pembudayaan-publikasi-karya-ilmiahKementrian Pendidikan dan Kebudayaan tetap bertahan pada kebijakan mewajibkan mahasiswa S1, S2 dan S3 untuk mempublikasikan karya ilmiahya di jurnal ilmiah. Bahkan berbagai skema dukungan program kerja dari Ditjen Pendidikan Tinggi disiapkan guna mendukung kebijakan tersebut. Di antaranya memberikan bantuan kepada perguruan tinggi untuk penerbitan jurnal ilmiah dan pengadaan website jurnal ilmiah.

Kesimpulan awal yang diperoleh dari alasan pewajiban publikasi karya ilmiah masih sebatas pada angka statistik yang menyatakan bahwa publikasi ilmiah Indonesia masih sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan sesama negara-negara berkembang pun. (Lihat grafis). Jurnal ilmiah nasional sulit berkembang, karena kurang ajegnya pasokan karya tulis. Ranking jumlah publikasi Indonesia semakin rendah, dengan semakin banyaknya negara yang memacu jumlah publikasi dalam beberapa tahun terakhir ini.Alasan inilah yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan jumah publikasi karya ilmiah agar sejajar dengan negara lain.

Walaupun alasan pertama yang dijadikan acuan adalah angka-angka statistik dan perbandingan berbagai negara. Namun demikian, sebenarnya kebijakan pewajiban publikasi karya ilmiah ini bisa mendorong budaya baca, budaya tulis, budaya jujur, budaya berbagi, budaya menghargai orang lain, dan budaya analitik.

Orang akan lancar menulis jika kaya akan konsep dan pengetahuan, dan kekayaan tersebut hanya akan banyak diperoleh jika memiliki budaya baca yang tinggi. Sangat naif seseorang yang tidak memiliki budaya baca akan mampu menulis dengan baik. Menulis sebagai kemampuan berbahasa selalu diawali dengan kemampuan membaca. Sebagaimana kemampuan berbicara yang baik diawali oleh kemampuan mendengar yang baik pula. Tulisan seseorang akan kaya jika membaca banyak hal dari berbagai sumber.

Publikasi karya ilmiah akan mendorong seseorang untuk bertindak jujur karena tulisannya dibaca oleh banyak orang. Terlebih lagi jika dimuat di media online akan semakin memudahkan banyak orang untuk mengakses karya ilmiahnya. Dewasa ini plagiarisme semakin marak, bahkan tidak hanya oleh mahasiswa tetapi juga dosen. Sebagian oknum dosen yang melakukan plagiarisme karena didorong tuntutan naik pangkat denganmemperoleh angka kredit. Terkait dengan plagiarisme ini pemerintah sudah menjatuhkan sanksi, bahkan terdapat profesor yang dicopot jabatannya karena kasus plagiarisme.

Publikasi karya ilmiah akan membentuk budaya menghargai orang lain, karena dalam setiap penulisan yang mengutip atau bersumber dari karya lain harus mencantumkan sumbernya. Ketika penulis mencantumkan nama sumber saat menguatkan argumentasi tulisannya, secara sadar atau tidak penulis itu sudah menghargai karya dari nama sumber itu.

Namun demikian, pewajiban publikasi karya ilmiah bagi mahasiswa ini masih menuai protes. Terutama terkait infrastruktur yang belum siap, yaitu kesiapan perguruan tinggi menyediakan media cetak maupun media online guna menampung karya ilmiah mahasiswa. Ketidaksiapan infrastruktur ini bisa jadi akan memakan korban yang menjadikan tingkat kelulusan semakin lama. Begitu pun ada kekhawatiran adanya korban mahasiswa yang tidak mampu untuk menulis, dan akhirnya memesan karya tulis pada pihak lain.

Bisa jadi biro jasa bimbingan skripsi akan memasang tarif yang lebih mahal ketika pemesan sekaligus meminta untuk dibuatkan publikasi karya ilmiah. Pada bagian ini masyarakat Indonesia memang paling pandai mensiasati dan pandai membaca peluang. Jika ini terjadi maka tujuan mengembangkan budaya analitik mahasiswa (salah satunya) melalui publikasi karya ilmiah akan gagal.