sesditjen buka kongresYogyakarta (08/09/2014) Asosiasi Sekolahrumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) menyelenggarakan kongres nasional pertama kalinya sejak didirikan pada tahun 2006. Dalam perkembangannya Asah Pena telah mengalami pasang surut, dan kini pada pelaksanaan kongres di Yogyakarta (6-7 September 2014) ada asa yang ingin diraih seiring semakin banyak masyarakat yang membutuhkan sekolahrumah atau homeschooling sebagai bentuk pendidikan alternatif.

“Homeschooling, artinya bukan sekolah di rumah saja tapi sekolah dalam suasana di rumah suasana yang penuh kasih sayang, penuh dengan pengembangan minat dan bakat anak.” kata Ketua Umum Asah Pena Kak Seto pada sambutan dalam pembukaan Kongres. Sekolahrumah di Indonesia dibedakan menjadi sekolahrumah tunggal, sekolahrumah majemuk, dan komunitas sekolahrumah. Pernyataan Kak Seto tersebut ingin menegaskan bahwa sekolahrumah memiliki berbagai bentuk yang tidak hanya “school at home”.

Di sebagian negara makna homeschooling masih murni dalam artian sekolahrumah tunggal, yaitu sekolahrumah yang dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga untuk anak-anaknya.

Pelaku sekolahrumah di Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Kusnanta, SP Ketua Panitia Kongres yang juga Direktur Homeschooling Primagama, ada hampir 15.000 orang di Indonesia. Banyak di antara mereka yang melakukan sekolahrumah tunggal, di samping melalui sekolahrumah majemuk dan komunitas sekolahrumah.

Perkembangannya oleh sebagian pelaku sekolahrumah Asah Pena dipandang lebih cenderung hanya memayungi komunitas sekolahrumah atau lembaga penyelenggara sekolahrumah. Pada bagian lain sambutannya, Kak Seto Mulyadi yang juga pendongeng ini, secara tersirat mengakui bahwa adanya kubu sekolahrumah tunggal dan komunitas sekolahrumah. “Mudah-mudahan kongres kali ini bisa mempersatukan semua pelaku sekolahrumah, tidak ada lagi kubu-kubuan”, tambah Kak Seto.

Asa telah digayutkan oleh Kak Seto Mulyadi yang terpilih kembali oleh Kongres untuk menahkodai Asah Pena pada periode berikutnya. Nampaknya tugas berat Kak Seto sudah menghadang di tengah keinginan kuat sebagian anggota Asah Pena untuk mendesak segera dikeluarkan peraturan menteri tentang sekolahrumah, dalam mana ada juga sebagian pelaku sekolahrumah (tunggal) yang menentang draf peraturan menteri tersebut.

Di sisi lain pemerintah, sebagaimana diungkapkan Sesditjen PAUDNI Kemendikbud Ella Yulaelawati mengatakan bahwa pemerintah akan membenahi aspek legal sekolahrumah. “Insya Allah sebentar lagi akan terbit peraturan menteri tentang sekolahrumah, bukan tentang pendirian komunitasnya. Akan kami update acuannya karena yang ada sekarang sudah lama”, kata Ella di depan seratus lebih peserta Kongres yang hadir. Terbitnya peraturan menteri tersebut didasari maksud agar tidak ada warga negara yang berhenti belajar karena berbagai alasan.