gejayan_1Sampai tahun 2000-an Jalan Gejayan Yogyakarta, sekarang disebut  dengan Jalan Affandi, masih marak dengan kios fotokopi. Era tahun 1980-an sampai 2000-an menjadi jaman keemasan bisnis fotokopi sehingga kios fotokopi bak jamur di musim hujan dan banyak dijumpai di setiap penjuru kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Tak luput sepanjang jalan Gejayan banyak kios fotokopi bertebaran melayani kebutuhan mahasiswa.

Maraknya bisnis fotokopi di sepanjang jalan Gejayan saat itu di dukung oleh keberadaan berbagai kampus negeri maupun swasta di seputaran jalan Gejayan. Sebut saja IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), IKIP Sanatha Darma (sekarang Universitas Sanatha Darma), Universitas Atmajaya, Universitas Islam Indonesia kampus Demangan dan beberapa kampus lainnya.

gejayan_2Namun demikian, saat ini di tahun 2012 kios fotokopi di sepanjang jalan Gejayan (atau jalan Affandi) bisa dihitung dengan jari. Salah satu kios fotokopi yang masih bertahan adalah “Caroline Fotokopi” yang berada di selatan mulut gang Bougenvill, Gejayan. Kios fotokopi yang dulu berjajar di sepanjang jalan Gejayan hilang bak ditelan bumi.

Di samping kios fotokopi “Caroline” yang masih setia melayani mahasiswa dengan kondisi kios seperti dahulu kala, muncul dua pusat fotokopi dengan skala besar yang masih bertahan. Pusat fotokopi tersebut berada di sisi timur Jalan Gejayan selatan Selokan Mataram, yaitu Istana Fotokopi. Satu lagi ada pusat fotokopi di selatan Kantor Pos Karangmalang. Kedua pusat fotokopi tersebut melayani pelanggan dengan konsep modern menggunakan mesin fotokopi yang canggih, bahkan ruangan pelayanan pelanggang ber-AC.

gejayan_3Hilangnya kios fotokopi di jalan Gejayan berganti dengan pemandangan konter handphone yang berjajar rapi di sisi barat dan timur jalan Gejayan. Ketika handphone menjadi gaya hidup dan kebutuhan masyarakat peluang ini ditangkap dengan jeli oleh sebagian kalangan untuk mendirikan conter handphone baik berupa jual beli perangkat, asesoris maupun layanan service. Konter handphone baik dalam skala kios yang tidak ber-AC sampai menggunakan penyejuk ruangan (AC) bertebaran mulai dari selatan SMA Gama (Tiga Maret) sampai ujung utara jalan Gejayan mendekati  jalan lingkar utara Yogyakarta.

Kios fotokopi kini sebagian bergeser masuk ke kampung, misalnya di kawasan kos-kosan Karangmalang dan Mrican. Itu pun jumlahnya tidak banyak.

Fenomena surutnya bisnis fotokopi di sepanjang jalan Gejayan disamping karena faktor maraknya bisnis handphone juga dipengaruhi karena kebutuhan fotokopi mahasiswa berkurang. Berkurangnya kebutuhan fotokopi dikarenakan pengaruh era digital, di mana banyak bahan kuliah yang bisa diakses secara digital. Bahkan tugas kuliah pun dikumpulkan secara digital melalui email.

gejayan_4Seiring dengan meningkatnya fashion sebagai gaya hidup, kini di Jalan Gejayan mulai muncul gerai pakaian, tas dan sepatu. Gerai fashion, mulai dari yang sederhana sampai yang ber-AC tumbuh di beberapa titik di sepanjang Jalan Affandi. Dan gerai fashion, yang harganya relatif terjangkau, ini mulai ramai dikunjungi pelanggan yang rata-rata usia mahasiswa.

Pada tahun 1980-an ketika saya kuliah, yang kampusnya berada di jalur Gejayan, belum ada gerai fashion karena mahasiswa waktu itu fashion bukan menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa kala itu uang kiriman dari kampung hanya cukup untuk makan dan fotokopi, itu pun pas-pasan. Tapi sekarang seiring dengan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat, mahasiswa yang kuliah tidak sekedar menuntut ilmu tapi juga ingin tampil trendy mengikuti gaya hidup.

Dan tampaknya jalan Gejayan yang resminya bernama Jalan Affandi – sebagai penghormatan kepada pelukis legendaris Indonesia yang semasa hidupnya tinggal tidak jauh dari Jalan Gejayan- yang bergeser dari pusat kios fotokopi menjadi pusat handphone tidak mustahil pada waktu mendatang akan menjamur menjadi pusat gerai fashion. Kita tunggu saja.