foto 25 agt 05 066Yogyakarta (25/04) Suatu ketika pada saat pertemuan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA (Dit PSMA), seorang guru melontarkan gagasan bahwa Kejar Paket C harus berkualitas. Akhmad Supriatna praktisi Paket C lantas menyela “Kalau Paket C berkualitas, lulusan SMP lari ke Paket C lalu SMA tidak laku gimana Pak?”. Pernyataan yang menggelitik. “Paket C itu yang penting bermartabat, kualitasnya biasa-biasa sajalah. Jangan dibikin seperti sekolah mengikuti berbagai standar nasional”.

Diskusi itu terjadi pada saat tahun pertama Paket C ditarik pengelolaannya ke Dit PSMA Ditjen Dikmen. Sampai sekarang tim Paket C jika tampil masih menjadi sorotan, karena selalu menyampaikan masalah-masalah aktual yang dihadapi di lapangan dengan bahasa kocak dan segar. Tidak sedikit setiap akhir presentasi mendapatkan aplus yang panjang, karena berhasil membukakan mata dan pencerahan pada kalangan pendidikan formal tentang Paket C.

Hampir sebagian besar warga belajar mengikuti Paket C karena motivasi mendapatkan ijazah setara SMA. Betul? Ya betul. Silahkan saja ditanyakan pada setiap warga belajar Paket C. Ijazah, ya mendapatkan ijazah adalah tujuan mereka mengikuti Paket C. Tidak sedikit masyarakat yang ingin mendapatkan ijazah dengan cara yang cepat atau instan. Mendaftar Januari, April bisa ikut UNPK.

Ibarat mekanisme pasar. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan, pada terciptalah bisnis baru yang disebut pendaftaran ujian nasional pendidikan kesetaraan. Dengan lugas banyak lembaga yang menawarkan menerima peserta UNPK, bukannya menerima warga belajar Paket C. Jadi bukan menerima peserta didik baru, layaknya satuan pendidikan. Tapi menerima peserta UNPK, ya… itu tadi, daftar Januari, April sudah bisa ikut UNPK.

Bisnis UNPK ini sudah beberapa tahun berkembang, dan sudah merambah berbagai kota di Indonesia. Bahkan melibatkan para oknum di Dinas Pendidikan. Tapi ibarat kentut, baunya terasa tapi ujudnya tidak ada. Bisnis UNPK ini juga bisa dicium, tapi sulit untuk membuktikannya. Karena peserta UNPK yang dijanjikan lulus kecil kemungkinan membuka aib, kecuali sudah membayar tapi tidak lulus ujian.

Berangkat dari fakta di atas, maka sebaiknya pengelolaan Kejar Paket C bermartabat saja. Jika dituntut berbagai standar nasional sangat sulit. Paling tidak standar isi dan standar proses terpenuhi. Pembelajaran diorientasikan pada tutorial. Ingat, bahwa berdasarkan standar proses pembelajaran tutorial minimal 30%. Tatap muka cukup minimal 20% saja. Artinya pembelajaran Paket C bisa dititikberatkan pada tutorial yaitu pembahasan soal, agar pada saat ujian semester dan UNPK bisa mengerjakan soal. Dan lulus, tanpa melakukan kecurangan.

Jadi sebenarnya standar proses sudah mengarahkan agar pembelajaran Paket C diorientasikan pada tutorial. Persoalannya, banyak dari penyelenggara Paket C yang belum memahami standar proses. Boleh jadi dokumen standar proses pun tidak punya.

Padahal menyelenggarakan Paket C tidak harus berkaca pada SMA. Karena formatnya memang beda, infrastrukturnya berbeda, dan dukungan sumber daya manusianya berbeda. Tuduhan Paket C dibawa seperti SMA, adalah tuduhan yang tidak berdasar dan belum membaca standar isi dan standar proses yang sekarang menjadi acuan bagi Dit PSMA dalam membina dan mengembangkan Paket C.

Sejak dihapuskannya ujian persamaan SMA pada tahun 2003, mengikuti Paket C adalah satu-satunya cara bagi masyarakat untuk mendapatkan ijazah setara SMA. Namun yang harus kita budayakan adalah menyelenggarakan Paket C cukup dengan bermartabat. Proses pembelajaran berjalan, tidak harus tiap hari seperti SMA. Pembelajaran tidak semua tatap muka seperti SMA. Perbanyak tutorial yang kegiatan pembelajaran mirip-mirip bimbingan belajar sehingga warga belajar tidak akan jenuh dan tidak menyita waktu, karena banyak warga belajar yang sudah bekerja.