satuan-karyaDalam rangka usaha memberikan wujud nyata peranserta Gerakan Pramuka dalam pembangunan nasional, maka dibentuklah wadah pembinaan yang disebut Satuan Karya. Satuan Karya bersama-sama dengan Gugusdepan merupakan tempat berlangsungnya proses pendidikan kepramukaan. Oleh karena itu Satuan Karya memiliki kedudukan strategis dalam usaha pendidikan kepramukaan, utamanya dalam memberikan nilai tambah serta bekal keterampilan bagi Pramuka.

Konsep Satuan Karya

Adalah Sri Sultan Hamengkubowono IX yang mengemukakan gagasan agar Pramuka ikut serta secara langsung dalam kegiatan pembangunan bangsanya yang sesuai dengan aspirasi generasi muda dan dengan kebutuhan masyarakatnya. Gagasan beliau yang dikemukakan pada World Scout Conference ke-23 di Tokyo tahun 1970 itu kemudian dijadikan pijakan bagi Gerakan Pramuka untuk mengembangkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu dengan mengembangkan kegiatan Satuan Karya.

Pada tahap perkembangan pertama, sesuai dengan titik berat pembangunan kita pada Pelita I yaitu pembangunan bidang pertanian, maka pada akhir tahun 1960-an dikembangkan kegiatan Satuan Karya Taruna Bumi yang bergerak di sektor pertanian. Kegiatan Satuan Karya pada saat itu dipandang sangat bermanfaat, bahkan beberapa Kwartir Cabang di Jawa dapat mengirimkan Pramukanya untuk ikut bertransmigrasi ke Lampung. Pada perkembangan berikutnya hingga sekarang, jumlah Satuan Karya bertambah menjadi delapan yang berlaku secara nasional. Ke delapan Satuan Karya (Saka) tersebut meliputi berbagai sektor, antara lain sektor pertanian (Saka Tarunabumi); sektor kamtibmas (Saka Bhayangkara); sektor kehutanan dan lingkungan hidup (Saka Wanabakti); sektor kesehatan masyarakat (Saka Bhakti Husada); sektor kependudukan (Saka Kencana); bidang kedirgantaraan (Saka Dirgantara); bidang kelautan (Saka Bahari); dan bidang bela negara (Saka Wira Kartika).

Pada perkembangannya juga terbentuk satuan karya yang berlaku di daerah tertentu, misalnya Saka Bina Sosial, Saka Kerohanian, Saka Panduwisata, Saka Pekerjaan Umum, Saka Pustaka dan lain sebagainya.

Satuan karya bersama dengan gugusdepan merupakan dua ujung tombak proses pendidikan kepramukaan. Kedua satuan tersebut dalam Gerakan Pramuka disebut sebagai satuan gerak. Disebut sebagai satuan gerak karena harus selalu bergerak terus, bergerak dalam arti menyelenggarakan proses pendidikan kepramukaan. Apabila gerak atau proses pendidikan kepramukaan pada satuan gerak tidak berjalan, maka esensi Gerakan Pramuka sebagai sebuah gerakan tidak mewujud. Artinya Gerakan Pramuka hanya akan menjadi organisasi papan nama.

Konsep yang lain menyebutkan bahwa proses pendidikan dalam satuan karya menitik beratkan pada ranah kognisi dan psikomotor, di samping juga ranah sikap. Hal ini menunjukkan bahwa melalui pendidikan di satuan karya peserta didik dilatih pengetahuan dan keterampilan kejuruan sesuai dengan bidang yang dipilihnya dan bidang itu selaras dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional dewasa ini dan masa mendatang.

Implikasi dari hal tersebut adalah bahwa pencapaian syarat kecakapan umum hanya dapat dilakukan di gugusdepan, tidak di satuan karya. Satuan karya hanya melakukan proses penempuhan syarat kecakapan khusus. Diibaratkan gugusdepan adalah sebuah keluarga dan satuan karya adalah sekolah. Gugusdepan memiliki banyak peserta didik yang minatnya berbeda-beda. Di antara anggota dalam keluarga itu ada yang ingin bersekolah di SMA, SMK atau Madrasah Aliyah. Sepulang sekolah mereka sudah barang tentu akan kembali ke keluarga atau rumah. Begitu pula Pramuka Penegak dalam gugusdepan bisa memilih minat ke satuan karya sesuai pilihannya dan tidak boleh melepas keanggotaannya di gugusdepan, karena di sanalah pencapaian SKU dilakukan.

