SudijartoOleh Sudijarto

Senin pagi (3 Februai 2014), datang di kantor, seorang wanita muda, berhijab, usia sekitar 19-20 tahun. Sambil bercerita ia menangis bahwa ibunya telah tiada, sedang bapaknya sudah tua sakit-sakitan, ia ingin sekolah Paket C di SKB Kota YogYakarta karena jika di sekolah formal tidak mungkin lagi karena biaya mahal (ia pernah DO SMA kelas x semester 2). Berulang-ulang ia mengusap air matanya yang membanjir keluar dari kedua matanya. Saya mendengarkan semua ceritanya…

Lalu saya bertanya satu hal: “mbak KTP Jogja & punya KMS?’’ Dijawab,“iya pak, punya KMS di rumah”. Maka saat itu juga saya katakan “Mulai nanti siang saudara masuk sekolah Paket C, digratiskan untukmu mulai kelas X sampai lulus.”’  Mendengar itu seakan dia tidak percaya, meledak lagi tangisnya. “Berarti saya bisa sekolah pak, saya bisa sukses pak???”  Saya jawab, “Iya, kamu bisa sukses. Sekarang silahkan pulang dulu, nanti masuk sekolah ya?” Sambil menangis ia pulang. Entah apa yang ia rasakan, yang ia pikirkan. Yang aku harap semoga impian dia untuk sukses bisa tercapai!

Anak ini kenapa begitu semangatnya ingin sekolah di Paket C, setelah ia kandas dibangku sekolah formal beberapa tahun lalu. Rupanya ia sangat terinspirasi oleh kawannya yang dulu pernah sekolah Paket C di SKB Kota Yogyakarta, setelah lulus lalu bisa diterima bekerja di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebagai tenaga ticketing sebuah maskapai penerbangan, dan juga terinspirasi dari teman lainnya yang lulusan Paket C tetapi akhirnya dapat menjadi PNS. Dari situlah tumbuh semangat, kemudian dia beranikan diri untuk datang ke SKB Kota Yogyakarta, berharap untuk bisa sekolah.

Lalu dengan jujur ia bercerita dengan segala kondisinya dan kekurangan, hanya semangat yang ia punya. Hari ini ia telah tercatat resmi sebagai peserta didik Program Paket C di SKB Kota Yogyakarta.Pada siang harinya, saat proses pembelajaran berlangsung, anak tersebut langsung dimonitor oleh Bapak Sudarmawi, S.Pd (sekretaris pengelola), dan anak tersebut sudah berada di dalam kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan antusias, tampak ceria dan semangat yang terlihat di wajahnya. Barangkali hari itu menjadi moment awal yang ia “’pancangkan” untuk menatap kesuksesan yang sungguh ia impi-impikan.

Cerita tersebut hanya salah satu dari sekian banyak kasus, saya dengarkan cerita dan keluhan anak-anak didikku, cerita yang sangat beragam, mulai dari ibu-ibu yang ingin anaknya sekolah di Paket C SKB, PRT yang sudah sekolah Paket C di SKB Jogja lalu menghadap saya sambil menunduk sedih, menangis dan ijin ingin berhenti sekolah karena tidak mampu membayar biaya (walau bagi orang lain terasa sangat murah), tetapi ia butuh mencukupi kebutuhan hidupnya. keluhan tentang sulitnya beli susu utk anaknya, keluhan kekerasan KDRT dari suaminya, cerita perceraian dengan suaminya, cerita hamil pra nikahnya, dan seribu cerita lainnya. yang ujung-ujungnya adalah ketiadaan biaya untuk sekolah, dan selalu saya putuskan. “Jangan berhenti sekolah di Paket C, sekolah harus jalan terus, sampai lulus.”  Mereka semua kami gratiskan, demi membantu mereka untuk menatap masa depannya yang semula ia rasakan gelap (karena putus sekolah formal).

Saya tidak mengerti, ada sebagian orang yang ingin sekali sekolah tapi tidak ada biaya. Sementara sebagian yang lain, uang tidak masalah tapi mereka malas sekolah, malas belajar, karena orangtuanya kaya dan hidup berkecukupan. Bagi kami, kasus seperti itu entah sudah yang keberapa kali, saya tidak ingat lagi, kami hanya bisa memberikan kepada mereka yang betul-betul mau belajar, jika ada anggota masyarakat yang betul-betul ada kemauan dan sungguh-sungguh ingin belajar, tapi tidak ada biaya betul, kami siap membantu. “Pada dasarnya setiap orang akan meraih kesuksesannya masing-masing, apapun bidangnya. Disinipun anda bisa sukses!” Hanya itu yang selalu saya sampaikan pada diri anak didikku di SKB Kota Yogyakarta.

Sudijarto, pamong belajar yang juga tutor dan pengelola Kejar Paket C SKB Kota Yogyakarta.