tugu-malam-1Malam ini, malam penghabisan tahun 1982 yang menyesakkan ini. Hampir semua orang keluar rumah memadati jalan, toko, warung, lorong-lorong. Mereka berteriak-teriak-teriaknya orang kesurupan sambil meniup-niup terompet. Kota Yogyakarta hingar bingar. Tapi bagi Malin tak ada yang istimewa malam ini. Tak lebih dari malam-malam sebelumnya yang ia lalui dengan letih.

Ada satu keluarga, ayah ibu beserta anak-anaknya lengkap dengan pembantunya berada dalam satu mobil. Menyeruak jalan kota yang sempit, yang tidak teratur, yang penuh dengan galian, dan sudah tentu ruwet. Itu pun, mereka masih menjalankan mobilya dengan zig zag, seakan si ayah yang mengemudikan mobil- menganggap anak bini serta pembantunya adalah boneka mainan yang diajaknya bercanda. Lalu ada sepasang remaja berkendara Honda GL menyalip mobil itu, berzig-zag di depannya sambil tertawa mengejek. Kemudian ditirukan oleh pasangan-pasangan lainya, sehingga mobil itu tertutup jalannya.Tiba di tempat sepi mereka, pasangan-pasangan itu, menghentikan mobil itu.

Pak, minta kado Tahun Baru!, dihampirinya mobil itu. Dirampasnya barang-barang di dalamnya, semuanya. Mereka berpesta pora.

Malin melihatnya. Tak ada yang istimewa .

Sementara itu, jalan-jalan protokol kian meramai. Kian hingar, kian bingar. Warung-warung kaki lima penuh mulut memamahbiak, menyeruput dan asap berkepul. Kaki beribu-ribu manusia memecahkan lorong-lorong kota, memadati pusat keramaian. Di lantai paling atas hotel megah ada permainan akrobat di ranjang, semalam suntuk.

Akhirnya, setelah bosan menyandang gelar sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta menjadi Kota Kurang Ajar.

Oleh para mahasiswa Yogyakarta telah dijadikan sebagai kota pertemuan jodoh. Di tempat kostnya, yang jauh dari orang tua mereka, mereka mempermainkan keperawanannya, kelelakiannya seperti anak kecil bermain dengan air. Bis kota yang selalu penuh sesak telah jadi hunian pencopet. Punya Honda Super Cub berarti harus siap diclurit.

Ah, itu tidak istimewa, pikir Malin. Setiap warga kota harus mempunyai pengalaman dari yang disebut di atas. Paling tidak sebutir pengalaman: melecehkan orang lain, dilecehkan orang, memperkosa-diperkosa, menclurit, diclurit, satu selimut dengan teman kuliahnya laki perempuan tentunya, dimaki ibu kos karena anak gadisnya dimasukkan ke kamarnya, dan sebagainya dan sebagainya. Itu akan melengkapi syarat sebagai warga kota, yang kurang ajar.

Di ujung Malioboro, di tengah simpang empat air mancur berdiri seorang penyair membacakan puisi, puisi rintihan, puisi pemberontakan, dan puisi kontemplatif. Seirama dengan apa yang didengarnya, para penonton yang melingkari penyairnya- berteriak-teriak, memberi aplus, menangis-nangis, mengkais-kais bumi, dan memanggil-manggil Tuhannya.

Malin melhatnya sebagai hal yang wajar saja. Karena hal itu memang harus dilakukan oleh orang-orang yang mash berakal sehat dalam menerima keruwetan ini. Nampak olehnya penyair itu makin bertindak wajar. Pakaiannya dilepas satu persatu hingga tinggal celana dalamnya saja. Penyair, yang berambut gondronng, bermata cekung,berpipi kempot itu kembali dengan suara pemberontakannya

kubangun kata-kata yang lepas dari peluh

para pemimpin rohaniwan yang rumah sembahyangnya sepi

dijauhi para jemaat

kubangun kata-kata yang lepas dari peluh

tanah airku yang gigih berperang melawan

jurang kemiskinan dan krisis pendidikan

kubangun kata-kata yang lepas dari peluh

para korban kerakusan tangga-tangga raksasa

yang ingin mencengkram bola dunia

..

(cukilan puisi karya Hindu Kali Dana dari puisinya berjudul:

Kubangun Sejumlah Kata Dalam Sajak-sajakku Untuk-Mu, Tuhan)

Pendengar terpaku dengan kata-kata yang diucapkan oleh penyair itu. Tiba-tiba mereka sadar bahwa keruwetan masa depan menghadangnya. Sadar. Tiba-tiba pula mereka berteriak-teriak, keras sekali. Sambil membungkuk-bungkukkan badan, tangan mereka dijulur-julurkan ke depan. Menggapai-gapai.

Suaranya makin keras. Menggema di kamar Istana Negara dan hampir meruntuhkan Benteng Vrederburg.