Permasalahan yang Dihadapi

Berjalannya proses latihan di Satuan Karya merupakan indikator utama konsep satuan karya sebagai satuan gerak. Tidak berjalannya proses latihan Satuan Karya diduga karena beberapa faktor, diantaranya (1) kurangnya Pamong Saka yang benar-benar menguasai materi dan konsep dasar pendidikan kepramukaan; (2) belum tercipta koordinasi yang baik antara Pimpinan Saka Cabang dengan Pimpinan Saka di atasnya (Daerah).

Proses latihan satuan karya dapat berjalan apabila terdapat Pamong Saka yang memadai dari segi kualitasnya, terdapat kurikulum atau program latihan yang hendak dijalankan, serta sarana yang mendukung untuk pelaksanaan latihan dan kegiatan keterampilan.

Kurangnya Pamong Saka yang memahami materi Satuan Karya dan atau konsep dasar pendidikan kepramukaan mempengaruhi kualitas program latihan dan proses latihan. Oleh karena itulah, maka agar proses pendidikan di Satuan Karya dapat berjalan langkah strategis yang perlu ditempuh oleh setiap jajaran Gerakan Pramuka adalah mencari dan menghimpun Pamong Saka yang berkualitas. Pamong Saka yang direkrut bisa berasal dari jajaran Gerakan Pramuka (Pembina Pramuka) atau pegawai instansi terkait, misalnya Satuan Karya Kencana dapat merekrut pegawai BKKBN yang memiliki pengalaman kepramukaan. Pada tahap perekrutan inilah yang perlu dicermati, pengalaman menunjukkan bahwa pegawai yang tidak tahu apa-apa tentang kepramukaan tidak kuasa menolak menjadi Pamong Saka karena merupakan instruksi atasan. Sementara itu, keadaan itu menjadi beban Gerakan Pramuka, utamanya pada kondisi Satuan Karya dewasa ini dimana dibutuhkan Pamong Saka yang siap tempur membenahi dari awal.

Sementara itu sarana latihan Satuan Karya dapat mendayagunakan peralatan yang dimiliki oleh instansi terkait. Hal tersebut dapat terwujud manakala koordinasi intern Pimpinan Saka dan koordinasi antar jajaran Pimpinan Saka sudah berjalan baik. Sejauh ini koordinasi baru terlaksana apabila Gerakan Pramuka dibutuhkan dalam kegiatan seremonial instansi terkait, atau pada acara tahunan peringatan hari jadi instansi yang bersangkutan. Koordinasi yang dilakukan diharapkan menyentuh pada aspek program pembinaan dan keterlaksanaan proses pendidikan di satuan karya.

Sarana Sosialiasi

Kiranya kita sepakat bahwa peserta didik Gerakan Pramuka tidak hanya akan dijadikan sebagai perangkat acara-acara seremonial belaka.

Kita harus memandang satuan karya sebagai salah satu sarana sosialisasi bagi generasi muda, yaitu dalam rangka mensosialiasikan : (1) permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini menurut bidang garapannya masing-masing; (2) kebijakan-kebijakan yang diambil oleh instansi terkait; dan (3) cita-cita serta sikap mencintai bidang garapannya masing-masing, sebagai contoh Satuan Karya Bahari dapat dijadikan sarana untuk mensosialisasikan sikap mencintai kebaharian/kelautan.

Untuk itulah, pada masa mendatang pembinaan Satuan Karya agar lebih mendapatkan perhatian. Alangkah sayangnya, sebuah sarana yang sangat strategis dalam pembinaan generasi muda kita sia-siakan atau hanya sekedar dijadikan sebagai pelengkap acara seremonial saja.

Beberapa langkah yang dapat mewujudkan satuan karya menjadi wahana sosialisasi yang efektif dan efisien bagi generasi muda adalah dengan cara, pertama : melakukan konsolidasi organisasi, dalam hal ini konsolidasi Pimpinan Saka di seluruh jajaran, dan kedua : konsolidasi program, yaitu perlu diterjemahkannya bahasa peraturan tingkat nasional ke dalam kondisi daerah atau cabang serta diwujudkannya program latihan yang secara kontinyu dapat dijamin keterlaksanaannya.

Kiranya usaha-usaha tersebut harus pula dilandasi dengan tekad bahwa usaha itu adalah dalam rangka lebih memberikan makna peran satuan karya dalam pembangunan dan pengembangan bangsa Indonesia. Proses menuju kebermaknaan itulah yang akan mengisi jiwa Pramuka, mengubah konsep keakuan menjadi perilaku bakti. Bakti kepada nusa dan bangsanya.