Kompetensi Lulusan Sarjana PLS: Pengelola Program, Bukan Pendidik Nonformal

Tidak ada S1 PLS
Mana yang lulusan program studi PLS?

Yogyakarta (29/03) Mencermari kompetensi lulusan program studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) beberapa perguruan tinggi negeri di Jawa, sebut saja PLS Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Malang, dapat disimpulkan kompetensi lulusan dirumuskan sebagai pengelola dan pengembang program. Bukan pendidik pada jalur pendidikan nonformal.

Dalam pada itu, Universitas Negeri Jakarta menyiapkan lulusannya dengan kompetensi utama sebagai pendidik luar sekolah, yang memiliki kemampuan mengelola dan mengembangkan program pendidikan luar sekolah serta pembelajaran masyrakat. Sebuah rumusan kompetensi yang sebenarnya ambigu.Karena sebagai pendidik diharapkan memiliki kompetensi manajerial, bukan kompetensi pedagogik sebagai kompetensi inti.

Pendidik pada jalur pendidikan nonformal meliputi tutor kesetaraan, tutor keaksaraan, instruktur kursus, penguji kursus, guru PAUD, dan pamong belajar. Berbeda dengan program studi kependidikan lainnya yang memang menyiapkan mahasiswa untuk menjadi pendidik atau guru di sekolah sesuai dengan mata pelajaran atau bidang studi, program studi PLS tidak menyiapkan lulusannya menjadi pendidik satuan pendidikan nonformal (PNF). Karena pendidik PNF variannya beragam, dan memiliki kompetensi yang beragam serta bahkan spesifik, sehingga tidak bisa keseluruhan ditampung dalam kontruksi kurikulum program studi PLS.

Karena itulah konstruksi kurikulum PLS diorientasikan menjadi pengelola program, dan pengembang program PLS.

Ketika orientasi kompetensi lulusan PLS seperti itu, lalu di mana lulusan program studi PLS bisa ditampung? Menjadi pamong belajar jelas tidak bisa menjadi pilihan utama, karena pamong belajar adalah pendidik. Ada tiga tugas pokok pamong belajar, yaitu melaksanakan kegiatan belajar mengajar, pengkajian program dan pengembang model. Kompetensi lulusan PLS bisa memenuhi dua tugas pokok terakhir. Namun formasi pengangkatan pamong belajar baru setiap tahunnya tidak sebanding dengan jumlah lulusan PLS se-Indonesia. Sehingga jabatan pamong belajar tidak bisa dijadikan sasaran utama bagi lulusan strata satu PLS.

Justru saya melihat medan pengabdian lulusan PLS itu sangat luas. Saya katakan medan pengabdian, karena banyak satuan pendidikan nonformal dan lembaga penyelenggara program PNF yang diselenggarakan oleh masyarakat yang bisa dijadikan sasaran lulusan PLS.

Ketika saya bergaul dengan banyak pengelola lembaga kursus, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan satuan pendidikan nonformal lainnya, jarang menemukan mereka yang berlatarbelakang program studi PLS. Mereka ini adalah enterpreuner ulung yang berjuang dan merangkak dari bawah sehingga memiliki lembaga yang mampu melayani kebutuhan belajar masyarakat. Bukan berarti mereka mengambil lahan pekerjaan lulusan PLS. Karena lulusan PLS memang belum banyak yang berkiprah di dunianya sendiri.

Orientasi ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tidaklah salah.  Namun mahasiswa PLS juga harus bersikap realistik bahwa formasi untuk menjadi PNS semakin kecil. Orientasi utama lulusan PLS menjadi pamong belajar semakin menipis karena pamong belajar dalam wacana dimurnikan menjadi pendidik. Pun dalam posisi saat ini, yang belum murni pendidik, hanya dibutuhkan sedikit sarjana PLS pada setiap kelompok jabatan fungsional pamong belajar. Selebihnya akan diisi oleh sarjana kependidikan lainnya.

Langkah nyata mulai dilakukan oleh beberapa mahasiswa senior dan lulusan PLS dari UNY yang berkiprah pada lembaga pendidikan nonformal. Virus positif ini yang harus ditularkan kepada mahasiswa PLS lainnya agar mulai beraktivitas di lembaga pendidikan nonformal sejak di bangku kuliah. Di samping tu membekali diri dengan aktif berorgansasi, pada lembaga kemahasiswaan ataupun organisasi lainnya. Melalui aktivitas organisasi akan mengasah kemampuan praktis manajerial yang tidak diperoleh di bangku kuliah.

2 tanggapan pada “Kompetensi Lulusan Sarjana PLS: Pengelola Program, Bukan Pendidik Nonformal”

  1. ketika formasi perkejaan yang seharusya di isi oleh para penggiat disiplin ilmu pls di duduki oleh mreka yang notabene bukan brasal dti disiplin ilmu pls itu apakah serta merta karena para penggiat lulusan pls sndiri kurang mendalami dan peduli pada lingkup PLS???… atau ada kepentingan politik diatasnya yang membuat para lulusan pls membelokkan arah untuk bekerja di sektor pekerjaan lain.

    ketika jurusan pls itu dibentuk apkah sudah mmperhatikan spesifikasi kompetensi sarjana PLS dan orientasi nyata / prosepek kerja dan lahan kerja kedepanya?? dan saya akui sebagai mahasiswa yang masih muda angktan 2011 saya cukup irono ketika ad salah satu dosen bercerita bahwa di eranya pun PLS itu membingungkan, dimana dia juga mengalami realitas kebanyakan mahasiswa pls saat ini “PLS ITU APA?? dan sebagainya. sekrang point penting dari saya,, ada tidak terobosan-terobosan dari pada akademisi aktivis, dosen-dosen PLS diatas sana yang memperjuangakan atau memperjelas di tingkat birokrasi pemerintahan mngenai disiplin ilmu pls dan lahan kerjanya,,sehingga nantinya mahasisa pls tidak akan kebingunagan kembali,,,dan saya yakin untuk angkatan-angkatan kedepan akan maasih banyak para mahasiswa yang masih bingun tntang pls itu sndiri. semoga kegalauan itu bukan akan mnjadi lingkran setan yang tidak bisa diputuskan sampai generasi0generasi berikutnya.

    1. Untuk lembaga pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh masyarakat tdk ada keharusan diisi oleh lulusan prodi PLS, sangat bergantung dg kebutuhan lembaga ybs. Karena kita kurang ‘bergaul’ dg dunia sendiri maka seperti terasing pada komunitas yang seharusnya diakrabi. Celakanya semasa saya mahasiswa dulu kurang diakrabkan dengan komunitas yang akan menjadi dunianya. Bukan dunia lain. Akhirnya dunia pnf banyak digeluti oleh orang di luar disiplin ilmu PLS.
      Kita perlu menggagas kajian rutin dengan menghadirkan praktisi pnf. Jangan hanya pamong belajar. Banyak yang bisa dihadirkan. Kajian bisa dilakukan dua bulanan, agar tidak jenuh. Dan ada waktu untuk mencari praktisi yang diajak diskusi pada acara berikutnya. Saya pikir ini salah satu strategi agar kita tidak galau terus. Dan tentunya harus ada dosen yang ikut. Kajian bisa diinisiasi oleh Hima PLS, saya siap membantu menghubungkan ke praktisi yang akan dihadirkan.
      Saya pikir kepentingan politik di atas tidak ada, yang ada adalah sekarang ini profil pekerjaan sdg dalam tahapan distrukturkan. Ini dampak dari kehidupan modern dan global. Bisa kita cermati implementasi standar pendidik dan tenaga kependidikan yang mensyaratkan kualifikasi dan kompetensi pada setiap jenisnya. Nah, disinilah posisi lulusan PLS menjadi tergusur pada sebagian jenis profil pekerjaan yang dulu bisa dimasuki.
      Terlebih jika Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) diterapkan, prodi PLS harus mampu dengan jelas sejelasnya profil pekerjaan lulusannya, dan rumusan unit-unit kompetensi. Dan itu akan mewarnai konstruksi kurikulumnya.
      Mahasiswa PLS menjadi galau karena masih berorientasi pada PNS, sedangkan bidang pekerjaan di luar PNS belum bisa digambarkan secara jelas oleh jurusan/fakultas.

Komentar ditutup.