Sebelum bekas benteng Belanda yang sudah lama hendak dipugar itu (tapi pemugaran belum selesai juga yang disebabkan keruwetan dana) runtuh, sepasukan Polisi Anti Huru Hara datang meraung-raung. Mendengar raungan sirene, para penonton menghentikan teriakkannya, tetapi mereka tidak beranjak dari tempatnya. Juga si penyair. Malahan celana dalamnya dicopot sekalian. Lalu mematung dengan posisi tangan menantang, dan ditirukan oleh pendengarnya tanpa lupa mereka mencopot kemejanya, celananya, roknya, kutangnya, dan celana dalamnya.

Protes terhadap keruwetan ini memang edan-edanan.

Akhirnya mereka satu persatu dinaikkan ke truk Polisi bagaika menaikkan kambing-kambing untuk diangkut ke rumah pemotongan hewan.

Dari kejauhan Malin memandang dengan geram. Tapi ia tak bisa berbuat suatu apa untuk membelanya. Dia tidak mau menambahi dirinya dengan keruwetan yang lain. Dengan diam tapi mendongkol ia menguak kerumunan massa yang semakin menyemut, meninggalkan tempat itu.

Jalan Malioboro praktis macet total. Mobil, sepeda motor, becak, andong, dan sepeda berderet-deret menanti redanya keruwetan lalu lintas sambil memencet-mencet tombol klakson, memukul-mukul barang-barang yang bisa berbunyi bila dipukul. Ada pula yang memukul sopir mobil di belakangnya, karena sopir itu telah menabrak ekor Mercy Tiger-nya hingga penyok. Ada pula seorang pengemudi memaki-maki tukang becak karena becaknya telah menyerempet mobilnya yang mulus hingga catnya terbarut. Ada pula copet yang menggunakan kesempatan baik ini.

Malin berjalan terus. Tiba di jalan Solo tak banyak bedanya dengan Malioboro. Keruwetan telah mengendon di mana-mana. Keruwetan tidak memilih tempat untuk bersarang, ia masuki dahi para pejabat, ia gerogoti moral mahasiswa dan pelajar, ia injak para tukang becak, ia bikin pusing para polisi, ia gali jalan-jalan di kota ini, ia latih para penjambret dan penclurit, ia ajak bintang-bintang seksi untuk main begituan, ia hasut para politisi, ia goda para ulama dan rohaniwan, ia dan ia.

Seperti hari-hari dan malam-malam sebelumya jalan Solo (sekarang jalan Urip Sumoharjo) penuh dengan pasangan muda mudi, berkeliaran memasuki satu toko ke toko yang lain sambil bergandengan, berpelukan. Lalu ada beberapa pasang naik ke jembatan penyeberangan yang selalu sepi itu, setelah bosan berkeliaran.

Dari atas jembatan meeka lihat dunia di bawah, yaitu dunia yang ruwet. Dipandangi keruwetan di jalan, keruwetan manusia, dan keruwetan masa depannya. Akhirnya mereka saling berciuman, berpagutan, karena terlalu pusing memandang keruwetannya masing-masing. Mereka satukan keruwetan mereka lewat mulut mereka yang lidahnya saling berpagutan.

Malin memandang mereka dengan simpatik. Telah mereka hancurkan keruwetan dengan cara yang absurd.

”Mas, boleh aku ikut serta?”, Malin mendekati salah satu pasangan.

”Apa?”, yang lelaki menyahut. Pasangan itu berhenti dari kegiatannya.

”Boleh aku ikut serta?”

Sebentar pasangan itu berpandang-pandangan. Lalu tertawa bersama.

Malin tak beri reaksi.

Ya, menghancurkan keruwetan kita. Aku telah benar-benar pusing karena keruwetan. Manusia terlampau banyak bikin konsep, tapi jarang konsep yang berhasil dijalankan dengan baik. Konsep tinggal konsep. Agaknya manusia hidup hanya mengejar konsep. Lalu antara konsep satu dengan lainnya saling beradu argumentasi, saling berperang. Melecehkan realita. Hanya bikin ruwet hidup. Barang-barang mewah diiklankan dengan membabi buta, seakan dianggapnya semua orang di Indonesia ini hidup dengan uang berlimpah. Cari kerja sulit, membikin jambret,copet, begal, todong, clurit makin nekad. Ah, hidup ini kan perjuangan. Perjuangan menghadapi keruwetan. Tapi keruwetan itu telah semakin meruwet.

Malin memandang ke jalan. Ke keruwetan.

”Tidakkah manusia mempunyai perasaannya kini?”

Ia berpaling kagi.

”Hakku telah mereka lecehkan dengan semena-mena. Bayangkan!”

”Sebentar, kubayangkan dulu.” Si perempuan dengan genit memotong kalimat Malin, seraya matanya mengejap-ngejap.

