aniaya wartawanYogyakarta (18/10) Kejadian oknum TNI AU menganiaya wartawan pasca jatuhnya pesawat Hawk 200 di Pekanbaru Riau menimbulkan gelombang protes dari kalangan jurnalis. Saat peristiwa penganiayaan ditayangkan berulang-ulang di beberapa stasiun televisi, bahkan ada salah satu stasiun televisi yang menurut saya sudah overdosis dalam menayangkan berulang-ulang dengan menggunakan slow motion segala. Sehingga kejadian oknum, yang belakangan diketahui berinisitial PW, ketika mencekik wartawan Riau Post terlihat sangat jelas. Dan dilakukan di depan anak-anak berseragam sekolah dasar!

Ada dua poin penting dari kejadian tersebut. Namun bukan dari sisi pelanggaran pidana menurut UU Pokok Pers, melainkan dari sisi lain.

Pertama, amat disayangkan penganiayaan dilakukan di depan anak-anak yang berseragam sekolah. Karakter dan jiwa anak akan sangat mudah dipengaruhi oleh kejadian luar biasa yang dialami dalam hidupnya. Peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200 di lingkungan merupakan peristiwa yang luar biasa dan akan terekam seumur hidup dalam memorinya. Begitu pula kejadian oknum TNI AU yang menendang dan mencekik wartawan hanya untuk melarang dan merebut kamera akan terekam di memori anak.

Anak yang menyaksikan peristiwa penganiyaan tersebut akan memiliki stigma negatif tentang bagaimana cara bertindak dan bersikap seorang tentara. Di benak dan pikirannya akan berkembang asumsi bahwa tentara itu harus galak, garang dan biasa melakukan kekerasan sipil, termasuk kepada masyarakat sipil.

Dalam konsep pengembangan karakter anak, ada tiga hal yang bisa dilakukan yaitu pemberian teladan atau contoh, pembiasaan, dan intervensi. Peristiwa penganiayaan tersebut bisa jadi akan menjadi contoh bagi anak dalam menyelesaikan masalah dilakukan dengan kekerasan. Ketika kemudian ia melihat berbagai tayangan televisi, atau bahkan kejadian lain di sekitarnya, yang penuh dengan kekerasan maka akan menjadi pembiasaan bahwa kekerasan menjadi ujung tombak dalam menyelesaikan persoalan. Lebih runyam lagi, tidak ada pemahaman oleh pendidik baik orang tua atau pun guru bahwa penyelesaian dengan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan bukan merupakan hal baik. Ketika tidak ada intervensi dari pendidik maka dalam alam bawah sadar anak akan terekam bahwa kekerasan merupakan senjata penyelesaian berbagai persoalan.

Kedua, penayangan berulang-ulang di salah satu stasiun televisi (TV One) pada hari Selasa dan Rabu saya anggap sudah overdosis. Bahkan tayang berulang tersebut disertai dengan slow motion ketika oknum TNI AU berinisial PW mencekik wartawan. Redaksi pemberitaan TV One seharusnya mempertimbangkan aspek lain dalam pemberitaan yang ingin membangun opini publik, penayangan berulang tersebut harus mempertimbangkan aspek kewajaran dan kepatutan serta dampak yang luas bagi perkembangan karakter bangsa.

Banyak anak dan generasi muda bangsa yang menyaksikan tayangan berulang tersebut. Belum lagi banyak tayangan kekerasan dan tawuran yang juga sering menghiasi layar kaca akhir-akhir ini yang juga disaksikan oleh anak dan remaja. Artinya, media televisi juga ikut serta menjadikan media pembelajaran cara kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup dan bangsa.

Akhirnya, jika kita masih punya komitmen dalam pengembangan karakter bangsa di kalangan generasi muda maka kita (siapapun kita) harus bisa bersikap santun dan berbudaya di depan anak-anak kita. Media massa juga harus bisa menahan diri dalam menayangkan fakta dan data, tidak perlu berlebihan. Apalagi sampai berulang-ulang.

Jangan hanya salahkan guru atau orang tua, jika anak-anak kelak menjadi beringas dan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidupnya.