miss PAUD.

Istilah miss PAUD unik dan jauh dari kesan formal. Jauh dari formalitas justru menumbuhkan kebanggaan, karena gelar miss PAUD dipercaya merupakan pengakuan lahir batin dari seluruh pendidik PAUD. Tidak ada hadiah ataupun sertifikat penghargaan, namun miss PAUD mampu menjadi motivasi bagi pendidik untuk terus bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjaga semangat keikhlasan.

Miss PAUD terpilih tahun 2013 Siti Nuryati, S.Pd.AUD mengungkapkan bahwa keikhlasan adalah modal utama untuk menjadi pendidik PAUD. Tanpa adanya semangat ini maka satu persatu pendidik PAUD akan bertumbangan, memilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.

Samigaluh salah satu lanskap terindah yang Tuhan ciptakan, Dia sembunyikan keindahan itu dibalik tingginya bukit dan terjalnya tebing. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan ke arah barat daya Wates ibukota Kabupaten Kulonprogo.

Bukan perkara mudah sampai di Desa Kebonharjo dimana Ibu Nuryati tinggal. Kontur jalan yang dilalui tidak rata, penuh tanjakan dan turunan diselingi bebatuan lepas. Meskipun medan cukup berat, namun Ibu Nuryati tidak pernah mengeluh, dirinya sudah terbiasa. Empat kali dalam seminggu Ibu dua anak ini mengajar di Kelompok Bermain Tunas Kasih yang berjarak empat kilometer dari Balaidesa.

KB Tunas Kasih dirintis tahun 2007 bersama beberapa rekannya untuk melayani pendidikan anak usia dini di Kebonharjo. Rendahnya kesadaran orangtua dan kualitas SDM pendidik menjadi hambatan mengembangkan PAUD kala itu.

Dibantu tokoh masyarakat Ibu Nuryati tidak henti mensosialisasikan pentingnya PAUD. Tahun 2008 dirinya dan berberapa rekan yang lain memutuskan untuk meningkatkan kemampuan diri, jalannya adalah melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka jurusan PG-PAUD dengan biaya sendiri.

Menurutnya memperjuangkan PAUD tidak boleh setengah-setengah. Dia yakin kelak usahanya pasti bermanfaat.

Patut disyukuri Samigaluh memiliki banyak pendidik PAUD seperti Ibu Nuryati, yang tenaga dan waktunya seolah tak pernah habis untuk memajukan pendidikan anak usia dini. Sudah selayaknya jika mereka mendapat gelar miss PAUD, adalah Retno Usiani (2010), Wahyu Windarti (2011) dan Ch. Ngatilah (2012).

Ari Sulistio2Penulis: Ari Sulistyo adalah Penilik PAUD Kabupaten Kulon Progo, pernah Juara I LKT Penilik pada Jambore PTK PNF Nasional Tahun 2009. Sudah menerbitkan beberapa buku tentang PAUD, dan menjadi penulis tetap di Majalah Hamemayu.