”Aku telah diusir dari lingkunganku.”

”Tentu ada sebab, mengapa kau diusir. Dan sebab itu pasti merugikan mereka. kata si lelaki.”

”Tanpa sebab yang kuketahui mereka melecehkan aku.”

”Kau hanya belum mampu menyelami perasaan mereka.”

”Bagaimana aku bisa memahami perasaan mereka jika mereka sendiri tidak memahami perasaan mereka jika mereka sendiri tidak memahami perasaanku yang ruwet ini!” Malin dongkol.

”Nah, kau harus memulai. Nanti mereka akan mengikuti jejakmu. Tak mungkin jiwa tanpa perasaan.”

”Jadi, aku harus memulai terlebih dahulu? Baiklah, sekarang beri aku contoh bagaimana caranya agar bisa memahami perasaan orang lain. Kulihat kau sendiri acuh terhadap lingkungan, orang lain, dan bahkan terhadap dirimu sendiri. Sudah begitu kamu masih sempat menasehati orang lain. Nasehat semu!”

Pasangan itu terkejut. Harga dirinya merasa direndahkan. Tapi pada masa sekarang perendahan harga diri adalah sudah lumrah, boleh dikata merupakan suatu kewajiban. Maka pasangan itu tidak terlalu lama terkejut, malahan mereka melanjutkan kegiatannya tadi, yaitu melumatkan keruwetan.

Sementara pasangan lainnya makin sibuk. Pelumatan keruwetan makin menghebat. Ada di antaranya yang mulai melumatkan keruwetan yang lebih besar, setalah puas melumat-hancurkan keruwetan kecil, dilumatnya tetek pacarnya dengan jari-jarinya yang berjalan-jalan, mendaki, dan menari-nari di pucuk gunungnya. Lantas keruwetan itu keluar dengan mengerang-ngerang, menggelepar-gelepar bagai kijang terkena panah.

Malin iri.

Didekati pasangan itu, setelah ia meninggalkan pasangan yang terdahulu karena rupanya tidak akan memperoleh kesempatan untuk melumatkan keruwetan.

”Mas, mas gantian. Ditepuknya pundak si lelaki.”

Lelaki itu menoleh. Dipandanginya Malin. Ia lalu surut ke belakang seakan memberi kesempatan Malin. Mata Malin bersinar. Memancarkan gairah.

Buru-buru ditubruknya gadis itu, setelah kelelakiannya mulai mengeras. Tapi luput. Malin menubruk sisi pagar jembatan penyebrangan. Begitu kerasnya sehingga Malin terhuyung-huyung.

Dilihatnya gadis itu berada di sudut lain. Malin mengambil ancang-ancang. Lalu melabrak gadis itu dengan kalamenjingnya yang naik turun. Dan kini tepat. Tapi, kaki gadis itu menjegal kaki Malin setelah tangannya meremas kemaluannya dengan sangat keras. Malin meronta. Tubuh Malin terpelanting melampaui pagar jembatan. Meluncur ke bawah. Meluncur ke jalan. Jalan yang penuh lalu lintas, yang ruwet. Meluncur ke keruwetan hidup.

Bug! Tubuh Malin mendarat di aspalan. Tepat ketika itu lewat sebuah Toyota Hi Ace Pick Up bermuatan pelacur-pelacur yang berhasil dirazia malam ini, dan tepat sekali roda-rodanya meluncur mengenai kepala Malin. Pyar!! Meletusnya keruwetan pecah berkeping-keping. Tepat saat itu pula klakson dibunyikan dengan kerasnya berkali-kali, lonceng gereja berdentang dua belas kali. Pecahlah tahun lama yang porak poranda dan datang tahun baru yang menghadang dengan garang.

Sementara detik-detik tahun baru terlewati, tubuh Malin menggelepar-gelepar bagai ayam barusan disembelih. Setelah cukup satu menit menggelepar, lalu tenang, dan dengan tenang pula tubuh itu bangkit. Tubuhnya mencari-cari kepingan kepalanya. Setelah lengkap terkumpul hingga utuh berujud kepala, lalu dipasangkan pada tubuhnya.

Setelah tubuh dan kepalanya bersatu lagi, dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Semenjak tadi tak ada orang yang peduli, juga pasangan-pasangan di atas jembatan penyebrangan itu. Acuh. Berteriak-teriak sendirian.

Malin melangkah menuju tanah pekuburan yang dipilihnya sendiri. Malin memasuki pekuburan tanpa diiringi pelayat, tanpa bunga-bunga kematian.

Akhirnya setelah dia menggali liang lahatnya sendiri, Malin mengubur dirinya sendiri. Mengubur keruwetannya. Tanpa doa, dan tanpa isak tangis.

 

Yogyakarta, 31 Desember 1982/1 Januari 1983