Yudhis-BelajarYogyakarta (30/01/2014) Sebagian sekolahrumah (homeschooling) dan bahkan Paket C serta pendidikan kesetaraan lainnya menggunakan pendekatan pembelajaran jarak jauh atau melaksanakan pembelajaran secara online. Bagaimana keabsahan penyelenggaraan pendidikan jarak jauh yang dilakukan sekolahrumah dan pendidikan kesetaraan lainnya?

Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010, yaitu pada Bab VI pasal 118 sampai dengan 126. Pendidikan jarak jauh sebagaimana diatur dalam pasal 118 ayat 2 mempunyai karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar tuntas, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi pendidikan, dan/atau menggunakan teknologi pendidikan lainnya. Ketentuan tersebut menekankan bahwa pembelajaran jarak jauh utamanya menggunakan teknologi informasi dan komunikasi pendidikan, atau melalui media online.

Pada bagian lain, yaitu pasal 119 ayat 1 diatur bahwa pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Artinya pendidikan kesetaraan yaitu Paket A, Paket B dan Paket C serta sekolahrumah diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, atau menggunakan media online.

Adapun penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dilaksanakan sesuai Standar Nasional Pendidikan dengan (a) menggunakan moda pembelajaran yang peserta didik dengan pendidiknya terpisah; (b) menekankan prinsip belajar secara mandiri, terstruktur, dan terbimbing dengan menggunakan berbagai sumber belajar; (c) menjadikan media pembelajaranĀ  sebagai sumber belajar yang lebih dominan daripada pendidik; dan (d) menggantikan pembelajaran tatap muka dengan interaksi pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, meskipun tetap memungkinkan adanya pembelajaran tatap muka secara terbatas.

Pembelajaran jarak jauh diperbolehkan menggantikan pembelajaran tatap muka, dan juga tutorial. Persoalannya dalam standar proses pendidikan kesetaraan, diatur bahwa pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tutorial peserta didik hadir di dalam kelas (periksa kegiatan pendahuluan pada pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tutorial sebagaimana diatur dalam Permendiknas nomor 3 Tahun 2008). Apakah ini tidak bertabrakan dengan antara ketentuan pembelajaran jarak jauh dengan standar proses pendidikan kesetaraan?

Tidak bertabrakan. Jika pelaksanaan pembelajaran jarak jauh melalui internet dikemas melalui pembelajaran online. Melalui aplikasi yang khusus untuk pembelajaran online, pendidik yang berada terpisah bisa mencatat kehadiran peserta didik. Jadi pendidik dan peserta didik berada pada ruang waktu yang sama, hanya berbeda ruang tempatnya. Di dalam pembelajaran online dipersyaratkan adanya interaksi langsung melalui media online antara pendidik dan peserta didik.

Sementara itu, ada penyelenggara sekolahrumah komunitas dan Paket C yang mengklaim melakukan pembelajaran jarak jauh tetapi hanya memposting materi atau bahan ajar di internet. Peserta didik sewaktu-waktu dapat membaca. Pendidik memindahkan bahan ajar cetak ke media internet, artinya peserta didik hanya membaca saja tanpa ada interaksi dengan pendidik. Jika ini yang terjadi, sama saja peserta didik melakukan proses belajar mandiri. Biasanya baca buku cetak, yang ini baca melalui media internet.

Padahal standar proses pendidikan kesetaraan (Permendiknas Nomo 3 Tahun 2008) mengisyaratkan belajar mandiri maksimal adalah 50%. Nah, jika semua materi pelajaran diunggah di internet kemudian peserta didik diminta untuk membaca sewaktu-waktu sama saja melaksanakan 100% belajar mandiri. Dan ini hukumnya haram.

Dengan demikian pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan sekolahrumah dan pendidikan kesetaraan adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara online bukan sekedar memindahkan materi pelajaran dari buku ke internet. Peserta didik dan pendidik harus ada dalam ruang waktu yang sama.

Sumber foto: http://rumahinspirasi.com/merefleksikan-homeschooling-yudhis-di-tahun-2013/

Klik untuk mengunduh Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 dan Permendiknas Nomor 3 Tahun 2008.