sudijartoSemarang (17/07) Pada hari Senin lalu (15/07) Sudijarto, pamong belajar SKB Kota Yogyakarta, memposting status di facebook grup Ikatan Pamong Belajar Indonesia dengan nada penuh galau: “Insentif PB… oh insentif???” Ungkapan kegalauan yang penuh tanda tanya bagi pamong belajar, karena pernyataan atau pertanyaan yang multi makna. Kontan saja mendapat respon beragam dari jamaah fesbukiyah di grup Ikatan Pamong Belajar Indonesia.

Selang beberapa menit dari posting status di facebook, Sudijarto inbox saya bunyinya penuh nada kegalauan. Tak kalah kalau dengan statusnya. Dalam inbox yang dibumbui dengan gosip atau issue panas menyatakn bahwa insentif pamong belajar dan penilik tahun depan tidak ada karena menyalahi regulasi. Saya diminta untuk mengkonfirmasi jalan keluarnya. Membaca inbox tersebut saya senyum-senyum sambil membayangkan pasti kepala bidang Sudijarto semakin cerah ketika sedang galau seperti ini.

Kegalauan ini wajar, karena saya melihat dalam waktu terakhir ini banyak pamong belajar yang gelisah dan gelisah terhadap nasibnya. (Baca: kesejahteraannya yang sudah jauh kalah jauh dengan guru). Tapi rasa kegalauan ini hendaklah didudukkan dalam porsinya. Toh perjuangan belum berakhir, dunia belum kiamat. Selama nyi amat masih ada, yakinlah dunia belum kiamat.

Karena saya masih merasa sebagai salah satu anggota Dewan Penasehat DPP IPABI, maka saya jawab dengan sepenuh hati: “…kalau yang itu saya sudah lama dengarnya. Memang insentif tidak ada regulasinya. PB dan penilik adalah PNS, tidak benar mendapatkan insentif. Saya dulu ketika masih Ketum IPABI menjadikan hal ini sebagai posisi tawar tunjangan fungsional. Kami sudah sepakat jika tunjangan fungsional diteken, insentif memang akan dihapus. Itu sudah final.”

Memang jumlah insentif memang tidak seberapa. Masalahnya bukan pada jumlahnya, tapi regulasinya memang tidak ada yang mendasari pemberian insentif. Justru pihak direktorat, sejak masih Direktorat PTK PNF, mati-matian memperjuangkan keberadaan insentif ini. Bahkan pada tahun 2012 insentif pamong belajar hampir sama sekali tidak ada. [Baca tulisan ini: Insentif Pamong Belajar (Semoga) Datang Juga].

Karena itulah sudah menjadi kewajiban bagi Ikatan Pamong Belajar Indonesia untuk memastikan bahwa tunjangan fungsional pamong belajar pada tahun 2014 sudah bisa dinikmati oleh pamong belajar. Sehingga ketika insentif yang memang tidak ada lagi, tidak ada lagi kegalauan di antara kita.

Di sisi lain, kita harus sepakat jika memang insentif tidak ada dasar hukumnya pamong belajar harus berpikir positif bahwa itu memang bukan hak kita. Kecuali kita akan masuk pada golongan yang selalu dibelaskasihani. Bukan golongan yang wajib mendapat reward karena kewenangan jabatannya. Jabatan yang dilaksanakan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Salam satu hati!