jacob moeselPangeran Mangkubumi menerima tawaran damai Belanda bersyarat. Gubernur Jenderal VOC Jacob Moesel menyetujui persyaratan Mangkubumi yaitu setidak-tidaknya seperti jaman Sunan Paku Buwana I. Inilah titik terang yang dinanti yaitu perjuangan politik jalur damai. Revolusi dengan kekuatan perang benar-benar dibutuhkan. Namun menang perang bukanlah tujuan. Tetapi kembalinya tahta mataram untuk kemerdekaan, perdamaian dan kemakmuran rakyat. Itulah inti pewujudan pesan amanat yang diemban.

Menjelang akhir tahun 1754 terlaksanalah pertemuan awal di Pedagangan Grobogan. Pihak Belanda diwakili oleh Hartingh Gubernur Semarang. Kesepakatannya Mataram dibagi dua, merujuk pada masa Demak-Pajang. Penguasa yang satu bergelar  Sunan, yang lain bergelar Sultan. Uang sewa pesisir utara 20.000 real tiap tahun gantian diserahkan kepada Mangkubumi. Hartingh usul agar Mangkubumi menguasai belahan timur Mataram. Alasannya, Jawa Timur adalah daerah perlawanan Mangkubumi. Usulan itu ditolak. Mangkubumi ingin ibu kota Kasultanannya di tanah pusaka leluhur yaitu Mataram di Jawa Tengah. Hartingh setuju, asal Mangkubumi tidak menuntut daerah pesisir utara laut Jawa.  Awalnya Hartingh juga ingin Mangkubumi memilih gelar lebih rendah dari Sunan. Tetapi ternyata yang dipilih justru lebih tinggi yaitu Sultan.

GiyantiPerjanjian resmi sepakat akan dilaksanakan beberapa bulan kemudian di Desa Giyanti, sebelah timur Jatisari. Perjanjian itu bukan antara Mangkubumi dan Paku Buwana III, karena kedaulatan kerajaan berada di tangan belanda. Mengingat pesan ayahandanya sebelum wafat, Sunan menyambut gembira rencana perjanjian itu. Patih Pringgalaya dilibatkan mewakili kerajaan. Kelak setelah perjajian terlaksana, Sunan Paku Buwana III beserta rombongan istana akan dihadirkan untuk menyaksikan pengukuhan Mangkubumi menjadi Sultan.

naskah perjanjian giyantiSeperti perundingan awal di Purwodadi, pembicaraan kali inipun panas alot. Gubernur masih ingin menekan Mangkubumi agar jangan terlalu berdaulat. Maunya hanya ditawarkan dua pilihan corak kontrak yaitu Kontrak Amangkurat IV atau Kontrak Paku Buwana II.

Di luar dugaan, Mang kubumi tegas menolak keduanya yang lebih menguntungkan Belanda. Hartingh diingatkan agar mematuhi Gubernur Jenderal Batavia, yaitu corak kontrak Paku Buwana I.

Hartingh tidak berkutik. Setelah pembicaraan rumit sejak tanggal 8 Februari, akhirnya tanggal 13 Februari 1755 perundingan menghasilkan keputusan dan ditandatangani. Perjanjian ini dikenal sebagai Perjanjian Giyanti. Dengan perjanjian ini lahirlah Keraton Yogyakarta.

Bagian paling bernilai dari perjanjian ini adalah batalnya perjanjian  akhir hayat Sunan Paku Buwana II, tanggal 11 Desember 1749. Pelimpahan kedaulatan negara kepada Belanda tidak berlaku lagi. Meskipun tidak sempurna seperti yang diharapkan, Pangeran Mangkubumi merasa lega. Kesanggupan mengemban amanat Kakanda Sunan Paku Buwana II sebagian sudah terwujud. Betapa tidak mudahnya mengupayakan kembalinya kedaulatan Mataram dari tangan Belanda.

Sesuai rencana, sepekan sesudah perjanjian Giyanti Gubernur mempertemukan Sunan Paku Buwana III dengan Mangkubumi di Jatisari. Dalam perhelatan itu Belanda melantik Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwana I. Nama Kasultanannya adalah Ngayogyakarta Hadiningrat. Sekarang Paman dan kemenakan telah bersanding sejajar. Sunan Paku Buwana III mengadiahi Sultan Hamengku Buwana I keris Kanjeng Kyai Kopek warisan Sunan Kalijaga dan pusaka-pusaka penting lainnya seperti tombak Kyai Pleret, serta perangkat gamelan. Berbagai kelengkapan kelayakan sebuah kerajaan juga diserahkan kepada Sang Paman. Tetapi, dengan dinobatkan menjadi raja,  sudah tuntaskah perjuangan Pangeran Mangkubumi? ***

P Jawa Setelah Perjanjian Giyanti

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan