logo dikbudSemarang (05/02) Mulai tahun ini ujian nasional SMA diintegrasikan dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), artinya hasil nilai ujian nasional sebagai dasar menyeleksi calon mahasiswa perguruan tinggi negeri. Namun tidak untuk peserta ujian nasional pendidikan kesetaraan atau UNPK Paket C. Kenapa?

Paling tidak ada dua alasan pokok kenapa UNPK belum terintegrasi ke dalam SNMPTN.

Pertama, kisi-kisi UNPK Paket C tidak sama dengan kisi-kisi UN SMA. Walaupun Paket C memiliki standar kompetensi lulusan yang sama dengan SMA, sebagaimana diatur dalam Permendiknas nomor 23 Tahun 2006, namun kisi-kisi UNPK yang diterbitkan setiap tahun memiliki perbedaan dengan dengan kisi-kisi UN.

Perbedaan terletak pada indikator dan tingkat kesulitan. Salah satu contoh adalah pada mata pelajaran Bahasa Inggris, pada UN SMA ada soal listening sedangkan pada UNPK Paket C tidak ada. Bagaimana mungkin dua instrumen yang berbeda kisi-kisi dan tingkat kesulitannya akan digunakan untuk mengukur dan menentukan seleksi pada obyek yang sama.

Lulusan Paket C masih bisa memperoleh hak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri dengan jalur ujian tulis mandiri yang diselenggarakan oleh setiap perguruan tinggi negeri, yang menyisakan jatah dari jalur SNMPTN. Jalur seleksi ujian tulis ini dipandang lebih fair, karena setiap calon mahasiswa akan menghadapi soal ujian yang sama. Tidak dibedakan soal ujian antara calon mahasiswa lulusan Paket C dan SMA, semuanya menghadapi soal yang kisi-kisi dan tingkat kesulitannya sama.

Sementara soal UNPK Paket C dan UN SMA jelas beda kisi-kisi dan tingkat kesulitannya.

Alasan kedua adalah alasan administratif, yaitu bahwa peserta UNPK Paket C atau peserta didik pendidikan kesetaraan belum masuk ke sistem Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) yang merupakan basis data yang berisikan rekam jejak sekolah dan prestasi akademik siswanya. Ketentuan umum SNMPTN menyatakan bahwa sekolah yang berhak mengikutsertakan siswanya dalam SNMPTN adalah sekolah yang mempunyai NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan yang mengisikan data prestasi siswa di PDSS.

Persoalannya satuan pendidikan kesetaraan pada jalur pendidikan nonformal belum masuk ke dalam sistem data NPSN dan peserta didiknya tidak memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional).

Dua alasan itulah yang menyebabkan peserta UNPK Paket C tidak bisa terintegrasi ke dalam SNMPTN. Jika pun masalah administrasi dapat diatasi (walau memerlukan jangka panjang dan butuh lobi yang kuat), masih ada satu kendala yang lebih esensial. Yaitu, siapkah peserta ujian nasional Paket C menggunakan kisi-kisi dan tingkat kesulitan yang sama dengan UN SMA?

Penyamaan kisi-kisi dan tingkat kesulitan UNPK dan UN SMA perlu kajian lebih dalam, karena peserta didik Paket C secara agregrat memiliki kemampuan di bawah rata-rata siswa SMA. Memang ada sebagian peserta didik Paket C dari pesekolahrumah (homeschooling) yang memiliki kemampuan akademik sama bahkan di atas siswa SMA. Namun cetak biru program Paket C suka tidak suka memang dibuat setara SMA, bukan dibuat sama dengan SMA.